• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter

Bukan Meidi namanya kalo jalan-jalannya minggu lalu kemudian artikel review hotelnya terbit di minggu setelahnya, hihihih begitu juga untuk hotel review kali ini. Pergi menginapnya sudah hampir 2 tahun lalu, tapi reviewnya baru ditulis di 2021. Saat ini memang belum bisa untuk bepergian kesana-kemari tapi review ini boleh lah yah disimpan untuk persiapan perjalanan berikutnya ke Jepang?



Perjalanan aku ke Tokyo di 2019 lalu bisa dibilang paling unprepared , kok bisa? Tiketnya memang sudah beli dari beberapa bulan sebelumnya sewaktu ada promo return for free dari Sydney by Jetstar dan seperti biasa harus transit di Gold Coast atau Cairns dulu (namanya juga promo!). Penginapan baru di-book beberapa hari sebelum pengajuan visa di konsulat Jepang di Sydney dan untungnya lancar. Waktu itu kepikirannya cuma mau yang tidak terlalu di tengah kota, murah dan tetap mudah transportasi dan dekat tempat wisata (dasar banyak mau!) akhirnya pilihan jatuh ke daerah Asakusa.

Akhirnya ketemu dengan Hotel Mustard Asakusa 2 ini yang jarangnya cuma 2-3 menit jalan kaku dari Sensoji Temple dan sekitar 6-7 menit jalan kaki dari Asakusa JR maupun subway station (menarik kan?)

Terlepas dari namanya, di penginapan ini juga ternyata menyediakan kamar tipe dormitory alias bunk bed dan pastinya itu yang jadi pilihan saya dong, secara bujetnya pasti hanya cukup di situ namun yang menarik share kamar mandi untuk tamu di hotel ini adalah tipe spa alias onsen. Bahkan menurut teman sedormitory yang kebetulan orang Jepang juga, tempat ini merupakan penginapan paling baik dan terjangkau dengan fasilitas onsen.

Proses check-in juga termasuk lancar dan seperti biasa saya datang terlalu awal karena kebetulan paginya baru datang dari Osaka (banyak hal tak terduga di trip ini sampe bingung ceritanya mau mulai dari mana, tapi mungkin di artikel lain ya!). Sekitar jam 10 pagi saya sudah check in dan staff hotel sudah memberitahu tentang semua fasilitas dan apa-apa aja yang ada di hotel, dia juga bilang onsennya sudah bisa dipakai lagi sekitar jam 1 siang jadi saya boleh balik ke hotel sekitar jam 1 dan mandi dulu meskipun masih belum bisa masuk kamar.

Oh iya, di hotel ini sarapannya tidak termasuk di harga dasar kamar akan ada tambahan biaya lagi per orangnya. Namun di hari pertama saya menginap, rasanya tidak worth it untuk sarapan di hotel jadi saya memilih untuk jalan keluar hotel pagi-pagi ke tempat tujuan wisata yang saya mau tuju. Tapi kalo kalian lain cerita deh kalo ada buffet spesial seperti waktu menginap di Kyoto, bisa dibaca di sini.

Kembali ke fasilitas hotel yah, di setiap kamar berjenis bunk bed akan disediakan bantal dan selimut dan sudah dalam kondisi tertata rapi ya, beberapa hostel di Jepang masih ada yang mengahruskan tamunya untuk memasang sprei dan selimut sendiri seperti yang pernah saya dan teman-teman inapi di Osaka.

Fasilitas bersama seperti ruang makan, kulkas dan laundry ada di lantai 1 bersamaan dengan tempat onsen. Onsen untuk perempuan dan laki-laki dipisah kok jadi aman! sedangkan di setiap lantai disediakan shared toilet juga dan untuk kamar-kamar private juga ada yang memiliki fasilitas toilet di dalam kamar.

Pengalaman paling menarik di hotel ini? tentunya Onsen dong! karena ini kali pertama saya mencoba onsen yang jujur sampai 5 hari menginap di tempat ini saya masih belum biasa jika ada orang lain yang menggunakan Onsen di saat bersamaan. Lalu gimana menyiasatinya? hahahah saya selalu jadi tamu paling pagi di Onsen. Saya mandi pagi sekitar jam setengah 6 atau jam 6 menghindari jam orang-orang lain menggunakan Onsen. Untuk mandi sore, kalo saya sudah kembali ke hotel lebih awal say abiasanya mandi sekitar jam 4 atau sekalian jam 9 malam di saat orang-orang keluar makan malam atau beberapa bahkan belum pulang dari day trip mereka. Ntah kapan baru bisa terbiasa kalo gini caranya hahahahaha.

Untuk soal makanan juga tidak perlu khawatir! Lokasi hotel berada sangat dekat dengan Sensoji temple (Asakusa Temple) yang berarti dekat juga dengan Orange street market dan Nakamise shopping street. Ada Ekimise dan Matsuya department store juga yang letaknya cuma 2 menit jalan dari hotel dan berbagai macam cafe serta coffee shop! oh iya dan tentunya bejubel convenience store ada di sekitar hotel.

Jadi gimana? tertarik buat menginap di tempat ini juga ga?

Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
111-0033 Tokyo-to, Taito-ku Hanakawado 1-7-10, Japan 
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people who have grown too accustomed to their city, I never really feel the urge to explore Bandung through a tourist’s eyes. My knowledge of the up-and-coming restaurants or the most Instagram-worthy hotels was close to zero. Whenever I come to Bandung, I’d stay at my home and eat at familiar places, like Ayam Goreng Nikmat Panaitan (my dad’s favorite) or whatever is open near my old high school because my friends and I can’t be bothered to spend more time in the traffic than necessary.

Since I was turning 25 last February, I decided to give myself a little treat. I was not planning to splurge, so a girly staycation in Bandung sounded just perfect! My friend and I knew we wanted to stay somewhere chilly, and it didn’t take long until we fell in love with this new hotel in Lembang: Blackbird Hotel.


We arrived at Blackbird Hotel at around 3 pm on Friday and was greeted by a friendly receptionist. Upon checking in, we were asked to fill out a form regarding our breakfast preference. The form basically let us choose where we wanted to have our breakfast (in bed or at the hotel’s restaurant), what time we would like to have it, and most importantly, the food itself. I like the concept because it can minimize food waste as they only cook what you will actually eat.


A hotel attendant then took us to our room. I was so delighted to find that the room was not only neat and tidy, but also smelled like a spa. The interior was a mix of traditional and modern styles with terrazzo tiles that reminded me of my grandparents’ house. It didn’t take long until we felt at home, and since it was raining, we just spent the rest of the afternoon snuggling and watching movies on HBO.

At that time, Blackbird Hotel had just opened Sea Como Sea restaurant where guests can enjoy al fresco dining. But since we were having breakfast at that restaurant, we decided to have dinner outside. Maja House, which belongs to the same group as Blackbird Hotel, is located only a short walk from the hotel. I loved their philly cheese steak pizza and the city view from this restaurant was just spectacular.


The next day, I went to Sea Como Sea at 7:20 am and informed my room number to the staff right away. This is where Blackbird Hotel disappointed me. I waited and waited, but my food didn’t arrive. It was very disappointing, considering I had specifically written that I wanted to have my breakfast at 7-7:30 am, not to mention that it was a very simple meal: scrambled egg, waffles, sausage, salad, and carrot cake with guava juice and tea. After complaining about this issue, my tea was finally served, but it took 45 minutes for the food to be served. The taste of every single element was good, but I knew it shouldn’t have taken them that long to serve it. By the way, I noticed that the same thing happened to other guests.


The area is generally quiet, the weather is refreshing, and the greenery at the property compound was pleasant to look at. Since it was raining most of my stay, I didn’t get to swim or hang out by the pool, but the hotel was equipped with cute floaties for sunnier days. I would recommend Blackbird Hotel for weekend getaways, especially if you live in a busy city like Jakarta!

This article is written by Halida Aisyah, a friend of mine who have so much passion on travel. She loves to ride a bike everywhere. She had lived in Indonesia and Japan but considered the world as her home.



Halida A.

Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers

Share
Tweet
Pin
Share
33 comments
Sebelumnya saya pernah pergi ke Hong Kong di tahun 2013, yes sudah 4 tahun yang lalu. Hotel-hotel yang ada di daftar berikut ini sebenarnya belum pernah ada yang saya datangi tapi berhubung saat ini sedang sibuk mencari beberapa penginapan di Hong Kong dan ternyata saya menemukan beberapa hotel seru untuk menginap selama perjalanan ke Hong Kong, lalu kenapa tidak sekalian saja di-share ke teman-teman semua? ya kan? siapa tahu bisa jadi inspirasi tempat menginap saat berkunjung ke Hong Kong di liburan berikutnya.

1. Hotel Hart




Sebenarnya tertulis H:ART di websitenya dan saya juga menemukan hotel ini secara tidak sengaja loh. Hotel ini saat belum pernah masuk nih ke daftar "cool/artsy/instagramable hotel" di pencarian google, makanya pas saya main ke websitenya agak terkejut dan langsung jatuh cinta banget sama foto-foto kamarnya. Konsep hotelnya Stylish yet affordable, setiap kamarnya didesain dengan tema Industrial chic dan kamar mandinya tembus pandang *uhuk*. Lokasi hotel ini juga bisa jadi pertimbangan banget, karena terletak di tengah kota dan strategis untuk turis yaitu di Tsim Sha Tsui. Perjalanan menggunakan MTR juga tidak sulit karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari stasiun MTR Tsim Sha Tsui East. Saran saya, jika kalian menggunakan MTR ke hotel turun di stasiun Tsim Sha Tsui East dan keluar di exit N1 dekat Chelsea Hotel dan tinggal jalan menuju Hart Ave.





sumber gambar-gambar di atas 

2. Ovolo Hotel


Family & Friends Room - Ovolo Southside

Nama hotel ini sudah lebih dulu saya kenal dari beberapa hotel dengan brand yang sama di Australia. Di Sydney ada 2 hotel dari management yang sama dengan konsep unik dan style yang berbeda di tiap propertinya. Hal ini juga diterapkan di hotel-hotel Ovolo di Hong Kong. Ga tanggung-tanggung, Ovolo memiliki 5 properti di Hong Kong yang masing-masing memiliki nama sesuai dengan area tempat hotel tersebut berada. Ovolo Central, Ovolo Aberdeen Harbour, Ovolo Sheung Wan, Ovolo Noho dan Ovolo South Side. 


Super Shiny Room - Ovolo Central





Superior Twin - Ovolo Aberdeen Harbour

Setelah saya cek ke semua website Ovolo di Hong Kong, sepertinya harga kamar paling murah ada di Ovolo Aberdeen Harbour diikuti Ovolo South Side. Mungkin letak kedua properti tersebut bisa dibilang lumayan jauh dari pusat kota, terletak di bagian bawah Hongkong Island dan memang lebih cocok untuk tamu yang memilih daerah lebih sepi. Ovolo Sheung Wan memiliki kamar serupa apartment yang lengkap dengan kitchenette dan microwave. Oh iya, untuk kamar dengan ukuran lebih besar juga adanya di Ovolo South Side, selain ada tipe Long Loft ada juga tipe kamar Family & friends yang memiliki 2 queen bed dan cocok untuk 4 orang.

sumber gambar-gambar di atas

3. Hotel Stage


sumber : Stage Hotel

Kalo hotel yang satu ini letaknya ada Kowloon, satu pulau dengan Tsim Sha Tsui, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari areal itu. Untuk MTR terdekatnya bisa turun di Jordan station keluar di exit E (Nathan Road) dan berjalan ke arah utara atau ke arah Ya Mau Tei MTR station. Patokan utamanya adalah Starbucks yang ada di Nathan Road hotel ini hanya beberapa bangunan saja di belakang coffeeshop tersebut.


Pilihan kamarnya mulai dari Superior, Deluxe hingga Suite room dengan desain kamar yang didominasi dengan warna putih dan abu-abu bukan anak SMA tapi. Lokasinya juga strategis dan berekatan dengan beberapa rumah makan, night market hingga Wing On department store. Untuk range harga kamarnya dimulai dari 1200HKD.

4. Hotel Tuve


sumber Tuve Hotel Instagram

Nah kalo stylish hotel yang satu ini letaknya di Hongkong Island, satu pulau dengan Causeway bay. Berada di antara Fortress Hill MTR dan Tin Hau MTR tapi saran saya sih mending naik bis A1 atau naik tram aja kalo mau ke sini. Karena ga sampe 50 meter dari hotel ada tram stop di Wing Hing street.


Tiap-tiap kamar bertema minimalis or I would say industrial minimalist, Kenapa? karena beberapa sudut kamar memang terlihat kesan industrialnya seperti concrete wall yang dibiarkan apa adanya dan beberapa furniture yang sengaja dibuat terlihat rusty. Tempat jalan-jalan seru yang walkable dari hotel diantaranya Victoria Park, Noon Day Gun, IKEA dan Times Square di Causeway bay.

Sementara baru 4 dulu nih rekomendasi hotelnya, mana yang jadi favorit kamu? well atau dari kalian ada yang mau kasih masukan? Boleh banget loh, nanti saya tambahin ke artikelnya deh :) 
Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Saat berkunjung ke Semarang, menginap di Ibis Hotel budget bisa dijadikan salah satu pilihan. Highlight utama dari hotel ini, I might say location!

Berlokasi di jalan Kapten Tendean, you won't miss this PURPLE building for a far. Hotel yang masih berada di bawah naungan Accor group ini memiliki beberapa lokasi di Indonesia, selain di Semarang ibis budget juga hadir di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Rooms

Hotel Ibis Budget di Semarang ini memiliki tiga jenis kamar yang berbeda dengan luas kamar yang sama, kamar standar dengan 1 double bed, kamar standard dengan 2 single beds dan kamar standard dengan 1 double bed plus 1 bunk bed. Yes you hear me right, bunk bed! dan dengan adanya bunk bed itu okupansi kamarnya jadi bisa maksimal bertiga yeah!! Fasilitas di tiap-tiap kamar juga sama seperti 24" LCD TV dengan tv kabel, free WiFi, standing shower, separated toilet, mineral water dan fresh towel. 



Breakfast

Tempat sarapan ada di lantai dasar satu lantai dengan lobby hotel. Sarapan di Ibis Budget ini disediakan dari jam 6 hingga jam 10 pagi. Beberapa pilihan makanan juga bisa dipilih tamu, seperti buffet yang biasanya terdiri dari nasi, lauk utama dan sayuran. Ada juga pojok roti yang menyiapkan roti tawar, toaster dan beberapa jenis selai. Sarapan juga lengkap dengan buah-buahan potong segar dan minuman seperti teh dan kopi.


Things To Do

Dari hotel ini ada beberapa tempat wisata dan tempat makan seru yang dibisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki, misalnya seperti Kedai es krim Zangrandi yang terletak tidak jauh di belakang hotel, belanja wifecake yang lagi heboh banget di Instagram yang terletak bersebrangan dengan hotel, mengunjungi Lawang Sewu hingga ke Kampung Pelangi yang lagi terkenal banget.

One more thing, saat ini kan udah jamannya ojek dan taxi online, nah kebetulan salah satu taxi online ada yang "berkantor" di gedung hotel ibis ini, jadi untuk pemesanan juga jauh lebih mudah karena biasanya ada beberapa driver yang kebetulan berlokasi di tempat tersebut. Jadi buat yang jalan-jalan dan tidak menyewa mobil juga ga perlu kebingungan untuk pergi ke sana sini deh.

*sebagian gambar bersumber dari www.ibis.com

Share
Tweet
Pin
Share
11 comments

Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota ini selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk wisatawan, lokal maupun mancanegara. Beruntung di bulan ini ada beberapa libur long weekend, lumayan kan bisa liburan tanpa harus menghabiskan cuti, tapi konsekuensinya tempat liburan jadi ramah dan harga tiket pesawat agak kurang bersahabat sih.

Hampir di setiap kunjungan saya ke Jogja, saya menginap di daerah Soswrowijayan atau Prawirotaman. Kali ini, berbekal informasi dari teman blogger saya mengetahui ada hotel yang menarik berada di jalan Patangpuluhan daerah Wirobrajan, Jogjakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Keraton Jogja, bernama Yats Colony. Akhirnya nginep juga di hotel yang instagramable di Yogya *happpyyy*. 


Yats ini sendiri ternyata merupakan kebalikan dari STAY kalimat bahasa inggris yang berarti tinggal. Yang menarik, ada 5 tipe kamar di Boutique hotel ini yang masing-masing bernama HA, NA, CA, RA, KA. Hancaraka adalah sebutan untuk aksara serumpun di daerah Jawa. Kali ini kamar yang akan saya review adalah kamar dengan tipe RA.

RA room yang saya tempati berada di lantai dua dengan pemandangan ke kolam renang. Ukuran kamarnya 22 meter persegi dan tipe kasurnya sendiri ada yang 2 single beds dan 1 king size bed. Kamar di desain dengan dominasi warna putih yang membuat kamar tampak lebih clean dan stylish. Yang unik, beberapa barang di kamar terdapat label yang memiliki dua bahasa yaitu Jawa dan Bahasa Inggris. 

Beberapa artpiece yang terdapat di tiap kamar merupakan karya lokal loh, misalnya seperti centerpiece kayu dengan ilustrasi unik di dinding atas tempat tidur adalah karya Aditya Pratama (ilustrator Indonesia yang pernah terlibat proyek Berrybenka packaging dan ilustrator untuk buku Flavours of Bali) dan tempat anyaman putih untuk menyimpan toiletries yang didesian oleh Ayang Cempaka, ilustrator Indonesia yang saat ini tinggal di Dubai dan terkenal dengan goresan cat airnya yang cantik.

my RA twin beds room




Room signnya juga unik

Selain tipe kamar yang saya inapi ini, ada juga HA room dengan luas 36 meter persegi yang ternyata berbentuk kamar loft alias dua lantai di mana tempat tidur berada di lantai atas. NA room dengan luas yang juga 36 meter persegi dan dengan dua akses masuk, bisa melalui pintu utama kamar atau melalui area kolam renang. CA & KA room dengan luas 22 meter persegi sama seperti yang saya inapi yang berbeda, CA memiliki akses langsung ke kolam renang sedangkan KA terletak agak jauh dari area kolam renang. 

pool view dari jendela kamar



 Pool view di malam hari

Untuk ukuran kamar yang lebih luas dengan tipe kamar yang lebih unik, saya sarankan untuk memilih HA room. Sedangkan untuk yang datang bersama keluarga dengan anak-anak yang masih kecil saya sarankan untuk memiliki tipe NA room karena bisa langsung mendapatkan akses ke kolam renang dengan teras belakang yang juga asik untuk dipakai duduk-duduk.

Tiap-tiap kamar tidak diberikan fasilitas gelas, air botolan, teh, kopi dan cutlery sendiri, namun sebagai gantinya ada "refreshment corner" yang menyediakan barang-barang tersebut di atas dan dapat dipergunakan untuk tamu. Selain refreshment corner, fasilitas hotel lainnya juga lengkap, mulai dari free WiFi, toiletries lengkap, sepasang sendal, fresh towels, kolam renang, sunken deck, BBQ deck, penunjuk arah kiblat, ada musholla juga di arah belakang hotel, sedangkan untuk airport transfer, pool towels dan hair dryer upon request.

Saat ini, Yats Colony belum memiliki room service sehingga untuk beberapa makanan yang ingin dipesan dari restoran hanya dapat dilakukan pemesanan takeaway by phone untuk kemudian kita pick up sendiri di restoran. Restoran terletak di lantai dasar, menyambung dengan resepsionis yang juga merangkap sebagai kasir toko pernak-pernik dan kasir restoran+coffee shop "coffee smith". 



Sarapan di Yats juga ga kalah seru, selain menu utama yang bisa dipilih sendiri (nasi uduk, bubur ayam, eggs benedict) ada buffet untuk beberapa menu roti, sereal, buah dan minuman.  

Overall, I really had a great time at Yats Colony sampai-sampai saya tidak ingin pulang dan maunya tinggal di sini aja, hahahaha. Thanks to Kak Ika yang udah infoin hotel kece ini dan next trip ke Jogja maunya teteeeep nginep di sini lagi. I'm in love with this hotel too much.


Yats Colony
Jl. Patangpuluhan No.23, Wirobrajan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Share
Tweet
Pin
Share
43 comments

Berawal dari postingan Kania di blognya tentang Hotel lucu di Bandung, saya menemukan sebuah konsep kamar yang unik dimana kamar tersebut bertipe "rooftop" yang salah satu dindingnya merupakan jendela kaca dengan sudut yang miring. Tangan ini langsung gatel cari-cari informasi tentang Beehive Boutique Hotel ini ke beberapa website pemesanan hotel. Awalnya saya kecewa karena tidak menemukan tipe kamar yang Kania sebutkan di postingannya. Karena keinginan main ke kamar "rooftop" ini tidak terbendung, saya akhirnya coba telepon ke hotelnya langsung untuk memesan kamar rooftop ini. (seumur-umur saya belum pernah booking hotel via telepon dan langsung ke hotelnya loh *sumpah*, maap norak).


Long story short, saya akhirnya berhasil memesan kamar rooftop ini plus langsung memastikan kamar yang saya inginkan yang mana. Hotel ini hampir serupa dengan Oliver's Hostelry, hotel yang pernah saya inapi sebelumnya di mana setiap kamar desainnya berbeda-beda. Oh iya for your info di hotel ini cuma ada 3 kamar dengan tipe rooftop.

Common Area

I would say this hotel is super INSTAGRAMABLE. Sedari awal masuk ke lobby aja, saya udah sibuk celingukan sana sini sambil senyum-senyum sendiri melihat lobbynya yang cantik. Lobbynya dikelilingi jendela kaca sehingga di siang hari pencahayaannya sangat terang, pemilihan furnitur dan barang-barang di lobby sudah seperti showcase Majalah Martha Stewart Living deh rasanya. I know I would love to spend some time in this area. Gak sampai di situ aja, ternyata hotel 5 lantai ini memiliki sudut cantik di tiap-tiap lantainya. Karena kamar saya kebetulan ada di lantai 4, saya melewati semua showcase ini dan pastinya selalu berhenti untuk foto-foto dulu.



Dreams don't work unless you do

Rooms

Secara keseluruhan tiap-tiap kamar di hotel ini mengusung tema Scandinavian dan dibagi lagi ke dalam 5 tema pilihan, Dusty Miller, Olive Green, Maiden Fern, Lily of The Valley dan Lily of The Nile. Untuk kamar rooftop hanya ada di tipe Lily of the Valley dan Lily of The Nile. Untuk tempat tidur juga ada pilihan twin bed dan double bed, buat yang suka bingung sama tipe kasurnya ini mending yang diinget salah satu aja, misalnya twin bed itu berarti terdiri dari 2 tempat tidur single.   



Kamar yang saya inapi bertema Lily of The Valley, ukuran kamarnya cukup luas dan ada akses ke balkon juga. Tiap-tiap kamar sudah dilengkapi dengan LCD TV kabel, tea & coffee corner, toiletries, hot & cold shower dan free WiFi. 

Saya sempat celingukan di kamar untuk mencari arah kiblat tapi ga ketemu juga. Sebenarnya bisa saja sih telepon ke front office untuk bertanya arah kiblat tapi kemarin akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan mobile apps compass.


Kamar-kamar cantik di hotel ini cocok banget untuk diinapi bersama teman atau keluarga, namun rasanya kurang cocok apabila kita membawa keluarga yang sudah berumur karena untuk akses ke kamar hanya menggunakan tangga, well kebayangkan kalo tiba-tiba dapat kamar seperti punya saya di lantai 4.



Di malam saya menginap di Beehive, hujan turun cukup lebat. Biasanya saya akan sedikit kesal jika saat liburan ternyata turun hujan, tapi kali in cukup berbeda dan meskipun hujan turun ternyata masih tetap menyenangkan. Kok bisa? Hotel ini satu area dengan dua restoran yang masih dalam manajemen yang sama yaitu Beehive cafe dan Kapulaga resto, jadi saat hujan turun sata tidak perlu khawatir kesulitan mencari makan malam. Selain itu, ternyata air hujan yang jatuuh dan mengalir di jendela kamar menjadi pemandangan unik tersendiri yang malam bikin betah lama-lama di kamar. The perks of having rooftop room theme *love love love*. Andai aja pemandangannya langsung hutan pinus atau lembah hijau yah.

Breakfast

Setelah check in, saya disodori selembar kertas berisi daftar menu sarapan yang bisa kami pilih untuk besok paginya. Awalnya saya pikir konsepnya akan sama seperti Oliver's yang diantar ke masing-masing kamar. Ternyata sarapan bisa dipilih untuk disantap di Beehive cafe atau di Kapulaga dan tentunya dengan memilih menunya terlebih dahulu. Ada 5 jenis menu diantaranya, Nasi uduk, Nasi goreng, Full beehive breakfast, egg & toast dan cereal. Tiap-tiap menu sudah termasuk minum, bisa dipilih antara kopi atau teh.

Saya memesan nasi goreng dan teman saya memesan full beehive breakfast yang ternyata disajikan lengkap dengan potongan buah juga. Menu nasi gorengnya sih standard lengkap dengan kerupuk, telor mata sapi, sosi sapi dan acar sedangkan full beehive breakfast sepertinya jadi menu yang paling banyak elemennya, mulai dari roti bakar, hash brown, telor mata sapi, beef bacon, sosis sapi, salad dan tumis jamur. 





  
Overall, saya suka pake banget menginap di hotel ini. Selain kamarnya yang cantik dan nyaman, lokasinya juga strategis dan hanya sejengkal dari jalan raya Dago (Jl. Ir. H Juanda). Mungkin untuk kerapihan kamar mandinya bisa ditingkatkan sedikit and it would be perfect :), kemarin saya rasanya agak kurang rapi tapi semoga cuma kamar saya aja sih. 


Jadi gimana? Kalian udah kepengen langsung pesan kamar di hotel ini untuk liburan selanjutnya di Bandung kan?





Beehive Boutique Hotel
Jl. Dayang Sumbi No 1 - 3, Bandung
(022) 2505801
Share
Tweet
Pin
Share
31 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
    Bukan Meidi namanya kalo jalan-jalannya minggu lalu kemudian artikel review hotelnya terbit di minggu setelahnya, hihihih begitu juga untuk ...
  • [ Hostel Review ] 5 Footway.inn Bugis Project - Singapore
    5footway.inn Project Bugis Beberapa kali berkunjung ke negara tetangga, Singapura, saya selalu menginap di hostel, bukannya anti Hotel...
  • Cantiknya Musim Semi di Sydney
    Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai m...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    3 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    3 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    10 months ago
  • Mari Melantjong!
    Takeru Satoh Dari Baris Ketiga
    5 months ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    4 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    8 months ago
  • The TraveLearn
    Honest Review Topremit: Solusi Kirim Uang ke Luar Negeri yang Ternyata Berguna Banget Buat Traveler
    1 day ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    8 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates