Saya, Peta dan AirAsia

by - 10:07 PM

Ketika kebanyakan anak kecil lain kala itu sibuk membaca majalah bobo atau tabloid fantasi, saya malah sibuk melihat-lihat peta sambil menghapal ulang daftar nama negara berserta ibu kotanya, menghapal bendera negara-negara hingga sibuk menggambar ulang peta negara-negara yang saya pinjam dari atlas punya kakak. 
Sewaktu saya SD, setiap harinya guru kelas selalu memberi kami tugas sekolah yang berbeda daripada anak-anak di sekolah yang lain, selain tugas matematika atau pelajaran lain. Saya dan teman-teman lain mendapat tugas untuk menghapal isi dari RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap), materi setiap hari beda-beda, mulai dari negara dengan ibu kotanya, negara dengan lagu kebangsaannya, negara dengan mata uangnya dan masih banyak lagi. Setiap harinya akan ada murid-murid yang dipanggil bergantian ke depan kelas dan menjawab pertanyaan kuis dari guru kelas. Sisi positifnya masih banyak isi RPUL yang saya hapal hingga saat ini.
Lalu bagaimana saya bisa suka dengan peta?
Berawal dari negara-negara yang saya hapal dari RPUL tadi, saya diam-diam meminjam atlas punya kakak dan mulai mencari-cari nama negara tersebut di peta dunia. Awalnya hanya ingin membuktikan bahwa yang tertulis di RPUL adalah benar. Benar bahwa Inggris ada di benua Eropa, benar bahwa Indonesia berada di benua Asia dan mencari kebenaran-kebenaran lainnya versi RPUL. Lama kelamaan saya justru tertarik dengan gambar dan bentuk-bentuk yang ada di dalam sebuah peta kota, negara atau benua.
Memperhatikan dengan detail simbol-simbol yang digunakan untuk gunung, rel kereta api, sungai, ibu kota negara, garis putus-putus hingga lekukan garis bibir pantai.Jangan salah, sewaktu saya kecil, saya bisa menghapal nama negara hanya dengan melihat bentuk peta buta negaranya saja loh, nah kalau sekarang? cuma bisa senyum-senyum aja.

Awalnya saya selalu bertanya,
"Memangnya bentuk Jakarta seperti ini mah?"
"Kok ini jalanannya belok-belok?"
"Rumah kita terlihat di peta ga?"
"Kok ini daratan Vietnam, Thailand, Singapura sama Indonesia warnanya beda?"
"Warna kota Bogor kok hijau ma? itu jalanan di luar warna aspalnya hitam kok"

Ketika beranjak sedikit besar,
"Di luar pulau Jawa seperti apa ya ma keadaannya?"
"Gimana caranya kita bisa pergi ke Singapura?"
"Ada apa sih mah di Inggris? Bangunannya sama seperti di Jakarta?"

Mama saya termasuk orang yang sangat sabar kayaknya, karena jika saya sudah melihat peta pertanyaan yang keluar dari mulut saya banyak sekali mengalahi pembaca soal cerdas cermat.

Dengan sabar dan senyuman mama berkata,"Nanti kalo sudah besar, kamu bisa kok mengunjungi tempat itu satu-satu"

"Gimana caraaanya maah? beli pesawat terbang yaah" mungkin mendengar anaknya mulai aneh-aneh dan sebelum makin banyak pertanyaan yang keluar, mama memilih melanjutkan aktifitas memasaknya.
Duh maaf yah kala itu belum mudah untuk melakukan pencarian melalui internet, rasanya aplikasi untuk mengetik di komputer saja masih WS4 (angkatan 2000an hihihi).  
Dari lahir hingga berusia 22 tahun, untuk melakukan perjalanan ke kota lain saya biasa melalui jalan darat. Entah apakah Papa yang menyetir mobil menyusuri Jakarta hingga Surabaya, dan dilanjut naik feri untuk mencapai Bali atau naik bus bersama teman-teman kantor Papa dalam rangka outing ke Jogja. Sedangkan Papa dan Mama sendiri sering dinas kantor ke penjuru nusantara dan menggunakan pesawat. Sambil bermimpi agar dapat melakukan perjalanan serupa, saya membuat poster khusus disalah satu dinding kamar untuk menggantungkan pencapaian yang diraih oleh kedua orang tua saya tersebut.Poster tersebut berisi gambar peta Indonesia dan akan saya tempelkan sebuah pin plus gantungan kunci oleh-oleh Papa atau Mama dari provinsi tersebut. Sekaligus menggantungkan mimpi dan impian saya supaya dapat pergi keliling dunia.
Ketika saya harus pindah kamar, poster tersebut harus diturunkan dan semua gantungan kunci disimpan di dalam kantong. Seiring berjalannya waktu saya lupa dengan poster impian dan gantungan kunci tersebut dan ketika sadar, ternyata sudah banyak gantungan kunci yang hilang. Ada yang digunakan Mama untuk gantungan kunci rumah, dipakai kakak untuk gantungan tas, dipinjam   Papa untuk gantungan kunci mobil dan lainnya.Mau bagaimana lagi :(
Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menempel poster baru, tapi kali ini tidak satu, melainkan dua buah poster. Yang pertama bergambar peta Indonesia dan yang satu lagi bergambar peta Dunia. Harapan dan impian saya juga ikut saya tempel ketika saya menempel ke dua poster tersebut di dinding kamar.
Lalu apa hubungan dengan Air Asia?
Tahun 2010 menjadi langkah awal saya mengisi poster impian, tiket Airasia Jakarta – Jogja merupakan tiket pesawat pertama saya dan menjadi tonggak sejarah buat saya dan keluarga. Selain ini merupakan perjalanan pertama dengan pesawat bersama seluruh keluarga inti lengkap, kami juga dilanda kekhawatiran karena kala itu bandara Adi Sutjipto baru dibuka kembali setelah satu bulan tidak beroperasi akibat dari letusan gunung Merapi. Jalanan sepanjang Malioboro sepi, museum monjali yang baru buka pada hari itupun masih berselimut debu, bahkan di pantai parangtritis hanya kami sekeluarga yang datang berkunjung. Saya sebenarnya takut ketinggian dan karena ini penerbangan pertama saya, jelas level ketakutan bertambah dengan drastis, namun perjalanan dengan Airasia sungguh nyaman dan menyenangkan, rasa takut sayapun hilang. Bahkan begitu saya baru menginjakkan kaki kembali di bandara Soekarno Hatta, saya sudah berbisik ke kakak, tahun depan kita kemana lagi?
Di Senai International Airport
Dari tahun 2010 hingga 2014 ini, pin di poster selalu bertambah. Tidaknya hanya provinsi-provinsi di Indonesia, namun juga Negara-negara di luar Indonesia. Selalu ada tempat baru yang saya kunjungi setiap tahunnya sebagai bagian dari pencapaian impian saya. Dari yang awalnya takut bepergian dengan pesawat hingga akhirnya selalu merindukan perjalanan dengan pesawat terbang.Saat ini hamper setiap hari sibuk mencari tiket pesawat promo untuk perjalanan selanjutnya di website Airasia. Terima Kasih AirAsia sudah mengubah hidup saya, berawal dari perjalanan ke Singapura, Kuala Lumpur, Johor Bahru, Ho Chi Minh City, Hingga Hong Kong, berkat kamu impian saya untuk keliling dunia perlahan-lahan pasti tercapai.  
Mengintip ke luar jendela di penerbangan Jakart - Jogja

Sayap Airasia pada penerbangan Jakarta - Ho Chi Minh City

Tahun depan sudah ada beberapa tiket di tangan, Bgaimana dengan akhir tahun ini? Nepal mungkin?


Artikel ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog yang diadakan Airasia   

You May Also Like

8 comments

  1. walopun aku ga bisa baca peta Mei, tp ttp, peta itu buku yg ga pernah bosen aku liat :D... selalunya sambil ngebayangin, next travel aku kemana yaaaaa ^o^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, aku jadi Dora mulu kak kalo ngetrip, hobby nyasar tapinya :P dan kalo nyasar ga mau nanya orang lain keccuuali kepepet :P

      ayoooo mau ke manaa kamuu kak?

      Delete
    2. 9-20 dec mw k Chiang Rai, Chiang Mai, trs lanjut Brunei..Yuuuk ikutaannn :) Ini kali pertama jg aku pergi bareng temen..biasa ama suami ;p

      Delete
    3. huwaaaa udah ga punya cuti sepanjaaang ituh :(( doakan saya ajaa tahun depan semoga bisa lebih fleksibel *AMMMINNN yang KENCENNGG*

      Delete
  2. Wah, semoga cita-citanya mengelilingi dunia tercapai, ya :)

    ReplyDelete
  3. Mantabh Mei ... So next year mau ke mana aja? ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ke mana ajaa deh asal ada Om TImot, Aku ikutaaan ahhahaha

      Delete

Thank you for leaving a comment :)