• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter

Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people who have grown too accustomed to their city, I never really feel the urge to explore Bandung through a tourist’s eyes. My knowledge of the up-and-coming restaurants or the most Instagram-worthy hotels was close to zero. Whenever I come to Bandung, I’d stay at my home and eat at familiar places, like Ayam Goreng Nikmat Panaitan (my dad’s favorite) or whatever is open near my old high school because my friends and I can’t be bothered to spend more time in the traffic than necessary.

Since I was turning 25 last February, I decided to give myself a little treat. I was not planning to splurge, so a girly staycation in Bandung sounded just perfect! My friend and I knew we wanted to stay somewhere chilly, and it didn’t take long until we fell in love with this new hotel in Lembang: Blackbird Hotel.


We arrived at Blackbird Hotel at around 3 pm on Friday and was greeted by a friendly receptionist. Upon checking in, we were asked to fill out a form regarding our breakfast preference. The form basically let us choose where we wanted to have our breakfast (in bed or at the hotel’s restaurant), what time we would like to have it, and most importantly, the food itself. I like the concept because it can minimize food waste as they only cook what you will actually eat.


A hotel attendant then took us to our room. I was so delighted to find that the room was not only neat and tidy, but also smelled like a spa. The interior was a mix of traditional and modern styles with terrazzo tiles that reminded me of my grandparents’ house. It didn’t take long until we felt at home, and since it was raining, we just spent the rest of the afternoon snuggling and watching movies on HBO.

At that time, Blackbird Hotel had just opened Sea Como Sea restaurant where guests can enjoy al fresco dining. But since we were having breakfast at that restaurant, we decided to have dinner outside. Maja House, which belongs to the same group as Blackbird Hotel, is located only a short walk from the hotel. I loved their philly cheese steak pizza and the city view from this restaurant was just spectacular.


The next day, I went to Sea Como Sea at 7:20 am and informed my room number to the staff right away. This is where Blackbird Hotel disappointed me. I waited and waited, but my food didn’t arrive. It was very disappointing, considering I had specifically written that I wanted to have my breakfast at 7-7:30 am, not to mention that it was a very simple meal: scrambled egg, waffles, sausage, salad, and carrot cake with guava juice and tea. After complaining about this issue, my tea was finally served, but it took 45 minutes for the food to be served. The taste of every single element was good, but I knew it shouldn’t have taken them that long to serve it. By the way, I noticed that the same thing happened to other guests.


The area is generally quiet, the weather is refreshing, and the greenery at the property compound was pleasant to look at. Since it was raining most of my stay, I didn’t get to swim or hang out by the pool, but the hotel was equipped with cute floaties for sunnier days. I would recommend Blackbird Hotel for weekend getaways, especially if you live in a busy city like Jakarta!

This article is written by Halida Aisyah, a friend of mine who have so much passion on travel. She loves to ride a bike everywhere. She had lived in Indonesia and Japan but considered the world as her home.



Halida A.

Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers

Share
Tweet
Pin
Share
33 comments
Atmosfer liburan akhir tahun sudah semakin terasa, sudah pasti banyak orang yang memanfaatkan waktu liburan panjang mulai dari hari Natal hingga Tahun Baru untuk berlibur. Buat kalian yang memiliki rencana berkunjung ke Taipei, cek dulu beberapa hal berikut, yang mungkin saja dapat membantu kalian dalam mencari info tentang kota terbesar di Taiwan ini:

1. Mesin Kartu MRT

Coba deh cek kalimat di layar, hihihih pake bahasa Indonesia loh

Mesin ini bakalan jadi hal pertama yang akan dicari di Tayuan Airport apabila kamu memutuskan naik MRT untuk sampai ke pusat kota. Mesin ini biasanya terletak tidak jauh dari pintu otomatis untuk masuk ke stasiun MRT. Ada dua jenis transaksi yang bisa kamu lakukan di mesin tersebut, yaitu mencetak kartu baru dan melakukan top-up saldo. Wait, ini Taipei kan ya? Lalu, gimana kalo pilihan dan instruksi di mesinnya berbahasa Mandarin dan penuh dengan tulisan-tulisan Hanzi (karakter bahasa Mandarin)?

Eitss, jangan keburu panik ya! Ternyata, selain ada panduan dalam bahasa inggris, di setiap mesin ini juga ada pilihan bahasa Indonesia. Yup, you read it right, BAHASA INDONESIA. Saya dan kak Dita sempat terkejut dan cekikikan sendiri karena ternyata kami tidak perlu repot-repot minta bantuan staf untuk mencetakkan kartu baru untuk kami.

Perlu diketahui, untuk mencetak kartu baru mesin tidak memberikan uang kembalian. Jadi, untuk transaksi cetak kartu dengan minimal 500 Dollar Taiwan sebisa mungkin menggunakan uang pas yah. Atau, kamu bisa ke mesin penukaran uang kecil dulu sebelum melakukan transaksi.

2. Mini Market Vs Kantong Plastik

Sama seperti supermarket di Hobart, Australia, sebagian besar supermarket dan mini market di Taipei, pengunjung diharuskan membayar jika ingin menggunakan kantong plastik. So, what is the best thing to do? Bawa kantong belanjaan sendiri atau beli kantong lipat serbaguna!

3. Jam Operasional Toko dan Pusat Perbelanjaan

Salah satu sudut di Shilin Night Market

Buat kamu yang punya jadwal belanja dalam itinerary selamat di Taipei, jangan lupa untuk cek jam buka tokonya yah. Kenapa? Karena beberapa pusat perbelanjaan dan toko-toko baru buka di siang hari atau sekitar jam 12 siang. Maakkkkk, ini gimana ceritanya? Hahahahahha jadi kalo memang mau wisata belanja, at least you can loosen your time a bit for resting at the hostel/hotel before shopping till drop.

Beberapa restoran juga banyak yang baru buka mulai pukul 12 siang atau bahkan di sore hari. Ga heran deh, waktu saya ke daerah Ximending sekitar jam 11 siang, daerahnya masih tampak sepi dan hanya beberapa convenience store dan restoran yang menyediakan menu sarapan aja yang sudah buka. Waduh!

4. Visa Taiwan

Buat Warga Negara Indonesia (WNI), jika ingin berkunjung ke Taiwan masih diharuskan untuk mengajukan visa kunjungan terlebih dahulu. Beruntung, untuk WNI yang punya visa Australia, Ameria, Schengen, Kanada, Jepang atau New Zealand yang masih berlaku dapat mengajukan visa secara online via website National Immigration Agency, ROC(Taiwan) secara gratis. Nanti aku buat postingan terpisah terkait ini yah.

5. Sewa Sepeda Online

Mamas ini sewa sepeda di Obike

Di Taipei juga sudah ada jasa penyewaan sepeda online yang memudahkan turis, loh! Coba deh kamu cek website Obike, Ubike dan Youbike. Kalian hanya perlu mendaftar, memilih periode lama rental dan membayar via official website mereka. Tempat pengambilan sepedanya sendiri, biasanya banyak dijumpai di dekat stasiun MRT.

Sebagai referensi, harga penyewaan sepedanya saat ini sekitar 5 dollar Taiwan untuk 30 menit di 4 jam pertama. Lebih dari 4 jam akan dikenakan tarif 10 dollar Taiwan per 30 menit dan jika lebih dari 8 jam akan dikenakan tarif 20 dollar Taiwan per 30 menit.

6. Mobil/Truk Sampah

Di beberapa negara lain, biasanya kamu menemukan mobil yang berjualan es krim yang menyetel musik seru dan khas untuk menarik anak-anak kecil untuk membeli es krim. Namun, lain halnya dengan yang di Taipei. Di sini, mobil yang menyetel suara atau musik dari mobil ternyata malah mobil sampah loh! Saya sempat 2 kali celingukan mencari sumber suara tersebut dan akhirnya malah bingung begitu tahu suara tersebut ternyata berasal dari truk sampah. hehehhehehe

7. Musim Diskon Belanja

Siap-siap jaga dompet ya kalo lagi musim diskon, terutama di daerah Ximending

Buat yang suka belanja, musti dicatet nih, musim diskon belanja di Taipei adalah  di sekitar bulan April - Mei dan September - November. Jangan lupa di bold, underline, dan italic ya! Nah buat yang mau coba hunting tiketnya dari sekarang, cobain fitur Price Alerts di aplikasi Traveloka saja.

Based on my experience, kita bisa tentukan bujet tiket ke tujuan misalnya Taipei, lalu tunggu dapat notifikasi di layar handphone atau email untuk tahu harga tiket ke Taipei sedang di atas bujet, di bawah bujet, atau pas dengan bujet kita. Pas sudah cocok dengan harganya, langsung booking. Jadi, ga repot kan? Kalian bisa cek info lebih lengkapnya di sini.

Untuk fitur Price Alerts, settingnya semudah ini loh, tinggal pilih kota asal dan tujuan, tanggal yang diinginkan dan bujet yang dimiliki

Nah, itu 7 hal yang perlu kalian tahu sebelum menjelajah di Taipei. Namun, selain itu ada beberapa informasi yang bisa kamu jadikan sebagai persiapan pergi ke Taipei. Beriktu di antaranya:


  • Untuk cek jadwal kereta, bisa install aplikasi Friendly Metro Taipei di smartphone kamu.    
  • Colokan listrik yang digunakan di Taipei/Taiwan adalah Tipe soket A, atau sama seperti Amerika dan Kanada.
  • Mata uang yang digunakan di Taiwan adalah Taiwan Dollar atau yang biasa disingkat NTD.
  • Dari bandara, ada 2 pilihan kereta dari bandara untuk menuju Taipei Main Station, yaitu MRT dan High Speed Train. Saran saya sih, lebih baik kalian memilih MRT karena stasiunnya langsung terhubung dengan airport, sedangkan High Speed Train harus terlebih dahulu menggunakan bus untuk mencapai stasiunnya. 
  • Taipei secara khusus atau Taiwan secara umum, merupakan daerah yang setiap tahunnya sering diterjang angin Taifun. Sebagai informasi, siklus tinggi untuk Taifun berada di sekitar bulan Juli - September. Jadi, sebaiknya kalian menghindari bulan-bulan tersebut saat akan berkunjung ke Taipei atau minimal cek weather forecastnya terlebih dahulu.
  • Kalau kamu tidak membeli sim card local  atau tida menyewa pocket WiFi sebenarnya tidak perlu khawatir, karena tempat-tempat umum seperti stasiun MRT, convenience store, dan bus dengan logo tertentu menyediakan WiFi secara gratis.

Well, sudah siap ke Taipei untuk liburan akhir tahun yang seru?




Share
Tweet
Pin
Share
17 comments
Sebelumnya saya pernah pergi ke Hong Kong di tahun 2013, yes sudah 4 tahun yang lalu. Hotel-hotel yang ada di daftar berikut ini sebenarnya belum pernah ada yang saya datangi tapi berhubung saat ini sedang sibuk mencari beberapa penginapan di Hong Kong dan ternyata saya menemukan beberapa hotel seru untuk menginap selama perjalanan ke Hong Kong, lalu kenapa tidak sekalian saja di-share ke teman-teman semua? ya kan? siapa tahu bisa jadi inspirasi tempat menginap saat berkunjung ke Hong Kong di liburan berikutnya.

1. Hotel Hart




Sebenarnya tertulis H:ART di websitenya dan saya juga menemukan hotel ini secara tidak sengaja loh. Hotel ini saat belum pernah masuk nih ke daftar "cool/artsy/instagramable hotel" di pencarian google, makanya pas saya main ke websitenya agak terkejut dan langsung jatuh cinta banget sama foto-foto kamarnya. Konsep hotelnya Stylish yet affordable, setiap kamarnya didesain dengan tema Industrial chic dan kamar mandinya tembus pandang *uhuk*. Lokasi hotel ini juga bisa jadi pertimbangan banget, karena terletak di tengah kota dan strategis untuk turis yaitu di Tsim Sha Tsui. Perjalanan menggunakan MTR juga tidak sulit karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari stasiun MTR Tsim Sha Tsui East. Saran saya, jika kalian menggunakan MTR ke hotel turun di stasiun Tsim Sha Tsui East dan keluar di exit N1 dekat Chelsea Hotel dan tinggal jalan menuju Hart Ave.





sumber gambar-gambar di atas 

2. Ovolo Hotel


Family & Friends Room - Ovolo Southside

Nama hotel ini sudah lebih dulu saya kenal dari beberapa hotel dengan brand yang sama di Australia. Di Sydney ada 2 hotel dari management yang sama dengan konsep unik dan style yang berbeda di tiap propertinya. Hal ini juga diterapkan di hotel-hotel Ovolo di Hong Kong. Ga tanggung-tanggung, Ovolo memiliki 5 properti di Hong Kong yang masing-masing memiliki nama sesuai dengan area tempat hotel tersebut berada. Ovolo Central, Ovolo Aberdeen Harbour, Ovolo Sheung Wan, Ovolo Noho dan Ovolo South Side. 


Super Shiny Room - Ovolo Central





Superior Twin - Ovolo Aberdeen Harbour

Setelah saya cek ke semua website Ovolo di Hong Kong, sepertinya harga kamar paling murah ada di Ovolo Aberdeen Harbour diikuti Ovolo South Side. Mungkin letak kedua properti tersebut bisa dibilang lumayan jauh dari pusat kota, terletak di bagian bawah Hongkong Island dan memang lebih cocok untuk tamu yang memilih daerah lebih sepi. Ovolo Sheung Wan memiliki kamar serupa apartment yang lengkap dengan kitchenette dan microwave. Oh iya, untuk kamar dengan ukuran lebih besar juga adanya di Ovolo South Side, selain ada tipe Long Loft ada juga tipe kamar Family & friends yang memiliki 2 queen bed dan cocok untuk 4 orang.

sumber gambar-gambar di atas

3. Hotel Stage


sumber : Stage Hotel

Kalo hotel yang satu ini letaknya ada Kowloon, satu pulau dengan Tsim Sha Tsui, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari areal itu. Untuk MTR terdekatnya bisa turun di Jordan station keluar di exit E (Nathan Road) dan berjalan ke arah utara atau ke arah Ya Mau Tei MTR station. Patokan utamanya adalah Starbucks yang ada di Nathan Road hotel ini hanya beberapa bangunan saja di belakang coffeeshop tersebut.


Pilihan kamarnya mulai dari Superior, Deluxe hingga Suite room dengan desain kamar yang didominasi dengan warna putih dan abu-abu bukan anak SMA tapi. Lokasinya juga strategis dan berekatan dengan beberapa rumah makan, night market hingga Wing On department store. Untuk range harga kamarnya dimulai dari 1200HKD.

4. Hotel Tuve


sumber Tuve Hotel Instagram

Nah kalo stylish hotel yang satu ini letaknya di Hongkong Island, satu pulau dengan Causeway bay. Berada di antara Fortress Hill MTR dan Tin Hau MTR tapi saran saya sih mending naik bis A1 atau naik tram aja kalo mau ke sini. Karena ga sampe 50 meter dari hotel ada tram stop di Wing Hing street.


Tiap-tiap kamar bertema minimalis or I would say industrial minimalist, Kenapa? karena beberapa sudut kamar memang terlihat kesan industrialnya seperti concrete wall yang dibiarkan apa adanya dan beberapa furniture yang sengaja dibuat terlihat rusty. Tempat jalan-jalan seru yang walkable dari hotel diantaranya Victoria Park, Noon Day Gun, IKEA dan Times Square di Causeway bay.

Sementara baru 4 dulu nih rekomendasi hotelnya, mana yang jadi favorit kamu? well atau dari kalian ada yang mau kasih masukan? Boleh banget loh, nanti saya tambahin ke artikelnya deh :) 
Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Semenjak bulan lalu ada demam yang kembali mewabah, namanya demam Minion. Semua ini gara-gara minion! Iya gara-gara si karakter kecil warna kuning yang sering ngomong "BELLO" atau "PAPOY" dari film Despicable Me. Ini bukan kalo pertama demamnya mewabah loh, sebelumnya saat film Despicable Me 1, Despicable Me 2 dan Minion the movie anak buah Gru ini berhasil memikat para pecinta film di seluruh dunia. Kayaknya cuma Minion juga yang berhasil membuat menu Happy Meal McDonalds di Indonesia lariiiiiis manissss, hahahaha.

Nah gara-gara demam ini juga, Universal Studio Singapore membuat satu event khusus bertajuk Despicable Me Break Out Party di mana si tokoh-tokoh kuning ini menjadi bintang utama selama satu bulan dari 15 Juni 2017 hingga 20 Agustus Mendatang.




It feels like everything turns into Minion. Dari gerbang masuk Universal Studios yang ada gantungan minion gede dan balon kuning hitam, jalanan di main street USA yang dipenuhi cardboard tokoh-tokoh film Despicable Me, booth mainan bertema minion ala-ala pasar malam, hingga satu panggung khusus yang memang diisi sama semua pertunjukan si Minion. 


Satu toko merchandise bernama Minion Mart di Main Street Area yang hanya menjual produk-produk minion juga jadi ramaaaaii berjejal pengunjung. Barang-barang lucu serba minion dari Popcorn Bucket, Minion Tumbler, Plushie, Baju-baju dengan gambar minion, hingga payung yang berubah menjadi warna kuning ketika basah dijual di sini. Gemes mau beli semua rasanya kan?

Ini jadi kunjungan kali ke dua saya ke USS setelah sebelumnya main ke sini di pertengahan tahun 2012 yang lalu. Dari kunjungan terakhir tersebut ternyata ada beberapa wahana baru di taman bermain ini. Seperti Puss in Boots Giant Journey dan Sesame street spaghetti space chase, dua-duanya merupakan wahana rollercoaster kecil dengan carriage yang bisa dimasuki hingga 4 orang yang juga sama-sama memiliki rel di atas carriage nya tapi bedanya Sesame Street wahananya Indoor dan penuh efek lampu seru plus ada narasi cerita kayak wahananya Madagascar.







Di jam-jam tertentu akan ada pertunjukan Minion seru di panggung yang sudah disiapkan di areal Main Street USA, beruntung saat baru masuk gerbang saya mengambil selebaran yang berisi jadwal-jadwal khusus Minion ini. Ada kuis buat para pengunjung sampai dance show bareng Gru dan The Minions!

Jujur Theme Park alias Taman bermain ini menjadi salah satu "heaven on earth" buat saya yang juga penggemar wahana-wahana ekstrim kayak roller coaster. Jadi segala macam wahana rller coaster di USS ini yang jadi incaran utama saya, mulai dari Battlestar Galactica (Human) *uhuk* tapi melihat panas yang cukup terik cuma berani naik Human aja, Cyclonnya nanti nanti yahh (ALASAN!!), roller coaster indoor the Mummy hingga wahana Transformer jadi favorit saya di tempat ini.

Saya juga punya TIPS nih buat kalian yang mau main di Universal Studios Singapore:

1. Datanglah lebih awal agar bisa masuk begitu gerbang depan baru dibuka untuk menghindari USS sudah keburu penuh orang.
2. Tandai wahana-wahana "favorit" yang memang jadi incaranmu dari awal, begitu gerbang buka segera menuju ke tempat tersebut supaya antrian belum panjang.
3. Jangan lupa bawa botol minum karena kalian bisa isi ulang botol minum kalian di water tap yang banyak tersedia di USS.
4. Untuk beberapa wahana ekstrim yang mengharuskan kalian menyimpang barang-barang di loker, jangan lupa untuk kalkulasi waktu yang dibutuhkan untuk mengantri. Di satu jam pertama loker akan gratis namun persiapkan uang 2 atau 5 dollar di kantong just in case waktu antrian kamu lebih dari 1 jam.
5. Saat panas lagi terik-teriknya di USS, bermainlah di wahana indoor, keluar masuk toko souvenir atau ngadem di restoran juga jadi pilihan yang menarik. 
6. Jangan lupa pakai sunblock dan bawa kaca mata hitam (jika diperlukan).
7. Ga suka ngantri? Waktu main kamu ga bisa seharian? tenangg kamu bisa beli Fast Pass yang berfungsi untuk cut line antrian sehingga kamu bakalan lebih dulu naik ke wahananya. Fast Pass ini "tiket" terpisah dari tiket utama kamu.
8. HAVE FUN AND LET'S FORGET FOR YOUR JOB AND ASSIGNMENT FOR A WHILE.




Baca juga artikel tentang Despicable Me Break Out Party di Blognya Dita








Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Jika sebelumnya mungkin kita pernah mendengar kampung tridi atau kampung warna-warni di Jodipan, ternyata masih di pulau Jawa namun sedikit bergerek ke barat kita juga disuguhk perkampungan warna-warni ini lagi. Bernama Kampung Pelangi, bangunan warna-warni yang terletak tidak terlalu jauh dari objek wisata Lawang Sewu ini ternyata berhasil menyulap perkampungan kumuh menjadi objek wisata dan sempat viral di social media loh. 

 Hello selamat datang di Kampung Pelangi

Saya sendiri berkunjung ke tempat ini sekitar akhir bulan Juni, jujur waktu itu saya belum dengar perihal keberadaan perkampungan ini dan memilih Semarang sebagai destinasi liburan lebih ke pemikiran saya yang "ih udah lama ya ga ke Semarang". Saya kemudian memutuskan untuk membeli tiket kereta menuju Tawang dan voila jadi juga jalan-jalan akhir pekan di Semarang. Terakhir ke Semarang sepertinya sekitar 7 tahunan lalu dan itupun hanya mampir seharian tanpa menginap sama sekali. Ketika itu hanya berkunjung ke rumah teman dan menghabiskan sore hari di rumah makan yang juga memiliki tempat pemancingan yaitu kampung laut.

Beruntung kali ini saya ditemani seorang teman yang memang tinggal di Semarang dan seorang teman yang memang janjian untuk berakhir pekan di Kota Lumpia ini. Buat yang tidak menyewa kendaraan seperti saya, pergi ke Kampung Pelangi ini juga terbilang mudah loh hanya dengan mencari taksi di pinggir jalan atau memesan taksi online juga bisa jadi pilihan. Saya sendiri sih lebih memilih taksi online sehingga saya bisa tau ongkos yang memang harus saya keluarkan untuk menuju ke tempat tersebut sedari awal.

Dinding satu rumah memiliki lebih dari 3 warna sekaligus

Kami diturunkan di sebrang lokasi, perkampungan ini memiliki lokasi persis di belakang jejeran penjual rangkaian bunga di jalan Dr. Sutomo IV. Berbeda dengan Jodipan dimana perkampungannya berada di sebuah lembah atau dataran yang lebih rendah, Kampung Pelangi Semarang ini berada di dataran yang lebih tinggi atau semacam bukit. Jalanan masuk ke kawasan ini juga 4 pintu berbeda yang masing-masing memiliki jembatan untuk menghubungkan jalan raya dengan daerah perkampungan.

Lihat kubah mesjid yang ikutan warna-warni juga? 

Kota Pelangi di tengah-tengah kota Semarang 

Yang menarik, setiap jalanan menanjak yang ada dari 4 jalur berbeda ini memiliki material jalanan yang berbeda. Satu jalur merupakan jalanan aspal mulus hingga ke pemukiman atas, satu jalur lain dengan alas konblok persegi panjang di sepanjang jalurnya, satu jalur memiliki jalanan bertangga untuk orang dan jalanan konblok yang dapat dilalui sepeda atau motor serta konblok berbentuk segi enam dan satu jalur lagi yang beralaskan "batu-batu" persegi yang disusun dan diberi semen di sekitarnya. Untuk melihat perbedaan keempat permukaan jalanan ini bisa dilihat di video di akhir artikel ini.

 Ini si jalanan tangga plus jalur motor yang saya ceritakan

Kalo di Jodipan terdapat beberapa mural yang sifatnya tiga dimensi, di sini seperti saya sempat menemukan hal yang serupa namun masih terhitung jari. Sisanya adalah gambar-gambar karya seniman dadakan dari kampung mereka. Tidak hanya tokoh-tokoh terkenal seperti Sponge bob, Shinchan dan Angry birds, tapi ada juga tokoh lokal seperti beberapa tokoh pewayangan.





Mesjid yang berada di perkampungan tersebutpun tidak ikut ketinggalan ambil andil dalam pengubahan citra perkampungan kumuh menjadi perkampungan wisata ini loh, setidaknya ada 2 tempat ibadah yang saya temukan di daerah ini, yang satu merupakan mushola yang dinding-dinding luarnya dicat warna warni dan satu lagi sebuah mesjid yang kubahnya juga ikut bersolek dengan cat warna-warni.

 di tahun 2017, say amasih nemuin wartel alias warung telekomunikasi, ihh wawww

Mas Tegaaaaa....

Berubahnya perkampungan ini menjadi Kampung Pelangi, sedikit banyak membantu perekonomian warga. Tidak sedikit dari beberapa warga yang kemudian membuka warung kecil-kecilan untuk berjualan makanan, minuman hingga kerajinan tangan atau cendera mata. Salah satu penjaja minuman dingin yang saya temui berujar, "Ini sih baru mulai awal tahun ini aja mba (adanya kampung pelangi) dan alhamdulillah semakin ke sini semakin ramai jadi pemasukan juga bertambah". Ibu ini juga menjelaskan beberapa program yang sengaja dibuat oleh ketua masyarakat sekitar bahwa saat itu sedang ada lomba mempercantik tong penampung air yang hampir dimiliki setiap rumah di sana. "Ada lombanya warna-warniin tong air, itu ada mading" lanjut si Ibu. Weehhh kalo dipikir-pikir udah lama juga saya ga melihat "mading" warga yang isinya info-info tentang penduduk setempat, seru banget ya. 

Menurut si Ibu itu juga, kali yang ada di depan jalur masuk perkampungan akan diperlebar dan dipercantik. Jadi ga sabar buat lihat perubahan lain lagi yang ada di Kampung Pelangi ini 6 bulan ke depan. Kalian ada yang sudah mampir ke sini juga?


Share
Tweet
Pin
Share
22 comments

Saat berkunjung ke Semarang, menginap di Ibis Hotel budget bisa dijadikan salah satu pilihan. Highlight utama dari hotel ini, I might say location!

Berlokasi di jalan Kapten Tendean, you won't miss this PURPLE building for a far. Hotel yang masih berada di bawah naungan Accor group ini memiliki beberapa lokasi di Indonesia, selain di Semarang ibis budget juga hadir di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Rooms

Hotel Ibis Budget di Semarang ini memiliki tiga jenis kamar yang berbeda dengan luas kamar yang sama, kamar standar dengan 1 double bed, kamar standard dengan 2 single beds dan kamar standard dengan 1 double bed plus 1 bunk bed. Yes you hear me right, bunk bed! dan dengan adanya bunk bed itu okupansi kamarnya jadi bisa maksimal bertiga yeah!! Fasilitas di tiap-tiap kamar juga sama seperti 24" LCD TV dengan tv kabel, free WiFi, standing shower, separated toilet, mineral water dan fresh towel. 



Breakfast

Tempat sarapan ada di lantai dasar satu lantai dengan lobby hotel. Sarapan di Ibis Budget ini disediakan dari jam 6 hingga jam 10 pagi. Beberapa pilihan makanan juga bisa dipilih tamu, seperti buffet yang biasanya terdiri dari nasi, lauk utama dan sayuran. Ada juga pojok roti yang menyiapkan roti tawar, toaster dan beberapa jenis selai. Sarapan juga lengkap dengan buah-buahan potong segar dan minuman seperti teh dan kopi.


Things To Do

Dari hotel ini ada beberapa tempat wisata dan tempat makan seru yang dibisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki, misalnya seperti Kedai es krim Zangrandi yang terletak tidak jauh di belakang hotel, belanja wifecake yang lagi heboh banget di Instagram yang terletak bersebrangan dengan hotel, mengunjungi Lawang Sewu hingga ke Kampung Pelangi yang lagi terkenal banget.

One more thing, saat ini kan udah jamannya ojek dan taxi online, nah kebetulan salah satu taxi online ada yang "berkantor" di gedung hotel ibis ini, jadi untuk pemesanan juga jauh lebih mudah karena biasanya ada beberapa driver yang kebetulan berlokasi di tempat tersebut. Jadi buat yang jalan-jalan dan tidak menyewa mobil juga ga perlu kebingungan untuk pergi ke sana sini deh.

*sebagian gambar bersumber dari www.ibis.com

Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • Cantiknya Musim Semi di Sydney
    Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai m...
  • Cafe & Restaurant Hopping in Yogyakarta
    Bukan cuma Jakarta dan Bandung aja yang lagi kebanjiran restoran dan cafe tempat nongkrong seru, Yogyakarta juga ngga mau ketinggalan. Saat...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    10 months ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    4 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    11 months ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    6 days ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    5 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    9 months ago
  • The TraveLearn
    Kota Tua Jakarta: Menyusuri Jejak Sejarah di Tengah Ibu Kota
    6 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates