• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Jika sebelumnya mungkin kita pernah mendengar kampung tridi atau kampung warna-warni di Jodipan, ternyata masih di pulau Jawa namun sedikit bergerek ke barat kita juga disuguhk perkampungan warna-warni ini lagi. Bernama Kampung Pelangi, bangunan warna-warni yang terletak tidak terlalu jauh dari objek wisata Lawang Sewu ini ternyata berhasil menyulap perkampungan kumuh menjadi objek wisata dan sempat viral di social media loh. 

 Hello selamat datang di Kampung Pelangi

Saya sendiri berkunjung ke tempat ini sekitar akhir bulan Juni, jujur waktu itu saya belum dengar perihal keberadaan perkampungan ini dan memilih Semarang sebagai destinasi liburan lebih ke pemikiran saya yang "ih udah lama ya ga ke Semarang". Saya kemudian memutuskan untuk membeli tiket kereta menuju Tawang dan voila jadi juga jalan-jalan akhir pekan di Semarang. Terakhir ke Semarang sepertinya sekitar 7 tahunan lalu dan itupun hanya mampir seharian tanpa menginap sama sekali. Ketika itu hanya berkunjung ke rumah teman dan menghabiskan sore hari di rumah makan yang juga memiliki tempat pemancingan yaitu kampung laut.

Beruntung kali ini saya ditemani seorang teman yang memang tinggal di Semarang dan seorang teman yang memang janjian untuk berakhir pekan di Kota Lumpia ini. Buat yang tidak menyewa kendaraan seperti saya, pergi ke Kampung Pelangi ini juga terbilang mudah loh hanya dengan mencari taksi di pinggir jalan atau memesan taksi online juga bisa jadi pilihan. Saya sendiri sih lebih memilih taksi online sehingga saya bisa tau ongkos yang memang harus saya keluarkan untuk menuju ke tempat tersebut sedari awal.

Dinding satu rumah memiliki lebih dari 3 warna sekaligus

Kami diturunkan di sebrang lokasi, perkampungan ini memiliki lokasi persis di belakang jejeran penjual rangkaian bunga di jalan Dr. Sutomo IV. Berbeda dengan Jodipan dimana perkampungannya berada di sebuah lembah atau dataran yang lebih rendah, Kampung Pelangi Semarang ini berada di dataran yang lebih tinggi atau semacam bukit. Jalanan masuk ke kawasan ini juga 4 pintu berbeda yang masing-masing memiliki jembatan untuk menghubungkan jalan raya dengan daerah perkampungan.

Lihat kubah mesjid yang ikutan warna-warni juga? 

Kota Pelangi di tengah-tengah kota Semarang 

Yang menarik, setiap jalanan menanjak yang ada dari 4 jalur berbeda ini memiliki material jalanan yang berbeda. Satu jalur merupakan jalanan aspal mulus hingga ke pemukiman atas, satu jalur lain dengan alas konblok persegi panjang di sepanjang jalurnya, satu jalur memiliki jalanan bertangga untuk orang dan jalanan konblok yang dapat dilalui sepeda atau motor serta konblok berbentuk segi enam dan satu jalur lagi yang beralaskan "batu-batu" persegi yang disusun dan diberi semen di sekitarnya. Untuk melihat perbedaan keempat permukaan jalanan ini bisa dilihat di video di akhir artikel ini.

 Ini si jalanan tangga plus jalur motor yang saya ceritakan

Kalo di Jodipan terdapat beberapa mural yang sifatnya tiga dimensi, di sini seperti saya sempat menemukan hal yang serupa namun masih terhitung jari. Sisanya adalah gambar-gambar karya seniman dadakan dari kampung mereka. Tidak hanya tokoh-tokoh terkenal seperti Sponge bob, Shinchan dan Angry birds, tapi ada juga tokoh lokal seperti beberapa tokoh pewayangan.





Mesjid yang berada di perkampungan tersebutpun tidak ikut ketinggalan ambil andil dalam pengubahan citra perkampungan kumuh menjadi perkampungan wisata ini loh, setidaknya ada 2 tempat ibadah yang saya temukan di daerah ini, yang satu merupakan mushola yang dinding-dinding luarnya dicat warna warni dan satu lagi sebuah mesjid yang kubahnya juga ikut bersolek dengan cat warna-warni.

 di tahun 2017, say amasih nemuin wartel alias warung telekomunikasi, ihh wawww

Mas Tegaaaaa....

Berubahnya perkampungan ini menjadi Kampung Pelangi, sedikit banyak membantu perekonomian warga. Tidak sedikit dari beberapa warga yang kemudian membuka warung kecil-kecilan untuk berjualan makanan, minuman hingga kerajinan tangan atau cendera mata. Salah satu penjaja minuman dingin yang saya temui berujar, "Ini sih baru mulai awal tahun ini aja mba (adanya kampung pelangi) dan alhamdulillah semakin ke sini semakin ramai jadi pemasukan juga bertambah". Ibu ini juga menjelaskan beberapa program yang sengaja dibuat oleh ketua masyarakat sekitar bahwa saat itu sedang ada lomba mempercantik tong penampung air yang hampir dimiliki setiap rumah di sana. "Ada lombanya warna-warniin tong air, itu ada mading" lanjut si Ibu. Weehhh kalo dipikir-pikir udah lama juga saya ga melihat "mading" warga yang isinya info-info tentang penduduk setempat, seru banget ya. 

Menurut si Ibu itu juga, kali yang ada di depan jalur masuk perkampungan akan diperlebar dan dipercantik. Jadi ga sabar buat lihat perubahan lain lagi yang ada di Kampung Pelangi ini 6 bulan ke depan. Kalian ada yang sudah mampir ke sini juga?


Share
Tweet
Pin
Share
22 comments
Wajah Cantik Dinding Bogota

Saya masih terkapar kelelahan akibat perjalanan selama 9 jam untuk sampai ibu kota Kolombia, Bogota. Saat itu pukul 8 pagi dan host couchsurfing mempersilakan saya untuk beristirahat sebelum ia berangkat kerja. 

Kedatangan saya ke Bogota demi bertemu teman lama yang hampir tiga tahun tak bersua. Kebetulan ia baru akan sampai sehari setelah kedatangan saya. Oleh karena itu, hari pertama ini saya bebas berjalan-jalan sendirian. Tipikal orang yang tak punya rencana perjalanan saya pun bingung bagaimana caranya menghabiskan waktu di kota terbesar kedua di Amerika Selatan tersebut.

Seorang teman membisikan ide untuk mengikuti free walking tour di daerah Candileria. Berbekal informasi google, salaha satu tema walking tour yang ada adalah melihat-lihat grafitti dan mural. Waktu menunjukan pukul 11, saya pun langsung menghubungi Bogota Grafitti Tour yang memiliki jadwal tour pukul 2 siang.


Saya buta soal mural dan grafitti. Lebih tepatnya saya acuh akan karya seni yang satu ini. Namun, persepsi tersebut berubah ketika tour baru berjalan 30 menit. Saya jatuh cinta dan menikmati apa yang dirasakan oleh indera penglihatan ini.

Dipandu oleh Jay, kami berkeliling area Candileria yang penuh oleh kreasi tangan-tangan artis Kolombia maupun dari negara lain. Jay bilang setidaknya artis dari Australia, Amerika Serikat, Ekuador, dan beberapa negara lain yang saya lupa namanya gemar datang ke Bogota untuk berkreasi.

Cantik. Satu kata yang merepresentasikan karya seni tersebut. Tabrak warna antara cat dan tembok bangunan sangat memanjakan mata.



Umumnya karya seni yang ada sepanjang Candeleria mengangkat tema terkait masyarakat pribumi benua Amerika, khususnya Kolombia. Jay bilang tema di wilayah tersebut jauh dari politik. Maklum, memang wilayah ini sangat tourist friendly jadi sebisa mungkin tidak mengangkat isu sensitif.

Kemudian kami melangkah ke Calle 26. Di sinilah tema "berat" berada. Artis yang ingin mengeluarkan uneg-unegnya tentang kondisi sosial dan politik bebas berekspresi. Umumnya mereka menyindir soal cara pemilu yang tidak memihak rakyat pedesaan, atau soal bisnis pariwisata yang merupakan bentuk lain dari perbudakan. Ada juga yang menganggap kopi yang menjadi komoditas andalan Kolombia tidak memberikan manfaat banyak bagi para petani. 



Tour berakhir pukul 4.30 sore. walaupun pakai embel-embel "free walking tour", namun sejak awal Jay sudah menekankan kalau peserta yang lalu biasanya memberikan donasi sebesar 20-30 peso Kolombia atau sekitar 100-150 ribu rupiah. Saya tidak pernah merasa sepuas itu menghabiskan uang untuk sebuah tour. 

Jadi kalau berniat mengenal Bogota lebih jauh saya sih merekomendasikan untuk ikut grafitti dan mural tour ini.

Tulisan ini merupakan guest post dari Efi Yanuar, thank you udah meramaikan geretkoper :3













Baca keseruan perjalanan Efi di Kolombia di Blognya raunround.wordpress.com jangan lupa follow IGnya juga yaa @efi.yanuar 


Share
Tweet
Pin
Share
24 comments
Di beberapa social media pribadi saya, jika beberapa dari kalian ada yang follow social media saya, mungkin pernah beberapa kali saya share tentang bagaimana saya bahagia dan amat terbantu dengan transportasi di Sydney yang sungguh reliable. Well, gimana engga? jadwal bisa dicek di apps, tujuan tiap bus titik berhenti bisa dicek di apps, historikal penggunaan kartu opal bisa dicek, dan yang paling terpenting dari itu semua sebenarnya adalah jangkauan dari transportasinya. Sebagian besar objek wisata di Sydney dan sekitar dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum, mulai dari bis, kapal feri, tram, hingga kereta. Sebagai salah satu yang beruntung bisa merasakan tinggal di daerah ini selama setahun, hal tersebut tentunya banyak membantu saya mengunjungi tempat-tempat seru.

Selain ke objek-objek wisata utama Sydney, tempat lain yang juga ga kalah menarik untuk dikunjungi adalah mercusuar atau lighthouse yang cukup banyak tersebar di negara bagian New South Wales terutama di sekitar Sydney. Berikut ini beberapa mercusuar/ lighthouse yang bisa kalian kunjungi saat berkunjung ke Sydney, Australia.

1. Hornby Lighthouse
Hornby Lighthouse

Mercusuar Hornby ini sebenarnya adalah mercusuar pertama yang saya ingin kunjungi dari daftar mercusuar lain yang saya miliki. Kenapa? karena warna mercusuar ini beda dibandingkan dengan yang lain. Umumnya lighthouse yang saya ketahui berwarna putih, misalnya seperti mercusuar di Pulau Lengkuas, Belitung. Namun Hornby ini beda, warnanya merah dan putih dan percaya apa engga waktu pertama kali saya lihat mercusuar ini mengingatkan saya dengan tenda sirkus.

Meskipun ini merupakan mercusuar pertama yang sedari awal ingin saya kunjungi di Sydney, kenyataannya saya malah baru ke sini di bulan ke tujuh saya tinggal di Sydney. Padahal untuk menuju ke tempat ini tidak sulit bahkan ada dua jenis transportasi umum yaitu kapal feri dan bis yang bisa mengantar kalian ke lokasi terdekat dan kemudian disambung dengan trekking ke puncak. Kalo dibandingkan dengan mercusuar yang lain, Hornby lighthouse ini jauh lebih pendek yang ternyata memang sengaja dibuat seperti itu karena letak si mercusuar yang sudah tinggi di atas bukit. Hornby lighthouse ini terletak di Watsons Bay dan masih di dalam area Sydney Harbour National Park.

2. Barrenjoey Lighthouse

Sama seperti Hornby, tinggi mercusuar Barrenjoey juga tidak seperti mercusuar kebanyakan. Lagi-lagi karena letak si mercusuar ini yang sudah di atas bukit, bahkan sepertinya bukitnya lebih tinggi dari tempat mercusuar Hornby berada. Perjalanan menuju Palm Beach, tempat di mana mercusuar ini berada juga lumayan jauh dan harus saya tempuh kurang lebih 2 jam setengah dari Sydney CBD dengan menggunakan bis. 2 jam perjalanan tersebut murni karena jaraknya yang jauh bukan karena macet di jalan loh, kebayang capenya deh melihat supir bis yang ga kunjung berhenti, hahahaha. 

Trekking menuju Barrenjoey lighthouse menurut saya juga termasuk menantang karena di beberapa titik akan ada path dengan sudut kemiringan hingga 50 derajat. Menyerah di tengah jalan? please jangan karena trust me semua perjuangannya akan terbayar begitu kalian sampai di atas dan melihat keindahan dari atas Barrenjoey Head. Bahkan menurut informasi ada salah satu sudut Barrenjoey head yang biasa digunakan pengunjung untuk melihat paus saat masanya migrasi *kayaknya pas musim dingin deh*. Ah iya, ternyata bangunan mercusuar yang ada saat ini sudah "dipindahkan" beberapa meter dari letak awalnya.


3. Kiama Lighthouse

Mercusuar yang satu ini terletak di sebelah selatan Sydney dan dapat ditempuh dengan kereta ekspres ke Kiama sekitar 3 jam dari Central station. Objek wisata utama di Kiama sebenarnya bukan mercusuar ini, melainkan Kiama Blow hole yang ada lebih ujung dari letak mercusuarnya, but you surely won't miss this building. 

Nah mercusuar yang ini baru nih warnanya putih seperti mercusuar kebanyakan, beberapa mercusuar ada jam buka untuk guided tournya tapi kurang ngeh sama yang satu ini sih mungkin karena kemarin mampir ke Kiama emang bukan ke sini tujuan utamanya. Would you believe me jika waktu itu kami menempuh jarak ratusan kilometer ke Kiama untuk beli Pizza, duduk di rerumputan sambil makan pizzanya lalu menuju Kiama Blow hole buat foto-foto dan langsung bergegas kembali ke stasiun untuk mengejar kereta ke Sydney supaya ga kemaleman?. ahhahah this is how I spent my random free day in Sydney with fellow Sydneysiders.


4. Macquaire Lighthouse
 Bangunan bawah mercusuar berbentuk persegi panjang

Satu lagi mercusuar yang lokasinya ternyata ga terlalu jauh dari Hornby lighthouse cuma sekitar 3 kilometer. Terletak di Vaucluse, mercusuar ini menjadi mercusuar pertama yang saya kunjungi dengan hanya menggunakan bis dan jarak dari halte bis ke mercusuarnya deket banget, ga pake jalan jauh dan cape. Lokasinya juga berada di kawasan elite Vaucluse, hanya tinggal menyebrang jalan aja udah sampe ke rumah warga. Ada yang menarik nih sama bangunannya Macquaire Lighthouse, di saat beberapa mercusuar lain bentuk bangunannya tinggi seperti tabung hingga ke bawah, Macquaire Lighthouse memiliki lantai dasar yang berbentuk persegi panjang seperti rumah namun tetap memiliki menara.

Jika dilihat dari kejauhan, tetap tampak seperti bangunan mercusuar lain

Ada yang berbeda dari beberapa tempat mercusuar lain, sedikit ke arah utara dari mercusuar ini kalian bisa menemukan tebing yang dikelilingi oleh pagar pembatas. Di sekitaran pagar pembatas banyak ditempel plat bertuliskan nomor lifeline hingga tulisan kutipan kalimat inspirasi penyemangat hidup. Ada teman yang cerita di sekitar tempat tersebut hingga ke tebing di dekat Watsons bay memang terkenal sebagai tebing jadi sering dijadikan tempat untuk terjun bebas (bunuh diri) di Sydney, ihh kok syereemm. 
 
5. Fort Denison Lighthouse

Karena letaknya yang berada di sebuah pulau sepertinya ini jadi satu-satunya mercusuar yang tidak benar-benar saya kunjungi hanya saya lewati saat sedang berada di atas kapal feri. Bukan tidak mungkin sih untuk menginjakkan kaki ke Fort Denison karena memang ada beberapa acara khusus yang digelar di Fort Denison. Sedangkan untuk kunjungan umumnya, Fort Denison hanya bisa dikunjungi oleh para peserta Captain Cook Cruise yang berangkat dari Circular Quay Ferry terminal atau mereka yang sudah reservasi untuk bersantap di restoran yang ada di Fort Denison ini. 

Jika melihat di asal usul rocky island ini, Fort Denison pernah memegang peranan penting seperti stasiun pengecekan ombak dan cuaca, sebagai salah satu petunjuk navigasi hingga sebagai salah satu bangunan pertahanan. Saat ini, Fort Denison selain memiliki sebuah restoran juga dapat di booked untuk acar tertentu dan memiliki sebuah museum.

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

There is a newly opened tourist attraction in Bali which is can become your next destination when visiting Bali. My dear friend kak Nathalie Stravers shared her experience with her family while visiting this new attraction called Upside Down World. This place is Indonesia's first Upside Down World attraction, however It wasn't my first time known about this kind of place, previously I almost come to Rumah Terbalik (Upside Down House) in Mallaca, Malaysia. Beside Mallaca, this kind of attraction can be found in Sabah where they even have an upside down car in the garage.

How is it like to stay in the house which built upside down?

The Upside Down World, Bali is opened for public this Mar 1st 2016 and has 8 upside down rooms. It is basically like a whole house, you can found living room, bed room, laundry room, kitchen, even bathroom. Here are some pictures taken by Kak Nathalie during her visit with her family. 

Living Room

Bedroom

 Bathroom

Kitchen
They looked like a Spiderman Family, LOL

I can't reach my cereal

The entrance ticket to this place is IDR 100.000 for adults and IDR 50.000, well I think it is too pricey for just 8 rooms. 

TIPS:
1. For the best shot you better bring a camera with wide lens or a GoPro to capture your photo since each room is quite small.
2. Come as early as you can, so you can get parking spot easily and to avoid long queue on taking pictures on each room. 
3. Bring socks to keep off your feet not dirty as they will ask you to take off your shoes.
4. Please don't bring a lot of stuffs with you as they don't have any storage room for visitors. 

What do you think about this kind of attraction? 

Pssttt... On July 1st 2016 they will open Upside Down World in Yogyakarta too


Upside Down World Bali
Jl. ByPass Ngurah Rai No.762, Denpasar, Bali
Opening Hours : 9am - 9pm
Share
Tweet
Pin
Share
17 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia?
    Magical sunset dari Mrs. Macquaire Chair Percaya ga kalo saya bilang, Australia belum pernah masuk ke bucket list tempat yang mau sa...
  • Black Star Pastry - Rosebery, Sydney
    Finally I have a proper cake hunting after more than a month since my last cafe hopping in Maroubra and Chatswood. At the first time I...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    11 months ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    4 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    11 months ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    1 week ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    5 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    10 months ago
  • The TraveLearn
    1 Hari di Jakarta: LRT Jabodebek, Trinity Tower, dan Stasiun Tanah Abang Baru
    6 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates