• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Salah satu destinasi atau objek wisata terkenal di Sydney yang tidak boleh terlewatkan, selain Opera House dan Pantai Bondi adalah Blue Mountain. Dari namanya mungkin kepikiran, “Blue Mountain? Gunungnya berwarna biru ya?”. Setidaknya itulah yang saya pikirkan tapi ternyata gunungnya tidak biru tuh. 

Kenapa namanya Blue Mountain? Dengar-dengar karena pas saat berkabut gunungnya kelihatan berwarna biru dari kejauhan. Tapi kayaknya memang semua gunung kalau dilihat dari jauh berwarna biru kan ya. Tidak hanya namanya yang bikin penasaran tapi pemandangan disekitarnya juga bikin banyak orang penasaran sehingga sering dikunjungi oleh para wisatawan. 

Echo Point Lookout

Area Blue Mountain sebenarnya lebih ke dataran tinggi yang terangkat sehingga tidak terlihat seperti gunung, namun lebih seperti lembah yang luas. Biasanya para pengunjung yang datang ke sini akan langsung mendatangi spot view point yang bernama Echo Point. Dari sini kelihatan pemandangan yang luas dan juga asri kawasan Blue Mountain. 

Terlihat juga sususan batu menjulang ke atas dari Jamison Valley yang bernama Three Sisters. Three Sisters yang juga menjadi primadona ini bisa juga dilihat dari dekat. Saya berjalan melewati bebatuan diakhiri dengan tangga tangga yang cukup terjal dan kemudian melewati jembatan. Sampailah di sister yang pertama. 

Honeymoon Bridge

Jembatan ini bernama Honeymoon Lookout. Mungkin ada alasan tertentu kenapa disebut dengan nama ini. Katanya beberapa ratus tahun yang lalu banyak pasangan bulan madu yang mengunjungi spot ini untuk mengambil foto romantis. 

Kawasan Taman Nasional Blue Mountain menawarkan banyak trail atau jalur untuk bushwalking dari yang levelnya lebih gampang sampai yang susah. Saya memilih trail yang paling gampang karena saya cuma punya waktu sehari saja. The Giant Stairways dan Prince Henry Cliff Walk yang mengarah ke Katoomba Falls. 

Prince Henry Cliff Walk

Kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan trail ini sekitar 30-40 menit satu arah. Jalurnya cukup gampang, pepohonan yang rimbun membuat saya lebih menikmati pemandangan sekitar. Katoomba Falls tidak seindah yang saya bayangkan. Ya, kurang lebih beginilah saya menghabiskan hari di Blue Mountain. Saya akan kembali lagi di hari lain untuk mencoba jalur lain yang lebih panjang. 

Cara menuju Blue Mountain 

Untuk menuju Blue Mountain dari Sydney, kamu bisa menggunakan kereta dari Stasiun Central dengan tujuan Stasiun Katoomba. Perjalanan menggunakan kereta memakan waktu kurang lebih 2.5 jam. 

Harga tiket tergantung apakah kamu menggunakan Opal Card, sejenis kartu transportasi di NSW atau menggunakan tiket normal. Tarif menggunakan Opal Card sekitar AUD 5.81 untuk sekali jalan. 

Setelah sampai di Stasiun Katoomba, keluar dan sebrangi jalan, kemudian berjalan ke arah kiri sampai sebuah persimpangan. Belok kanan dan carilah bus stop. Bus nomor 686 akan membawa kamu sampai Echo Point. 

Jika kamu ingin mengunjungi lebih banyak tempat di Taman Nasional Blue Mountain, kamu bisa naik hop on hop off bus atau mengikuti trolley tour. 

 Trail lain di sekitar Blue Mountain

  1. Ruined Castle 

Trail yang satu ini cukup gampang dimulai dari bagian bawah Scenic World. Jalur ini akan membawa kamu menyebrangi bagian bawah tebing dan melewati hutan alami yang indah. 

  1. Grand Canyon

Beda dengan Grand Canyon di Amerika ya. Jalur yang satu ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Jalur ini melalui bagian bawah lembah, dilanjutkan dengan melewati sungai kecil yang dikelilingi dengan pohon-pohon pakis. 

Jalur ini bisa dimulai dari Blackheath atau Neats Glen. Untuk menyelesaikan trail ini membutuhkan waktu sekitar 6 jam pulang pergi. 

  1. Jenolan Caves

Gua yang sangat indah ini merupakan gua tua yang terbuka. Ada sekitar 11 bagian gua yang beberapanya dilewati dengan sungai bawah tanah. Kamu bisa menikmati formasi batuan kapur bergantungan di atap gua. 

  1. Wenthworth Pass

Jalur ini juga sangat popular karena pemandangannya yang tidak kalah indah juga. Kamu akan melewati beberapa air terjun termasuk yang paling tinggi Wenthworth Falls. Jalur ini cukup menantang, dibutuhkan kira-kira 6 jam untuk menyelesaikannya. 

Tulisan dan foto oleh Velyzhia Zhang - Nonanomad
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments
Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people who have grown too accustomed to their city, I never really feel the urge to explore Bandung through a tourist’s eyes. My knowledge of the up-and-coming restaurants or the most Instagram-worthy hotels was close to zero. Whenever I come to Bandung, I’d stay at my home and eat at familiar places, like Ayam Goreng Nikmat Panaitan (my dad’s favorite) or whatever is open near my old high school because my friends and I can’t be bothered to spend more time in the traffic than necessary.

Since I was turning 25 last February, I decided to give myself a little treat. I was not planning to splurge, so a girly staycation in Bandung sounded just perfect! My friend and I knew we wanted to stay somewhere chilly, and it didn’t take long until we fell in love with this new hotel in Lembang: Blackbird Hotel.


We arrived at Blackbird Hotel at around 3 pm on Friday and was greeted by a friendly receptionist. Upon checking in, we were asked to fill out a form regarding our breakfast preference. The form basically let us choose where we wanted to have our breakfast (in bed or at the hotel’s restaurant), what time we would like to have it, and most importantly, the food itself. I like the concept because it can minimize food waste as they only cook what you will actually eat.


A hotel attendant then took us to our room. I was so delighted to find that the room was not only neat and tidy, but also smelled like a spa. The interior was a mix of traditional and modern styles with terrazzo tiles that reminded me of my grandparents’ house. It didn’t take long until we felt at home, and since it was raining, we just spent the rest of the afternoon snuggling and watching movies on HBO.

At that time, Blackbird Hotel had just opened Sea Como Sea restaurant where guests can enjoy al fresco dining. But since we were having breakfast at that restaurant, we decided to have dinner outside. Maja House, which belongs to the same group as Blackbird Hotel, is located only a short walk from the hotel. I loved their philly cheese steak pizza and the city view from this restaurant was just spectacular.


The next day, I went to Sea Como Sea at 7:20 am and informed my room number to the staff right away. This is where Blackbird Hotel disappointed me. I waited and waited, but my food didn’t arrive. It was very disappointing, considering I had specifically written that I wanted to have my breakfast at 7-7:30 am, not to mention that it was a very simple meal: scrambled egg, waffles, sausage, salad, and carrot cake with guava juice and tea. After complaining about this issue, my tea was finally served, but it took 45 minutes for the food to be served. The taste of every single element was good, but I knew it shouldn’t have taken them that long to serve it. By the way, I noticed that the same thing happened to other guests.


The area is generally quiet, the weather is refreshing, and the greenery at the property compound was pleasant to look at. Since it was raining most of my stay, I didn’t get to swim or hang out by the pool, but the hotel was equipped with cute floaties for sunnier days. I would recommend Blackbird Hotel for weekend getaways, especially if you live in a busy city like Jakarta!

This article is written by Halida Aisyah, a friend of mine who have so much passion on travel. She loves to ride a bike everywhere. She had lived in Indonesia and Japan but considered the world as her home.



Halida A.

Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers

Share
Tweet
Pin
Share
33 comments
Wajah Cantik Dinding Bogota

Saya masih terkapar kelelahan akibat perjalanan selama 9 jam untuk sampai ibu kota Kolombia, Bogota. Saat itu pukul 8 pagi dan host couchsurfing mempersilakan saya untuk beristirahat sebelum ia berangkat kerja. 

Kedatangan saya ke Bogota demi bertemu teman lama yang hampir tiga tahun tak bersua. Kebetulan ia baru akan sampai sehari setelah kedatangan saya. Oleh karena itu, hari pertama ini saya bebas berjalan-jalan sendirian. Tipikal orang yang tak punya rencana perjalanan saya pun bingung bagaimana caranya menghabiskan waktu di kota terbesar kedua di Amerika Selatan tersebut.

Seorang teman membisikan ide untuk mengikuti free walking tour di daerah Candileria. Berbekal informasi google, salaha satu tema walking tour yang ada adalah melihat-lihat grafitti dan mural. Waktu menunjukan pukul 11, saya pun langsung menghubungi Bogota Grafitti Tour yang memiliki jadwal tour pukul 2 siang.


Saya buta soal mural dan grafitti. Lebih tepatnya saya acuh akan karya seni yang satu ini. Namun, persepsi tersebut berubah ketika tour baru berjalan 30 menit. Saya jatuh cinta dan menikmati apa yang dirasakan oleh indera penglihatan ini.

Dipandu oleh Jay, kami berkeliling area Candileria yang penuh oleh kreasi tangan-tangan artis Kolombia maupun dari negara lain. Jay bilang setidaknya artis dari Australia, Amerika Serikat, Ekuador, dan beberapa negara lain yang saya lupa namanya gemar datang ke Bogota untuk berkreasi.

Cantik. Satu kata yang merepresentasikan karya seni tersebut. Tabrak warna antara cat dan tembok bangunan sangat memanjakan mata.



Umumnya karya seni yang ada sepanjang Candeleria mengangkat tema terkait masyarakat pribumi benua Amerika, khususnya Kolombia. Jay bilang tema di wilayah tersebut jauh dari politik. Maklum, memang wilayah ini sangat tourist friendly jadi sebisa mungkin tidak mengangkat isu sensitif.

Kemudian kami melangkah ke Calle 26. Di sinilah tema "berat" berada. Artis yang ingin mengeluarkan uneg-unegnya tentang kondisi sosial dan politik bebas berekspresi. Umumnya mereka menyindir soal cara pemilu yang tidak memihak rakyat pedesaan, atau soal bisnis pariwisata yang merupakan bentuk lain dari perbudakan. Ada juga yang menganggap kopi yang menjadi komoditas andalan Kolombia tidak memberikan manfaat banyak bagi para petani. 



Tour berakhir pukul 4.30 sore. walaupun pakai embel-embel "free walking tour", namun sejak awal Jay sudah menekankan kalau peserta yang lalu biasanya memberikan donasi sebesar 20-30 peso Kolombia atau sekitar 100-150 ribu rupiah. Saya tidak pernah merasa sepuas itu menghabiskan uang untuk sebuah tour. 

Jadi kalau berniat mengenal Bogota lebih jauh saya sih merekomendasikan untuk ikut grafitti dan mural tour ini.

Tulisan ini merupakan guest post dari Efi Yanuar, thank you udah meramaikan geretkoper :3













Baca keseruan perjalanan Efi di Kolombia di Blognya raunround.wordpress.com jangan lupa follow IGnya juga yaa @efi.yanuar 


Share
Tweet
Pin
Share
24 comments

Di negara-negara maju, subway atau kereta bawah adalah salah satu moda transportasi yang umumnya tersedia dan digunakan jutaan orang tiap harinya. Tidak hanya warga lokal, subway juga menjadi transportasi favorit turis karena cepat, murah, dan menjangkau hingga sudut kota. Akan tetapi, ada beberapa rute subway yang cukup rumit yang bisa membuat pusing para turis, salah satunya seperti yang ada di kota Tokyo. Citylab.com bahkan mengatakan bahwa sistem subway Tokyo merupakan rute paling rumit ketiga di dunia, di bawah New York dan Paris.

Tokyo Sky Tree - stasiun terdekat Oshiage (Tokyo Metro Hanzomon line & Toei Asakusa line)

Nah, sebelum pergi ke kota yang memiliki landmark Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree ini, ada beberapa informasi mengenai Tokyo Subway yang perlu kalian ketahui dan juga tips untuk memudahkan perjalanan kalian selama menggunakan subway.

1. Kenali berbagai jalur kereta dan perusahaan yang mengoperasikannya

Tokyo Subway diperasikan oleh dua operator berbeda, yaitu Tokyo Metro dan Toei Subway. Masing-masing operator tersebut memilik jalurnya sendiri. Tokyo Metro terdiri dari sembilan jalur, yaitu Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin line sedangkan Toei Subway terdiri dari empat jalur, yaitu Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo line.

Kalau kalian ingin menggunakan tiket terusan harian (1-Day Open ticket), kalian dapat terlebih dahulu merencanakan jalur yang akan digunakan dalam satu hari tersebut. Tiket terusan untuk jalur-jalur Tokyo Metro saja dapat dibeli seharga 600 yen sedangkan untuk gabungan Tokyo Metro dan Toei Subway harganya 1000 yen. Tiket ini dapat diperoleh di vending machine di stasiun mana saja. Kalau pandai menggunakannya, kalian bisa menghemat beberapa ratus yen dibanding menggunakan e-money seperti Pasmo atau Suica. 

2. Rencanakan perjalanan dengan bantuan Smartphone

Unduh aplikasi route planner supaya tidak perlu pusing lagi mencari tahu cara pergi dari titik A ke B di peta yang rumit. Aplikasi Tokyo Metro Subway Map & Route contohnya, dapat menampilkan rute tercepat atau rute dengan paling sedikit transit yang dapat kalian ambil. Selain itu, ada juga Tokyo Subway Navigation for Tourists yang memiliki tampilan sederhana tapi memiliki informasi yang sangat lengkap, seperti rute, waktu tempuh, dan tarif perjalanan. Berita baiknya, aplikasi ini dapat juga digunakan secara offline dan menjadi poin plus bagi travelers yang tidak memiliki paket data atau tidak menyewa pocket wifi, karena tidak banyak tempat di Tokyo yang menawarkan koneksi wifi gratis.

Edo Tokyo Museum - stasiun terdekat Ryogoku (Toei Oedo line, exitA4)

3. Catat pintu Exit-mu

Saat menggunakan subway untuk mengunjungi lokasi wisata tertentu, sebelumnya jangan lupa untuk mencatat pintu keluar terdekat dari tempat yang dituju. Hal ini dikarenakan rata-rata tiap stasiun memiliki lebih dari satu pintu keluar dan jika salah memilih exit bisa-bisa kita tersasar sangat jauh dari tempat yang sebenarnya kita tuju. Biasanya stasiun-stasiun besar seperti Shibuya memiliki papan informasi dan panduan arah dalam bahasa inggris yang cukup jelas mengenai pintu keluar mana yang harus dipilih untuk menuju lokasi tertentu. Namun jika kalian ingin mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu touristy, ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu pintu keluar mana yang paling dekat ke lokasi tersebut. 

4. When in Rome, do as the Romans do

Bagi travelers yang juga pengguna commuter line jakarta (kereta jakarta), mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang mengobrol atau menelepon di dalam kereta. Nah, dua kebiasaan ini sebaiknya dihindari saat menggunakan subway di Jepang. Mengobrol dengan teman tidak dilarang tapi usahakan untuk tidak terlalu berisik dan menggangu penumpang lain. Selain itu, di dalam kereta penumpang diharapkan untuk mengatur ponsel mereka ke dalam mode senyap (silent) atau manner mode. Berbicara di telepon merupakan hal yang dianggap tidak sopan dilakukan di transportasi umum tapi tenang saja, kegiatan-kegiatan lain seperti chatting atau main game boleh kok dilakukan. Oh ya, saat menggunakan eskalator di stasiun di Tokyo, berdirilah di sisi kiri eskalator jika hanya akan berdiri selama menggunakan eskalator karena sisi sebelah kanan diperuntukkan bagi orang yang berjalan. Kalau kalian berdiri di sisi kanan namun berdiri diam, kalian bisa menghalangi orang yang sedang terburu-buru mengejar kereta.

 Kaminarimon Sensoji Temple - stasiun terdekat Asakusa (Tokyo Metro Ginza line exit 1)

Tulisan ini merupakan guest post dari Halida Aisyah, thank you udah meramaikan geretkoper :3



Halida A.
Sangat suka berburu makanan manis, buku, dan festival. Senang bersepeda di mana saja. Baru pernah tinggal di Indonesia dan Jepang, tapi menganggap seluruh dunia adalah rumahnya.
Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers
Share
Tweet
Pin
Share
19 comments

Lokasinya tak jauh dari sudut Lebuh Chulia yang bersimpangan dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, yang artinya penginapan ini berada di jantung UNESCO World Heritage Site Georgetown. Artinya juga, lokasi jadi nilai jual utama penginapan dan jadi alasan penting bagi saya dalam memilihnya. Beberapa tempat ibadah ikonik berada dalam jangkauan berjalan kaki. Masjid Kapitan Keling tepat berada di seberang bangunan. Kuil Kwan Im, Shri Mahariamman Temple, dan Gereja Anglikan St George pun bisa didatangi kurang dari 10 menit berjalan. Selain tempat ibadah, beberapa landmark Penang pun berada tak jauh dari penginapan. Penang Peranakan Mansion, Penang Art & Gallery Museum, Little India, dan Lebuh Armenian yang hip dengan aneka mural pun ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Lokasinya yang tak jauh dari Jalan Masjid Kapitan Keling pun memiliki 1 keunggulan lain yakni tak jauh dari halte bus CAT yang membawa kita berkeliling inti kota Georgetown tanpa biaya sepeserpun.


 

Alasan lain yang membuat saya memilih The Frame Guesthouse adalah bentuk bangunannya. Shophouse tua yang telah direnovasi menjadi lebih minimalis, raw, dan chic. Front office yang memanjang hanya diisi 1 meja, 2 kursi, dan 1 karpet kecil namun tidak mengurangi nilai estetiknya. Beralih ke area pantry, nuansa kayu menambah keindahan ruangan yang tampak ‘tua’. Toilet & shower area pun dipoles dengan gaya layaknya tidak dipoles. Susunan bata diekspose telanjang tanpa diplester dan dicat menambah kesan ‘savage’.




Tak banyak fasilitas yang disediakan The Frame Guesthouse. Namun kebutuhan dasar akan sebuah penginapan seperti kamar tidur, pantry, shower, & toilet area dibangun dengan apik. Pemilihan furnitur dan penyusunannya menambah nilai kenyamanan karena tidak membuat sumpek bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 lantai ini.



Jika telah selesai mengagumi dan menikmati hostel yang chic ini, monggo loh berjalan sedikit menyeberangi Lebuh Chulia untuk menikmati Nasi Kandar Beratur yang letaknya hanya beberapa langkah dari The Frame Guesthouse. Atau, ingin bercengkrama bersama teman sambil menyeruput secangkir kopi? Beberapa coffeeshop ternama tak jauh untuk dijelajahi. Tak butuh berkendara untuk mendatangi The Alley, Selfie Coffee, Mugshot Coffee, atau Moustache Houze.



The Frame Guesthouse

168 Lebuh Chulia, Georgetown, Penang

Tulisan ini merupakan guest post yang dibuat kak Ari - Eat|Play|Repeat
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

There is a newly opened tourist attraction in Bali which is can become your next destination when visiting Bali. My dear friend kak Nathalie Stravers shared her experience with her family while visiting this new attraction called Upside Down World. This place is Indonesia's first Upside Down World attraction, however It wasn't my first time known about this kind of place, previously I almost come to Rumah Terbalik (Upside Down House) in Mallaca, Malaysia. Beside Mallaca, this kind of attraction can be found in Sabah where they even have an upside down car in the garage.

How is it like to stay in the house which built upside down?

The Upside Down World, Bali is opened for public this Mar 1st 2016 and has 8 upside down rooms. It is basically like a whole house, you can found living room, bed room, laundry room, kitchen, even bathroom. Here are some pictures taken by Kak Nathalie during her visit with her family. 

Living Room

Bedroom

 Bathroom

Kitchen
They looked like a Spiderman Family, LOL

I can't reach my cereal

The entrance ticket to this place is IDR 100.000 for adults and IDR 50.000, well I think it is too pricey for just 8 rooms. 

TIPS:
1. For the best shot you better bring a camera with wide lens or a GoPro to capture your photo since each room is quite small.
2. Come as early as you can, so you can get parking spot easily and to avoid long queue on taking pictures on each room. 
3. Bring socks to keep off your feet not dirty as they will ask you to take off your shoes.
4. Please don't bring a lot of stuffs with you as they don't have any storage room for visitors. 

What do you think about this kind of attraction? 

Pssttt... On July 1st 2016 they will open Upside Down World in Yogyakarta too


Upside Down World Bali
Jl. ByPass Ngurah Rai No.762, Denpasar, Bali
Opening Hours : 9am - 9pm
Share
Tweet
Pin
Share
17 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia?
    Magical sunset dari Mrs. Macquaire Chair Percaya ga kalo saya bilang, Australia belum pernah masuk ke bucket list tempat yang mau sa...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • Penginapan Favorit Teman Pejalan di Singapura
    Singapura sepertinya masih jadi destinasi favorit liburan ke luar negeri untuk solotrip, barengan sahabat, pacar, pasangan atupun keluarga....
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Jelajah Kuliner Asia Bersama Iftar Buffet Batam Marriott Hotel Harbour Bay
    5 days ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    1 year ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    4 weeks ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    6 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    10 months ago
  • The TraveLearn
    Mount Kazbek: A Great First Peak Above 5,000 Metres
    1 week ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates