• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter

 Obike - Bike sharing apps

Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu terkenal dan digadang-gadang sebagai salah satu solusi transportasi dan berkendara ramah lingkungan di Beijing, Cina. Tidak cuma 1, 2 tapi saat ini ada 5 aplikasi bike sharing yang bisa digunakan dan sepedanya bertebaran di Sydney. Ada Mobike, Obike, Ofo, Reddy Go dan Air Bike yang bisa jadi pilihan kalian untuk coba mengendarai sepeda berkeliling Sydney. 

Meskipun bisa dibilang sudah cukup populer dan banyak disukai warga di Beijing, ternyata apilkasi ini  ada side effect-nya juga. Para pengguna sepeda ini banyak yang memarkirkan sepedanya sembarangan saat selesai menggunakan. Betul-betul sembarangan, bahkan beberapa bulan yang lalu saya pernah baca berita, tumpukan sepeda yang tinggi banget sudah jadi pemandangan yang biasa di sekitaran stasiun kereta. Ga itu aja, ada beberapa orang yang bahkan sampai melempar sepeda ke atas pohon atau dibuang ke sungai, duh ga ngerti lagi deh sama yang kayak gini. Eits jangan dipikir di Australia lebih bener, sebelum masuk ke Sydney, Bike sharing apps ini sudah lebih dulu masuk ke Melbourne dan permasalahan seperti itu sempat terjadi loh. Semoga ga kejadian yah di Sydney.

Ok, balik lagi ke bike sharing appsnya, sejauh ini sepeda-sepeda yang paling sering saya temukan di jalan dan sedang diparkir adalah Mobike dan Ofo. Entah karena warnanya yang lebih "menyala", Mobike dengan sepeda warna oranye dan silver serta Ofo dengan sepeda warna kuningnya atau mungkin memang jumlah sepedanya yang paling banyak ketimbang 3 bike sharing apps lain. Cara penggunaan aplikasinya juga mudah, tinggal download aplikasinya, buat akun membernya, cari sepeda terdekat (bisa di apps juga ceknya), scan barcode sepedanya untuk membuka kunci sepeda dan voilaaa udah bisa jalan-jalan deh naik sepedanya.


Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa sepeda ini berkisar dari AUD 1 - AUD 1.99 per 30 menit. Well, terbilang cukup murah jika dibandingkan dengan ongkos bus AUD 2.15 untuk radius 3km kebawah. Coba sering-sering cek info di aplikasinya juga yah, karena seperti di akhir tahun 2016, Mobike menawarkan free rides dengan hanya deposit 1 dollar aja dan itupun refundable. 

Bersepeda memang menawarkan healthy life style sih tapi jangan lupa kontur jalanan Sydney yang naik turun udah kayak soundtracknya Ninja Hatori yang mendaki gunung lewati lembah itu yah. Saya yang rasanya udah 5 tahun ga pernah nyentuh sepeda aja harus give up di 2 km pertama gara-gara tanjakan maha dahsyat. Kemiringan tanjakannya waktu itu sih ga lebih dari 30 derajat tapi panjang jalanannya sampe 100 meter lebih, ga kuat juga, hayati lelaahh hahahahah. 

Sebisa mungkin tetap cari yang ada helmnya ya

Oh iya,  meskipun cuma sepedaan tapi di Sydney mahh teteuup aja ada peraturan-peraturannya. Mulai dari wajib pake helm, harus bersepeda di sisi yang benar (ga ngelawan arus), harus perhatiin rambu dan harus perhatiin bike lane karena ga semua trotoarnya boleh digunakan sama pesepeda. Kalo melanggar dan pas ada polisi, siap-siap kena tilang dan bayar denda yang bisa bikin ga bisa tidur 2 hari 2 malam hahahahah.

OFO

Sempat nemu 3 - 4 Ofo Bike di daerah Barangaroo

Dominasi warna kuning di sepeda Ofo, membuat sepeda ini menjadi salah satu yang paling mudah dikenali dari kejauhan. Seengganya ada 5 hal yang bikin merek ini jadi paling gue rekomendasikan buat kalian. Pertama Sepedanya Ringan, Ada pengatur gigi sepedanya, Ada bel sepeda, Sadel sepedanya bisa diatur tingkat ketinggiannya dan harga non promonya $1/jam atau sekitar 10.300 rupiah. Sebagai info tambahan juga, Aplikasi dan sepeda ini juga sudah ada untuk Singapura dan Malaysia loh!

OBIKE


Bike sharing apps yang ini, katanya udah ada di Indonesia loh, tapi kok dari kemarin belum pernah ngeh ya? Awal masuk ke Sydney aplikasi yang ini ngasih free rides ke para penggunanya (yaa yang lain juga sih) tapi harga non promonya $1.99 per 30 menit (gile mahaaall). Salah satu yang gue kurang suka di Obike ini, sepedanya bisa dibilang cukup berat.

MOBIKE 

Selanjutnya ada Mobike, warnanya dominannya oranye dan silver. Ada yang nyebelin sama sepeda yang satu ini, kadang susah bedain Mobike sama Obike dari jauh, warna mereka terlalu mirip. Waktu pertama nyobain bike sharing apps, gue pake ini karena lagi ada promo free rides juga. Salah satu kekurangannya adalah, ga ada pengatur gigi (jadi berat kalo tanjakan). 

Berikut ini Pros and Cons-nya si Bike Sharing Apps secara keseluruhan tapi versi geretkoper yah:

Pros:
- Lebih Sehat dan bakar kalori (resolusi tahun 2018) di setiap aplikasi ada informasi jarak yang sudah ditempuh, waktu pemakaian hingga kalori yang dikeluarkan untuk mengayuh sepedanya.
- Lebih murah ketimbang ongkos bus
- Dilihatin orang-orang dengan tatapan "woww cool dia sepedaan", ahhaah gue ga tau musti masukin ini ke Pros atau Cons
- Membantu mengurangi polusi (mulia banget nih tujuannya)
- Bisa sekalian sight-seeing
- Bisa berhenti di mana aja (tapi tetap harus diparkir secara aman yah) 

Cons:
- Kadang susah cari sepeda yang ada helmnya (banyak yg dimalingin euy)
- Udah nemu sepeda, ternyata lagi di-lock sama orang lain
- Harus konek bluetooth selama perjalanan (nyedot batere weeyy)
- Harus konek GPS selama perjalanan (nyedot kuotaaaaa, mahal wey beli kuota di Sydney)

Okeh, cerita how to use the apps dan pengalaman naik sepedanya bisa dilihat di Videonya yah (wait masih diedit dulu) jangan lupa di-subscribe yah.                                


Share
Tweet
Pin
Share
28 comments

Di negara-negara maju, subway atau kereta bawah adalah salah satu moda transportasi yang umumnya tersedia dan digunakan jutaan orang tiap harinya. Tidak hanya warga lokal, subway juga menjadi transportasi favorit turis karena cepat, murah, dan menjangkau hingga sudut kota. Akan tetapi, ada beberapa rute subway yang cukup rumit yang bisa membuat pusing para turis, salah satunya seperti yang ada di kota Tokyo. Citylab.com bahkan mengatakan bahwa sistem subway Tokyo merupakan rute paling rumit ketiga di dunia, di bawah New York dan Paris.

Tokyo Sky Tree - stasiun terdekat Oshiage (Tokyo Metro Hanzomon line & Toei Asakusa line)

Nah, sebelum pergi ke kota yang memiliki landmark Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree ini, ada beberapa informasi mengenai Tokyo Subway yang perlu kalian ketahui dan juga tips untuk memudahkan perjalanan kalian selama menggunakan subway.

1. Kenali berbagai jalur kereta dan perusahaan yang mengoperasikannya

Tokyo Subway diperasikan oleh dua operator berbeda, yaitu Tokyo Metro dan Toei Subway. Masing-masing operator tersebut memilik jalurnya sendiri. Tokyo Metro terdiri dari sembilan jalur, yaitu Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin line sedangkan Toei Subway terdiri dari empat jalur, yaitu Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo line.

Kalau kalian ingin menggunakan tiket terusan harian (1-Day Open ticket), kalian dapat terlebih dahulu merencanakan jalur yang akan digunakan dalam satu hari tersebut. Tiket terusan untuk jalur-jalur Tokyo Metro saja dapat dibeli seharga 600 yen sedangkan untuk gabungan Tokyo Metro dan Toei Subway harganya 1000 yen. Tiket ini dapat diperoleh di vending machine di stasiun mana saja. Kalau pandai menggunakannya, kalian bisa menghemat beberapa ratus yen dibanding menggunakan e-money seperti Pasmo atau Suica. 

2. Rencanakan perjalanan dengan bantuan Smartphone

Unduh aplikasi route planner supaya tidak perlu pusing lagi mencari tahu cara pergi dari titik A ke B di peta yang rumit. Aplikasi Tokyo Metro Subway Map & Route contohnya, dapat menampilkan rute tercepat atau rute dengan paling sedikit transit yang dapat kalian ambil. Selain itu, ada juga Tokyo Subway Navigation for Tourists yang memiliki tampilan sederhana tapi memiliki informasi yang sangat lengkap, seperti rute, waktu tempuh, dan tarif perjalanan. Berita baiknya, aplikasi ini dapat juga digunakan secara offline dan menjadi poin plus bagi travelers yang tidak memiliki paket data atau tidak menyewa pocket wifi, karena tidak banyak tempat di Tokyo yang menawarkan koneksi wifi gratis.

Edo Tokyo Museum - stasiun terdekat Ryogoku (Toei Oedo line, exitA4)

3. Catat pintu Exit-mu

Saat menggunakan subway untuk mengunjungi lokasi wisata tertentu, sebelumnya jangan lupa untuk mencatat pintu keluar terdekat dari tempat yang dituju. Hal ini dikarenakan rata-rata tiap stasiun memiliki lebih dari satu pintu keluar dan jika salah memilih exit bisa-bisa kita tersasar sangat jauh dari tempat yang sebenarnya kita tuju. Biasanya stasiun-stasiun besar seperti Shibuya memiliki papan informasi dan panduan arah dalam bahasa inggris yang cukup jelas mengenai pintu keluar mana yang harus dipilih untuk menuju lokasi tertentu. Namun jika kalian ingin mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu touristy, ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu pintu keluar mana yang paling dekat ke lokasi tersebut. 

4. When in Rome, do as the Romans do

Bagi travelers yang juga pengguna commuter line jakarta (kereta jakarta), mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang mengobrol atau menelepon di dalam kereta. Nah, dua kebiasaan ini sebaiknya dihindari saat menggunakan subway di Jepang. Mengobrol dengan teman tidak dilarang tapi usahakan untuk tidak terlalu berisik dan menggangu penumpang lain. Selain itu, di dalam kereta penumpang diharapkan untuk mengatur ponsel mereka ke dalam mode senyap (silent) atau manner mode. Berbicara di telepon merupakan hal yang dianggap tidak sopan dilakukan di transportasi umum tapi tenang saja, kegiatan-kegiatan lain seperti chatting atau main game boleh kok dilakukan. Oh ya, saat menggunakan eskalator di stasiun di Tokyo, berdirilah di sisi kiri eskalator jika hanya akan berdiri selama menggunakan eskalator karena sisi sebelah kanan diperuntukkan bagi orang yang berjalan. Kalau kalian berdiri di sisi kanan namun berdiri diam, kalian bisa menghalangi orang yang sedang terburu-buru mengejar kereta.

 Kaminarimon Sensoji Temple - stasiun terdekat Asakusa (Tokyo Metro Ginza line exit 1)

Tulisan ini merupakan guest post dari Halida Aisyah, thank you udah meramaikan geretkoper :3



Halida A.
Sangat suka berburu makanan manis, buku, dan festival. Senang bersepeda di mana saja. Baru pernah tinggal di Indonesia dan Jepang, tapi menganggap seluruh dunia adalah rumahnya.
Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers
Share
Tweet
Pin
Share
19 comments

Arashiyama merupakan sebuah kota di sebelah barat di prefektur Kyoto. Untuk mengunjungi kota ini, kita dapat menggunakan kereta ataupun bus lokal dari Kyoto. Kota ini terkenal dengan Bamboo Groove-nya. Selain mengunjungi tempat tersebut, wisata lain yang masuk di list saya adalah naik Sagano Romantic Train. Sagano Scenic railway ini memiliki trek membentang sepanjang Arashiyama dan Kameoka, jalur ini juga melewati sungai Hozugawa. Sebagian besar dari kereta ini berbahan kayu dan memiliki lima gerbong penumpang. Jujur jika ingin mendapatkan pemandangan yang super seru, kalian sebaiknya naik kereta ini saat musim gugur. You gonna be wowed by the beautiful view along the trip (ini kalo google image sih, saya belum pernah pas gugur soalnya), mungkin karena pemandangan di saat itu kereta ini dinamakan Romantic Train. 

Jalur kereta ini memiliki 4 stasiun, Torokko Saga Arashiyama, Torokko Arashiyama, Torokko Hozukyo, dan Torokko Kameoka. Penumpang dapat memilih untuk naik dari stasiun manapun, namun rekomendasi saya sebaiknya naik dari Stasiun Torokko Saga Arashiyama menuju Torokko Kameoka atau sebaliknya agar mendapatkan one full trip. 

Trip yang saya lakukan sendiri tidak dimulai dari Torokko Saga Arashiyama tapi dari Torokko Arashiyama. Kenapa? karena saya kehabisan tiket kereta hingga 2 jam kedepan, jadi saya memutuskan untuk trekking ke Bamboo Groove terlebih dahulu sekalian jalan menuju stasiun yang kedua. Di tempat inipun saya harus menunggu jadwal kereta sejam kedepan, lagi-lagi karena kehabisan tiket.

Gerbong 5, tempat duduk 3A, Kereta 17:10, harga 620 yen

Jika jalan-jalan ke Jepang dan ingin punya souvenir yang unik tapi gratis, pastikan kamu bawa buku atau notes kecil dari rumah. Di beberapa tempat banyak disediakan stempel khusus yang bisa kamu gunakan sebagai kenang-kenangan. Kebetulan di setiap stasiun yang ada di jalur ini juga terdapat stempel khusus yang berbeda-beda tiap stasiunnya. 

Cap yang tersedia di stasiun Torokko Arashiyama

 Cap yang tersedia di stasiun Torokko Kameoka

Pemandangan di perjalanan, sungai Hozugawa dan rimbunan pohon yang (sayangnya) masih hijau

Beberapa review yang saya baca sebelumnya di web wisata Jepang, pemandangan dari kaca kereta saat musim gugur benar-benar cantik. Well, saya tidak bisa berharap banyak waktu itu karena memang kami datang terlalu awal dan daun-daun belum berubah menjadi warna merah. Ah iya, ada satu hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya, dari total 5 gerbong kereta di Sagano Romantic Train ini, saya dan teman-teman mendapatkan tempat duduk di gerbong ke 5 yang ternyata tidak memiliki kaca alias terbuka full. 

ini untuk perbandingan, gerbong sebelah kanan adalah rupa dari 4 gerbong lain dan yang sebelah kiri adalah gerbong kami

Terpaan angin di sepanjang perjalanan benar-benar membuat pipi saya membeku dan kedua telapak tangan mati rasa. Suhu saat itu sebenarnya masih belasan derajat celcius namun karena hari itu sempat hujan rintik dan waktu juga sudah terlalu sore, rasanya seperti lagi trip saat musim dingin.  Masih jelas diingatan saya beberapa teman yang duduk di sisi lain kereta berulang kali memanggil untuk meminta tolong difoto, tapi saya cuma duduk diam sambil menaikan leher jaket ke arah muka, dinginn cooyy. Saya ga bisa bayangin deh jika naik kereta ini saat musim dingin. Ajaibnya, dua teman saya dengan bahagianya naik ini dengan mengenakan celana pendek. Meski awalnya terlihat tenang dan sok santai, akhirnya kedingin juga saat harus berjalan menuju JR stasiun dari stasiun Torokko Kameoka.

Ini foto super palsu, mereka terlihat bahagia gini cuma saat di foto aja, aslinya sih kedinginan

INFO PENTING!
Meskipun perjalanan ini hanya sekitar 25 menit, tapi saya tidak menyarankan wisata ini untuk teman-teman yang mengidap Claustrophobia atau memiliki ketakutan terhadap ruangan gelap dan sempit. Kereta ini berjalan melalui beberapa terowongan gelap dan satu diantaranya cukup panjang. Saya sendiri hampir sesak karena panik dan udara yang agak lembab saat melewati terowongan tersebut. 

Share
Tweet
Pin
Share
15 comments
 Si Thole dan Pak Supir berlurik

Awal Januari tahun ini, saya berkunjung ke Yogyakarta bermodalkan tiket promo pesawat Garuda Indonesia yang tidak sampai 700ribu PP dan ini menjadi perjalanan perdana saya sendirian ke Yogyakarta. Ini bukan kali pertama saya berkunjung ke kota yang terkenal dengan gudeg dan bakpianya, sebelumnya saya sering mempir ke sini bersama keluarga dan teman-teman.

Berkunjung ke Malioboro, Taman sari dan  Keraton Yogya sudah beberapa kali saya lakukan. Awalnya saya tidak ada agenda untuk kembali mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam perjalanan saya kali ini. Saya lebih memilih untuk melakukan cafe hopping dan mencari tempat-tempat seru lainnya di Yogyakarta. 

Si Thole siap mengantar 

Tempat menginap saya yang berdekatan dengan parkir Ngabean membuat saya berkenalan dengan si Thole. Parkir Ngaben ini adalah tempat parkir khusus bus-bus wisata rombongan tur yang hendak berkunjung ke Keraton Yogya. Jika sebelumnya bus-bus tersebut diperbolehkan parkir di alun-alun dekat Keraton, saat ini tidak lagi. Sepertinya berawal dari peraturan tersebut, si Thole lahir menjadi kendaraan alternatif untuk para pelancong.

Penampakan dalam Si Thole

Si Thole ini adalah Shuttle wisata yang memiliki rute khusus di Yogya, di pusat kota khususnya. Mobil berkapasitas maksimal 7 penumpang ini bisa kita temukan di beberapa halte khusus di Parkir Ngabean, Keraton, Taman sari, Taman pintar (akan parkir di dekat kantor pos), Taman parkir senopati dan Titik 0 kilometer di daerah Malioboro. Wah, ternyata bukan hanya Bali aja yah yang punya shutte wisata. Beberapa info menyebutkan jika si Thole akan jalan sesuai rute yang urutannya sudah diatur, meskipun kenyataannya saat itu saya bisa langsung bilang ke pak supir kemana tujuan saya dan beliau langsung antar. (mungkin karena penumpangnya cuma saya dan teman).

Halte Si Thole

Harga tiket si Thole untuk 1 kali pemberhentian adalah Rp. 5,000. Untuk lebih hemat, pengunjung dapat membeli tiket terusan Rp. 10,000 untuk 3 pemberhentian. Supir-supir yang mengendarai Si Thole ini juga menggunakan baju lurik khas Yogya loh. Shuttle Wisata Si Thole ini bisa jadi salah satu opsi lain berkendara kalian jika ingin jalan-jalan di daerah wisata di Yogya loh. Apabila kondisi sedang hujan ataupun panas terik, Si Thole bisa jadi salah satu pilihan yang menarik buat turis, saya sendiri sih lebih suka naik becak sebenarnya.
Tiket terusan Si Thole

Gimana? Mau coba ikutan kenalan sama Si Thole juga? 

Follow juga akun twitter @geretkoper dan akun Instagram @meidianakusuma untuk info terbaru dan foto-foto seru selama perjalanan.
Share
Tweet
Pin
Share
27 comments

Apa itu Trishaw? 


Hayo ada yang tau ga? Itu loh, kendaraan roda tiga yang pengemudinya ada di belakang atau mungkin lebih kalian kenal dengan sebutan becak di Indonesia. Sebenarnya di Indonesia sendiri becak juga banyak macamnya. Becak yang biasa beroperasi di Jakarta ternyata mempunyai spesifikasi yang sedikit berbeda dengan becak-becak di tempat lain. Saya pernah lihat bermacam-macam becak di Indonesia yang dipamerkan di Museum Angkut, Batu. 

Becak-becak yang dipamerkan di Museum Angkut

Nah bagaimana dengan becak di Malaysia? saya sendiri sih belum pernah coba naik becak/beca selama trip di Malaysia, namun saya pernah ketemu becak warna-warni penuh hiasan dan memasang musik kencang-kencang untuk menarik perhatian. Ternyata becak di Melaka, lokasi pengemudinya berada di samping kanan penumpang.

Becak di Melaka

Trishaw yang biasa beroperasi di Penang bentuknya hampir serupa dengan becak yang biasa kita temui di Indonesia, pengemudinya berada di belakang. Hampir sebagian besar becak yang pernah saya temui di jalanan sekita George Town memiliki payung yang berfungsi untuk melindungi supir becak dari panas dan hujan. 

Buat yang penasaran seperti apa bentuk becak di Penang dan ingin mengetahui cerita dibalik Penang Trishaw ini, ga perlu jauh-jauh ke Penang loh. Minggu depan atau tepatnya tanggal 14 - 16 Agustus 2015, Penang Global Tourism bekerja sama dengan Gandaria City mengadakan acara seru bertajuk Penang Trishaw Entourage. 

Sebelum mengunjungi Jakarta, acara serupa sudah pernah digelar di Hong Kong pada bulan Juni dan di Singapura pada bulan Juli yang lalu. Di acara tersebut, tidak hanya becak Penang saja yang dipamerkan, tapi banyak juga booth yang memamerkan potensi wisata di Penang. Mulai dari Street artnya, Booth Penang Hop On Hop Off, Booth oleh-oleh khas Penang hingga booth operator tur yang menawarkan paket-paket menarik ke Penang.

Yang menarik, selama acara berlangsung akan diadakan lomba photo berhadiah menginap gratis selama 4 malam di Penang lengkap dengan tiket pesawat untuk 2 orang pemenang. Sounds Interesting, right?



Jadi minggu depan bisa dong bantuin like foto saya, siapa tahu kan saya bisa menang dan jalan-jalan ke Penang lagi *ihh ngarep* *tapi kalo pada mau sumbang aminn kenceng-kenceng juga boleh kok*

Meet up di Gandaria City minggu depan yuk :)
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments

Tour with Penang HOHO (Hop-On Hop-Off) and experience Penang like never before


On early March this year, I traveled to Penang for holiday and I have to travel alone since my friends canceled their trip. At first I was afraid and hesitant about this trip because I haven't get enough time to learn about Penang's transportation, but thanked God I read about this Penang HOHO bus which just started their operation last November 2014. I was lucky enough by experiencing Penang in a fun way using this service. To be honest, it was my first time experience hopping on a double decker bus which has open deck and sky view seating area, that's why I was so excited when I hopped on to this bus. 

There are two different types of Penang HOHO bus, the first one is a front open deck and the last one is a rear open deck double decker bus.

Well, because Sharing is Caring, so now I'm gonna share to you about my experience using this Penang HOHO Bus. 

I started my 24hrs tour from Penang HOHO bus stop number 1 which is Gurney Drive, for those of you who wondering where is it, This bus stop located in front of Plaza Gurney that heading to Gurney Drive. (Hopefully you won't get lost like I did after I give you this clue). This bus stop also an interchange stop between Beach Route and City Route. There is also another one interchange Penang HOHO stop in front of Chowrasta Market in Jalan Penang, Georgetown. Psstt it has a sophisticated ticketing system, after we buy the voucher ticket on mobile counter, you will be given a simple voucher paper, but when you hop on to the bus, Penang HOHO staff will collect your voucher and starts to create a new receipt using their mobile apps that connected with ticket printer to print your ticket type and its validity period and I was like whoaaaa (well maybe because their staff used Iphone 6 hahahaha) 


With its 2 different routes, Penang HOHO cover around 50 major tourist attractions from Georgetown to Teluk Bahang area with total 33 bus stops. I was just like sitting on my seat and wait for my next stop.  City route will take you around the city (Georgetown), meanwhile Beach route will take you to Batu Ferringhi and Teluk Bahang. I can visit Tropical Spice, Hard Rock Cafe, Kek Lok Si Temple, Penang Hill and city tour in Georgetown in one day. Well, it depends on your duration on each place. On my experience, if you haven't decided where will you hop off the bus, you better take one full route and if the weather is good, I recommend you to take a seat on an open deck seating area.

When I used this service they didn't stop at bus stop no 4 which is Botanical Garden, I forgot to ask them why, but if next time you want to visit that garden you better ask their staff first.

Penang HOHO Routes

 Gurney Drive Penang HOHO bus stop

Front Open Deck Bus
  
Gurney Drive Bus Stop

Open deck area

This service also equipped with tour guide that will explain to the tourist about history and information about attraction near bus stop and even some places passed by the bus. It also has a free WIFI on board, so you can tweet or upload photo about the ride or attractions and brag it to you friends LOL. By purchasing the ticket, you will also get TGB (Tour Guide Book) that will show us about Penang's attractions, shopping center, accommodation and food/drinks places which is in a walking distance from Penang HOHO bus stop. It really helped me roam the city and sought for local food.

some of tourist attraction near bus stops
Top Left: Tropical Spice Garden (stop 27) Top Right: Hard Rock Hotel (stop 26)
Bottom Left: Penang Hill (stop 5) Bottom Right: Kek Lok Si Temple (stop 6)


Another view along the ride
Top: On the way to Penang Hill and Kek Lok Si Temple
Bottom: on Georgetown Area

Penang HOHO has two different bus stops, standard stop and on demand stop. When you want to stop at on demand bus stop, you should push stop button in the bus and if you want to hop on the bus from on demand bus stop, you should pull the pole until the sign changed into "Pick me up"


Top: Standard Penang HOHO Stop Sign
Bottom: On Demand Stop (you need to pull the sign until it changed into "pick me up!")

Penang HOHO Ticket Price

More About Penang Hop-On Hop-Off Bus:

- Tour will start daily from 9 am to 8 pm, with around 20 to 30 minutes intervals
- There are two tickets validity 24hr and 48hr
- You can buy your ticket on bus and Mobile Counter (on Stop 1 and Stop 9)
- Disable Friendly
- Children below 5 years old are free of charge
- From student, please bring your Student ID for special price

thank you Ms. Angeline for your hospitality

Thank you for the complimentary ticket from Penang Hop-On Hop-Off and yes I experienced Penang like never before
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia?
    Magical sunset dari Mrs. Macquaire Chair Percaya ga kalo saya bilang, Australia belum pernah masuk ke bucket list tempat yang mau sa...
  • Penginapan Favorit Teman Pejalan di Singapura
    Singapura sepertinya masih jadi destinasi favorit liburan ke luar negeri untuk solotrip, barengan sahabat, pacar, pasangan atupun keluarga....
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • Kompetisi InspirasiTravel5jt Skyscanner Indonesia [CLOSED]
    Mau menangin voucher tiket pesawat senilai 2 JUTA gaa? Ga mau nih? Mau gaaaa? I'll let you know HOW to win it Bulan Se...
  • [ADV] Sheraton Family Package
    Semenjak resmi punya ponakan cewe cantik dan bawel yang satu itu, otomatis kebiasaan ngetrip aku sedikit berubah. Kalo biasanya bisa huntin...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    1 year ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    3 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Jelajah Kuliner Asia Bersama Iftar Buffet Batam Marriott Hotel Harbour Bay
    1 month ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    1 year ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    2 months ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    4 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    7 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    10 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    1 year ago
  • The TraveLearn
    Selamat 5 Tahun, Keluarga Kembara
    6 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    13 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates