• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Salah satu destinasi atau objek wisata terkenal di Sydney yang tidak boleh terlewatkan, selain Opera House dan Pantai Bondi adalah Blue Mountain. Dari namanya mungkin kepikiran, “Blue Mountain? Gunungnya berwarna biru ya?”. Setidaknya itulah yang saya pikirkan tapi ternyata gunungnya tidak biru tuh. 

Kenapa namanya Blue Mountain? Dengar-dengar karena pas saat berkabut gunungnya kelihatan berwarna biru dari kejauhan. Tapi kayaknya memang semua gunung kalau dilihat dari jauh berwarna biru kan ya. Tidak hanya namanya yang bikin penasaran tapi pemandangan disekitarnya juga bikin banyak orang penasaran sehingga sering dikunjungi oleh para wisatawan. 

Echo Point Lookout

Area Blue Mountain sebenarnya lebih ke dataran tinggi yang terangkat sehingga tidak terlihat seperti gunung, namun lebih seperti lembah yang luas. Biasanya para pengunjung yang datang ke sini akan langsung mendatangi spot view point yang bernama Echo Point. Dari sini kelihatan pemandangan yang luas dan juga asri kawasan Blue Mountain. 

Terlihat juga sususan batu menjulang ke atas dari Jamison Valley yang bernama Three Sisters. Three Sisters yang juga menjadi primadona ini bisa juga dilihat dari dekat. Saya berjalan melewati bebatuan diakhiri dengan tangga tangga yang cukup terjal dan kemudian melewati jembatan. Sampailah di sister yang pertama. 

Honeymoon Bridge

Jembatan ini bernama Honeymoon Lookout. Mungkin ada alasan tertentu kenapa disebut dengan nama ini. Katanya beberapa ratus tahun yang lalu banyak pasangan bulan madu yang mengunjungi spot ini untuk mengambil foto romantis. 

Kawasan Taman Nasional Blue Mountain menawarkan banyak trail atau jalur untuk bushwalking dari yang levelnya lebih gampang sampai yang susah. Saya memilih trail yang paling gampang karena saya cuma punya waktu sehari saja. The Giant Stairways dan Prince Henry Cliff Walk yang mengarah ke Katoomba Falls. 

Prince Henry Cliff Walk

Kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan trail ini sekitar 30-40 menit satu arah. Jalurnya cukup gampang, pepohonan yang rimbun membuat saya lebih menikmati pemandangan sekitar. Katoomba Falls tidak seindah yang saya bayangkan. Ya, kurang lebih beginilah saya menghabiskan hari di Blue Mountain. Saya akan kembali lagi di hari lain untuk mencoba jalur lain yang lebih panjang. 

Cara menuju Blue Mountain 

Untuk menuju Blue Mountain dari Sydney, kamu bisa menggunakan kereta dari Stasiun Central dengan tujuan Stasiun Katoomba. Perjalanan menggunakan kereta memakan waktu kurang lebih 2.5 jam. 

Harga tiket tergantung apakah kamu menggunakan Opal Card, sejenis kartu transportasi di NSW atau menggunakan tiket normal. Tarif menggunakan Opal Card sekitar AUD 5.81 untuk sekali jalan. 

Setelah sampai di Stasiun Katoomba, keluar dan sebrangi jalan, kemudian berjalan ke arah kiri sampai sebuah persimpangan. Belok kanan dan carilah bus stop. Bus nomor 686 akan membawa kamu sampai Echo Point. 

Jika kamu ingin mengunjungi lebih banyak tempat di Taman Nasional Blue Mountain, kamu bisa naik hop on hop off bus atau mengikuti trolley tour. 

 Trail lain di sekitar Blue Mountain

  1. Ruined Castle 

Trail yang satu ini cukup gampang dimulai dari bagian bawah Scenic World. Jalur ini akan membawa kamu menyebrangi bagian bawah tebing dan melewati hutan alami yang indah. 

  1. Grand Canyon

Beda dengan Grand Canyon di Amerika ya. Jalur yang satu ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Jalur ini melalui bagian bawah lembah, dilanjutkan dengan melewati sungai kecil yang dikelilingi dengan pohon-pohon pakis. 

Jalur ini bisa dimulai dari Blackheath atau Neats Glen. Untuk menyelesaikan trail ini membutuhkan waktu sekitar 6 jam pulang pergi. 

  1. Jenolan Caves

Gua yang sangat indah ini merupakan gua tua yang terbuka. Ada sekitar 11 bagian gua yang beberapanya dilewati dengan sungai bawah tanah. Kamu bisa menikmati formasi batuan kapur bergantungan di atap gua. 

  1. Wenthworth Pass

Jalur ini juga sangat popular karena pemandangannya yang tidak kalah indah juga. Kamu akan melewati beberapa air terjun termasuk yang paling tinggi Wenthworth Falls. Jalur ini cukup menantang, dibutuhkan kira-kira 6 jam untuk menyelesaikannya. 

Tulisan dan foto oleh Velyzhia Zhang - Nonanomad
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments
Kalo dipikir-pikir dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan, rasanya saya sudah lebih dari 5 kali berkunjung ke daerah ini (cuma sedikit mengingatkan, ternyata tulisan ini sudah mengendap di draft blog kurang lebih 3 tahun, hihihihihi). Semuanya murni karena urusan pekerjaan di sini tapi meskipun harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit dari Sydney CBD dan kadang harus berurusan dengan teriknya matahari, saya selalu excited setiap kali berkunjung ke daerah ini. Pertama kali saya ke daerah Narrabeen justru bukan ke pantai, melainkan ke danaunya yang merupakan danau pertama di Sydney yang saya pernah kunjungi.

Where to Start



View this post on Instagram

Ngabuburit heula • Ngabuburit versi aku kali ini jalan-jalan ke arah Mona Vale naik bis tingkat warna kuning super ngejreng dan turun di Narrabeen lake ini. Udaranya adem dan tadi matahari sempat agak terik. Karena lagi jadi pemalas dan ga mau jalan kaki jauh, jadi cuma duduk-duduk di samping lake sambil ngeliatin bebek wara-wiri, bebeknya cuma buat dilihat aja yah, jangan digoreng apa lagi dibumbu balado. JANGANNNNNN!! KAN LAGI PUASA *tunggu pas buka aja* #ehgimana • Please ignore the caption, thank you #sydneysider #Sydney #lake #Narrabeen #Narrabeenlake #picturesque #landscape #travel #travelblogger #traveller #randomtrip #autumn #NSW #NorthernBeaches #ngabuburit #seeaustralia #australia #travelaustralia
A post shared by Meidiana Kusuma (@meidianakusuma) on May 25, 2018 at 11:53pm PDT
Garis pantai di Pantai Narrabeen terbilang cukup panjang dan menyambung ke Pantai Collaroy. Lokasi pengunjung yang paling ramai ke pantai ini adalah di sekitar jalan .... karena selain disediakan tenpat parkiran khusus, banyak juga cafe & restoran serta tempat penyewaan alat-alat renang dan selancar. Saya sendiri yang noatbenenya kurang suka berada di pantai yang ramai lebih memilih untuk masuk ke areal pantai ini melalui Wellington Street atau Ablemarle Street, selain ada bukit hijau di daerah ini juga ada beberapa tempat duduk santai yang sebenarnya milik rumah pribadi di sekitar situ yang langsung menghadap ke pantai, duhh enaknya. 

Di daerah Wellington street juga tidak terlalu jauh dari wisata air lain di daerah Narrabeen yaitu Danaunya. Di danau ini, wisata airnya juga tidak kalah menarik dari pantainya. Di sini pengunjung bisa bermain kayak/canoe hingga menyewa kapal untuk berkeliling danau. Serunya lagi, di sekitaran danau bisa kita jumpai banyak angsa dan burung-burung unik lain yang ikutan menikmati danau ini.





Where to Stay

Saya sendiri sih biasanya selalu day trip tiap kali berkunjung ke daerah ini, namun karena ada rencana untuk sekalian mengunjungi Palm beach yang jaraknya kurang lebih 30menit berkendara ke utara Narrabeen akhirnya memutuskan untuk menginap dulu di Narrabeen. Selain serviced villa dan hotel, di daerah ini juga banyak unit dan rumah yang disewakan melalui aplikasi penyewaan penginapan airbnb.com . Buat saya sendiri ini merupakan kali pertamanya mencoba menginap di salah satu properti yang disewakan melalui website airBnB. Karena selain dapat memilih tempat yang lebih strategis dan tidak terlalu ramai dari pusat wisatanya Narrabeen, tempat-tempat yang disewakan melalui situs ini biasanya dibuat atau didesain khusus secara unik oleh pemiliknya supaya orang-orang yang menginap memiliki pengalaman seru dari menginap di hotel.

Saat ini yang lebih serunya lagi ada bis tingkat baru berwarna kuning dengan kode B1 yang bisa mengantarkan kamu langsung ke daerah ini dari Wynyard Station bus stop. Biasanya kalo udah jenuh lihat gedung di CBD, Narrabeen selalu jadi tempat tujuan tamasya paling seru buat saya. 







View this post on Instagram

• That moment when you travel 1 hour only to meet the ducks and try coffee while sitting inside the tram • #beautifulspaces #goodlookingspace #Narrabeen #tramshed #Sydney #seeaustralia #coffee #tram #oldtram #sydneyeats #travel #travelphoto
A post shared by Meidiana Kusuma (@meidianakusuma) on Sep 20, 2018 at 2:54pm PDT



View this post on Instagram

• Let’s play a game, is this candid or not? Let me know your answer on the comment • #tramshed #tramshednarrabeen #goodlookingspace #tram #sydneyplace #sydney #narrabeen #northshore #travelling #travel #beautifulspaces #travelblogger
A post shared by Meidiana Kusuma (@meidianakusuma) on Sep 4, 2018 at 3:22pm PDT



View this post on Instagram

• On an attempt to make your friend interested on lifestyle, flatlay and foodie kind of shot • On frame : @ibelco • #flatlay #Narrabeen #Coffee #lifestartsaftercoffee #tramshed #Australia #lifestyle #potd #maungopiajamustijauhbenernaikbisnya
A post shared by Meidiana Kusuma (@meidianakusuma) on Aug 26, 2018 at 3:41pm PDT
Oh iya, tidak jauh dari tempat pemberhentian  bus di Narrabeen ada sebuah cafe unik yang bernama "The Tramshed Cafe Narrabeen" di mana kamu bisa menyantap makan siang atau minum kopi sambil duduk di dalam sebuah gerbong Tram tua. Dulunya, tempat ini merupakan depo tram di Sydney, iya Sydney pernah terkenal sebagai kota dengan jalur line terpanjang sayangnya saat ini semua jalur tram tersebut sudah tidak aktif.

Jadi saat semua #lockdown dan #stayathome ini selesai kalian mau ke mana?
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
 Obike - Bike sharing apps

Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu terkenal dan digadang-gadang sebagai salah satu solusi transportasi dan berkendara ramah lingkungan di Beijing, Cina. Tidak cuma 1, 2 tapi saat ini ada 5 aplikasi bike sharing yang bisa digunakan dan sepedanya bertebaran di Sydney. Ada Mobike, Obike, Ofo, Reddy Go dan Air Bike yang bisa jadi pilihan kalian untuk coba mengendarai sepeda berkeliling Sydney. 

Meskipun bisa dibilang sudah cukup populer dan banyak disukai warga di Beijing, ternyata apilkasi ini  ada side effect-nya juga. Para pengguna sepeda ini banyak yang memarkirkan sepedanya sembarangan saat selesai menggunakan. Betul-betul sembarangan, bahkan beberapa bulan yang lalu saya pernah baca berita, tumpukan sepeda yang tinggi banget sudah jadi pemandangan yang biasa di sekitaran stasiun kereta. Ga itu aja, ada beberapa orang yang bahkan sampai melempar sepeda ke atas pohon atau dibuang ke sungai, duh ga ngerti lagi deh sama yang kayak gini. Eits jangan dipikir di Australia lebih bener, sebelum masuk ke Sydney, Bike sharing apps ini sudah lebih dulu masuk ke Melbourne dan permasalahan seperti itu sempat terjadi loh. Semoga ga kejadian yah di Sydney.

Ok, balik lagi ke bike sharing appsnya, sejauh ini sepeda-sepeda yang paling sering saya temukan di jalan dan sedang diparkir adalah Mobike dan Ofo. Entah karena warnanya yang lebih "menyala", Mobike dengan sepeda warna oranye dan silver serta Ofo dengan sepeda warna kuningnya atau mungkin memang jumlah sepedanya yang paling banyak ketimbang 3 bike sharing apps lain. Cara penggunaan aplikasinya juga mudah, tinggal download aplikasinya, buat akun membernya, cari sepeda terdekat (bisa di apps juga ceknya), scan barcode sepedanya untuk membuka kunci sepeda dan voilaaa udah bisa jalan-jalan deh naik sepedanya.


Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa sepeda ini berkisar dari AUD 1 - AUD 1.99 per 30 menit. Well, terbilang cukup murah jika dibandingkan dengan ongkos bus AUD 2.15 untuk radius 3km kebawah. Coba sering-sering cek info di aplikasinya juga yah, karena seperti di akhir tahun 2016, Mobike menawarkan free rides dengan hanya deposit 1 dollar aja dan itupun refundable. 

Bersepeda memang menawarkan healthy life style sih tapi jangan lupa kontur jalanan Sydney yang naik turun udah kayak soundtracknya Ninja Hatori yang mendaki gunung lewati lembah itu yah. Saya yang rasanya udah 5 tahun ga pernah nyentuh sepeda aja harus give up di 2 km pertama gara-gara tanjakan maha dahsyat. Kemiringan tanjakannya waktu itu sih ga lebih dari 30 derajat tapi panjang jalanannya sampe 100 meter lebih, ga kuat juga, hayati lelaahh hahahahah. 

Sebisa mungkin tetap cari yang ada helmnya ya

Oh iya,  meskipun cuma sepedaan tapi di Sydney mahh teteuup aja ada peraturan-peraturannya. Mulai dari wajib pake helm, harus bersepeda di sisi yang benar (ga ngelawan arus), harus perhatiin rambu dan harus perhatiin bike lane karena ga semua trotoarnya boleh digunakan sama pesepeda. Kalo melanggar dan pas ada polisi, siap-siap kena tilang dan bayar denda yang bisa bikin ga bisa tidur 2 hari 2 malam hahahahah.

OFO

Sempat nemu 3 - 4 Ofo Bike di daerah Barangaroo

Dominasi warna kuning di sepeda Ofo, membuat sepeda ini menjadi salah satu yang paling mudah dikenali dari kejauhan. Seengganya ada 5 hal yang bikin merek ini jadi paling gue rekomendasikan buat kalian. Pertama Sepedanya Ringan, Ada pengatur gigi sepedanya, Ada bel sepeda, Sadel sepedanya bisa diatur tingkat ketinggiannya dan harga non promonya $1/jam atau sekitar 10.300 rupiah. Sebagai info tambahan juga, Aplikasi dan sepeda ini juga sudah ada untuk Singapura dan Malaysia loh!

OBIKE


Bike sharing apps yang ini, katanya udah ada di Indonesia loh, tapi kok dari kemarin belum pernah ngeh ya? Awal masuk ke Sydney aplikasi yang ini ngasih free rides ke para penggunanya (yaa yang lain juga sih) tapi harga non promonya $1.99 per 30 menit (gile mahaaall). Salah satu yang gue kurang suka di Obike ini, sepedanya bisa dibilang cukup berat.

MOBIKE 

Selanjutnya ada Mobike, warnanya dominannya oranye dan silver. Ada yang nyebelin sama sepeda yang satu ini, kadang susah bedain Mobike sama Obike dari jauh, warna mereka terlalu mirip. Waktu pertama nyobain bike sharing apps, gue pake ini karena lagi ada promo free rides juga. Salah satu kekurangannya adalah, ga ada pengatur gigi (jadi berat kalo tanjakan). 

Berikut ini Pros and Cons-nya si Bike Sharing Apps secara keseluruhan tapi versi geretkoper yah:

Pros:
- Lebih Sehat dan bakar kalori (resolusi tahun 2018) di setiap aplikasi ada informasi jarak yang sudah ditempuh, waktu pemakaian hingga kalori yang dikeluarkan untuk mengayuh sepedanya.
- Lebih murah ketimbang ongkos bus
- Dilihatin orang-orang dengan tatapan "woww cool dia sepedaan", ahhaah gue ga tau musti masukin ini ke Pros atau Cons
- Membantu mengurangi polusi (mulia banget nih tujuannya)
- Bisa sekalian sight-seeing
- Bisa berhenti di mana aja (tapi tetap harus diparkir secara aman yah) 

Cons:
- Kadang susah cari sepeda yang ada helmnya (banyak yg dimalingin euy)
- Udah nemu sepeda, ternyata lagi di-lock sama orang lain
- Harus konek bluetooth selama perjalanan (nyedot batere weeyy)
- Harus konek GPS selama perjalanan (nyedot kuotaaaaa, mahal wey beli kuota di Sydney)

Okeh, cerita how to use the apps dan pengalaman naik sepedanya bisa dilihat di Videonya yah (wait masih diedit dulu) jangan lupa di-subscribe yah.                                


Share
Tweet
Pin
Share
28 comments
Di beberapa social media pribadi saya, jika beberapa dari kalian ada yang follow social media saya, mungkin pernah beberapa kali saya share tentang bagaimana saya bahagia dan amat terbantu dengan transportasi di Sydney yang sungguh reliable. Well, gimana engga? jadwal bisa dicek di apps, tujuan tiap bus titik berhenti bisa dicek di apps, historikal penggunaan kartu opal bisa dicek, dan yang paling terpenting dari itu semua sebenarnya adalah jangkauan dari transportasinya. Sebagian besar objek wisata di Sydney dan sekitar dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum, mulai dari bis, kapal feri, tram, hingga kereta. Sebagai salah satu yang beruntung bisa merasakan tinggal di daerah ini selama setahun, hal tersebut tentunya banyak membantu saya mengunjungi tempat-tempat seru.

Selain ke objek-objek wisata utama Sydney, tempat lain yang juga ga kalah menarik untuk dikunjungi adalah mercusuar atau lighthouse yang cukup banyak tersebar di negara bagian New South Wales terutama di sekitar Sydney. Berikut ini beberapa mercusuar/ lighthouse yang bisa kalian kunjungi saat berkunjung ke Sydney, Australia.

1. Hornby Lighthouse
Hornby Lighthouse

Mercusuar Hornby ini sebenarnya adalah mercusuar pertama yang saya ingin kunjungi dari daftar mercusuar lain yang saya miliki. Kenapa? karena warna mercusuar ini beda dibandingkan dengan yang lain. Umumnya lighthouse yang saya ketahui berwarna putih, misalnya seperti mercusuar di Pulau Lengkuas, Belitung. Namun Hornby ini beda, warnanya merah dan putih dan percaya apa engga waktu pertama kali saya lihat mercusuar ini mengingatkan saya dengan tenda sirkus.

Meskipun ini merupakan mercusuar pertama yang sedari awal ingin saya kunjungi di Sydney, kenyataannya saya malah baru ke sini di bulan ke tujuh saya tinggal di Sydney. Padahal untuk menuju ke tempat ini tidak sulit bahkan ada dua jenis transportasi umum yaitu kapal feri dan bis yang bisa mengantar kalian ke lokasi terdekat dan kemudian disambung dengan trekking ke puncak. Kalo dibandingkan dengan mercusuar yang lain, Hornby lighthouse ini jauh lebih pendek yang ternyata memang sengaja dibuat seperti itu karena letak si mercusuar yang sudah tinggi di atas bukit. Hornby lighthouse ini terletak di Watsons Bay dan masih di dalam area Sydney Harbour National Park.

2. Barrenjoey Lighthouse

Sama seperti Hornby, tinggi mercusuar Barrenjoey juga tidak seperti mercusuar kebanyakan. Lagi-lagi karena letak si mercusuar ini yang sudah di atas bukit, bahkan sepertinya bukitnya lebih tinggi dari tempat mercusuar Hornby berada. Perjalanan menuju Palm Beach, tempat di mana mercusuar ini berada juga lumayan jauh dan harus saya tempuh kurang lebih 2 jam setengah dari Sydney CBD dengan menggunakan bis. 2 jam perjalanan tersebut murni karena jaraknya yang jauh bukan karena macet di jalan loh, kebayang capenya deh melihat supir bis yang ga kunjung berhenti, hahahaha. 

Trekking menuju Barrenjoey lighthouse menurut saya juga termasuk menantang karena di beberapa titik akan ada path dengan sudut kemiringan hingga 50 derajat. Menyerah di tengah jalan? please jangan karena trust me semua perjuangannya akan terbayar begitu kalian sampai di atas dan melihat keindahan dari atas Barrenjoey Head. Bahkan menurut informasi ada salah satu sudut Barrenjoey head yang biasa digunakan pengunjung untuk melihat paus saat masanya migrasi *kayaknya pas musim dingin deh*. Ah iya, ternyata bangunan mercusuar yang ada saat ini sudah "dipindahkan" beberapa meter dari letak awalnya.


3. Kiama Lighthouse

Mercusuar yang satu ini terletak di sebelah selatan Sydney dan dapat ditempuh dengan kereta ekspres ke Kiama sekitar 3 jam dari Central station. Objek wisata utama di Kiama sebenarnya bukan mercusuar ini, melainkan Kiama Blow hole yang ada lebih ujung dari letak mercusuarnya, but you surely won't miss this building. 

Nah mercusuar yang ini baru nih warnanya putih seperti mercusuar kebanyakan, beberapa mercusuar ada jam buka untuk guided tournya tapi kurang ngeh sama yang satu ini sih mungkin karena kemarin mampir ke Kiama emang bukan ke sini tujuan utamanya. Would you believe me jika waktu itu kami menempuh jarak ratusan kilometer ke Kiama untuk beli Pizza, duduk di rerumputan sambil makan pizzanya lalu menuju Kiama Blow hole buat foto-foto dan langsung bergegas kembali ke stasiun untuk mengejar kereta ke Sydney supaya ga kemaleman?. ahhahah this is how I spent my random free day in Sydney with fellow Sydneysiders.


4. Macquaire Lighthouse
 Bangunan bawah mercusuar berbentuk persegi panjang

Satu lagi mercusuar yang lokasinya ternyata ga terlalu jauh dari Hornby lighthouse cuma sekitar 3 kilometer. Terletak di Vaucluse, mercusuar ini menjadi mercusuar pertama yang saya kunjungi dengan hanya menggunakan bis dan jarak dari halte bis ke mercusuarnya deket banget, ga pake jalan jauh dan cape. Lokasinya juga berada di kawasan elite Vaucluse, hanya tinggal menyebrang jalan aja udah sampe ke rumah warga. Ada yang menarik nih sama bangunannya Macquaire Lighthouse, di saat beberapa mercusuar lain bentuk bangunannya tinggi seperti tabung hingga ke bawah, Macquaire Lighthouse memiliki lantai dasar yang berbentuk persegi panjang seperti rumah namun tetap memiliki menara.

Jika dilihat dari kejauhan, tetap tampak seperti bangunan mercusuar lain

Ada yang berbeda dari beberapa tempat mercusuar lain, sedikit ke arah utara dari mercusuar ini kalian bisa menemukan tebing yang dikelilingi oleh pagar pembatas. Di sekitaran pagar pembatas banyak ditempel plat bertuliskan nomor lifeline hingga tulisan kutipan kalimat inspirasi penyemangat hidup. Ada teman yang cerita di sekitar tempat tersebut hingga ke tebing di dekat Watsons bay memang terkenal sebagai tebing jadi sering dijadikan tempat untuk terjun bebas (bunuh diri) di Sydney, ihh kok syereemm. 
 
5. Fort Denison Lighthouse

Karena letaknya yang berada di sebuah pulau sepertinya ini jadi satu-satunya mercusuar yang tidak benar-benar saya kunjungi hanya saya lewati saat sedang berada di atas kapal feri. Bukan tidak mungkin sih untuk menginjakkan kaki ke Fort Denison karena memang ada beberapa acara khusus yang digelar di Fort Denison. Sedangkan untuk kunjungan umumnya, Fort Denison hanya bisa dikunjungi oleh para peserta Captain Cook Cruise yang berangkat dari Circular Quay Ferry terminal atau mereka yang sudah reservasi untuk bersantap di restoran yang ada di Fort Denison ini. 

Jika melihat di asal usul rocky island ini, Fort Denison pernah memegang peranan penting seperti stasiun pengecekan ombak dan cuaca, sebagai salah satu petunjuk navigasi hingga sebagai salah satu bangunan pertahanan. Saat ini, Fort Denison selain memiliki sebuah restoran juga dapat di booked untuk acar tertentu dan memiliki sebuah museum.

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai menghijaunya taman-taman di sekitar kota. Jika Jepang terkenal dengan suasana pink dari cherry blossom atau sakuranya dan Belanda tampak cantik dengan warna-warni tulipnya sebagai tanda musim semi datang, di Sydney dan beberapa kota besar di Australia juga memiliki bunga cantik sebagai penanda berakhirnya musim dingin. 


  Jacaranda di First Fleet Park, Circular Quay

Awal musim semi di beberapa tempat di penjuru Sydney akan mulai dipercantik oleh tanaman yang memiliki bunga berwarna ungu ini, yang bernama Jacaranda. Sama seperti bunga sakura, Jacaranda juga hanya berbunga setahun sekali. Tahun 2016 lalu, saya dan beberapa teman sempat menjadi Jacaranda hunter. Kami sempat berburu beberapa kota kecil untuk mencari jalanan yang sepanjang jalannya dipenuhi dengan bunga ungu ini.

Di tengah kota Sydney, pohon Jacaranda ini juga selalu mempercantik town hall dan Circular quay. Daerah-daerah lain yang juga tidak kalah cantik dengan adanya jejeran pohon ungu ini diantaranya, Paddington, Enmore, Kogarah, Erskineville, Redfern dan masih banyak lagi.

Cuma jalan beberapa meter dari Erskineville Train station bisa ketemu ini

Duh, bunga yang rontoknya udah banyak, ati-ati ya kalo keinjek, licin soalnya

Lagi-lagi sama seperti musim bunga sakura di Jepang, di Sydney juga sering saya jumpai orang-orang yang piknik di bawah rindang dan cantiknya pohon Jacaranda. Salah satu yang mungkin bisa kalian temukan di Frys reserve, Kogarah dan First fleet park, Circular quay. Salah satu teman saya juga ada yang sempat bikin acara farewell party di taman tersebut.

Mau piknik di bawah pohon Jacaranda? Mampir ke Frys Reserve, Kogarah


Bunga ungu ini sudah mulai tampak menghiasi kota sekitar bulan September, tapi jika kamu ingin lebih mudah lagi bertemu bunga cantik ini, saya sarankan untuk berkunjung di sekitar awal bulan November. 

Selain 2 taman yang saya sebutkan di atas, tempat kece lainnya untuk melihat Jacaranda ini diantaranya sepanjang Ashmore street di Erskineville, Great Buckingham Street di Redfern dan di beberapa jalan kecil di sekitar Paddington.



Sydney Town Hall jadi tambah cantik saat Jacaranda berbunga

Saya pernah saya bahas di Sydney Travel Guide part 1 "When is the best time to visit Sydney? dan saya menjawab semua musim merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Sydney. Well, sekarang kalian jadi punya alasan berkunjung ke Sydney pada musim semi juga kan?

Share
Tweet
Pin
Share
35 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • Cantiknya Musim Semi di Sydney
    Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai m...
  • Cafe & Restaurant Hopping in Yogyakarta
    Bukan cuma Jakarta dan Bandung aja yang lagi kebanjiran restoran dan cafe tempat nongkrong seru, Yogyakarta juga ngga mau ketinggalan. Saat...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    10 months ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    4 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    11 months ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    6 days ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    5 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    9 months ago
  • The TraveLearn
    Kota Tua Jakarta: Menyusuri Jejak Sejarah di Tengah Ibu Kota
    6 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates