• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Setelah beberapa bulan tinggal di negeri Kangguru ini, ada beberapa teman yang bertanya tentang apa yang akan saya lakukan setelah selesai misi satu tahun di Australia. Kalo boleh jujur, semenjak memutuskan untuk apply work and holiday visa (WHV) di Australia, blasss resolusi 5 sampai 10 tahun ke depan langsung berubah. Yang awalnya sempat berfikir untuk stay di karir lama, akhirnya sekarang jadi perjalanan tanpa ujung yang amat sangat tidak bisa saya prediksi, bahasa kerennya go with the flow *tssaaaah*. 

Tinggal di Australia ternyata banyak mengubah hidup saya, mulai dari pola berfikir, gaya hidup, kebiasaan hingga tata krama. Iyah, tata krama aja sampe berubah saking lebih sering ketemu orang yang super sopan di sini. Lalu jika ditanya tahun depan mau ke mana? apa masih mau tinggal di Australia? jawaban saya mungkin masih antara iya dan tidak.

Iya mau (pastinya), karena selain taraf hidup yang lebih baik banyaknya jenis pekerjaan dan kesetaraan pola kehidupan membuat saya selalu belajar untuk menghormati orang lain terlepas dari apa latar belakang dan pekerjaannya. Tapi sepertinya saya sendiri masih tidak mau untuk tinggal terlalu lama di Australia jika, pekerjaan yang saya miliki masih "kasar" istilahnya. Karena selain ga yakin juga bisa kuat sampai kapan kerja kayak gini, ujung-ujungnya saya merasa sayang juga sama kemampuan lain yang saya miliki. 

Sayanya juga masih terlalu cinta sama Indonesia dengan berjuta-juta macam budaya, makanan dan tempat wisata seru. Jadi kalopun nanti dapat kesempatan tinggal di negara lain lagi, aku hanya pergi untuk sementara ~~~ aku pasti kembaliii~~ *pake lagu Aku pasti kembalinya PASTO*

Lalu bagaimana kesempatan untuk tinggal di Australia setelah WHV?
Ada beberapa cara untuk kembali lagi tinggal dan bekerja di Australia setelah WHV diantaranya;

Lanjut sekolah

Panorama view bagian dalam Notredame Univeristy

 Salah stau gedung unik di wilayah University of Technology Sydney

Dari dulu memang sempat terlintas untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, di Sydney sendiri ada beberapa kampus yang terkenal negri yang terkenal karena kualitas pendidikannya. Tapi tau kan kamu biaya kuliah untuk International Student tiga kali lipat dari harga murid lokalnya? Jadi sebagai gambaran, kira-kira biaya S2 di University of Sydney untuk domestic student per tahunnya sekitar A$13,500 sedangkan untuk International Student sekitar A$31,500 (info ini untuk jurusan komunikasi). Gilaa jomplang banget kan harganya, jadi mungkin untuk saya satu-satunya cara untuk lanjut kuliah di sini adalah mencari beasiswa dulu dari Indonesia. Ah iya, jika kedepannya memang berencana untuk menjadi permanent resident di Australia, bisa juga untuk cek list kesempatan mendapatkan PR dari skill. Biasanya setiap setahun sekali, pemerintah negara bagian setempat memiliki list-list pekerjaannya. 

Ada beberapa juga yang memilih untuk ngambil vocational school seperti cookery, Aged care, child care dengan pertimbangan skill-skill tersebut lebih banyak dicari di Australia plus ada kesempatan untuk apply PR juga nantinya. Vocational school juga biaya sekolahnya lebih murah ketimbang Bachelor atau Master degree. Ada beberapa vocational school yang jam masuk kuliahnya hanya 1 atau 2 hari dalam seminggu jadinya waktu kosong untuk cari kerja sampingan lebih banyak (dan diimbangi dengan tugas kuliah yg numpuk juga pastinya).

Lanjut kerja

Salah satu oportuniti lain adalah penggantian visa ke visa kerja. Banyak kok teman-teman WHV yang beruntung bisa lanjut kerja dengan Visa kerja 457 dari pekerjaan mereka sebelumnya dan malah tidak sedikit yang mendapatkan jenis pekerjaan sesuai dengan passion mereka. Namun hal yang satu ini agak sulit buat saya karena kesalahan saya setelah lulus kuliah yang langsung terjun bebas ke bidang pekerjaan lain (bukan bidang yang saya tekuni sebelumnya). Oportuniti untuk anak-anak IT bekerja di Australia cukup tinggi loh, namun sulitnya kalian harus berkompetisi dengan para job hunter di dunia IT dari negara tetangga seperti India dan Malaysia.

Lanjut nikah 

Ada juga yang beruntung mendapatkan pasangan hidup yang kebetulan warga negara Australia atau permanent resident di sini. Sebenarnya memang seru sih membangun keluarga di Australia, secara taraf kehidupannya juga bagus, tapi ahhh sudahlah, *lalu ga dibahas lebih lanjut, *lalu ganti topik pembicaraan.

Jadi gimana teman-teman yang saat ini lagi dan sudah selesai WHV, lanjut lagi di Australia ga nih?

Baca juga cerita teman-teman lain:
Efi - Australia, antara "ya" dan "tidak"
Hilal - Sapa Suruh Datang Australia
Irham - Thank you Renmark, Good Bye Australia! Bhay!

Share
Tweet
Pin
Share
9 comments
Magical sunset dari Mrs. Macquaire Chair

Percaya ga kalo saya bilang, Australia belum pernah masuk ke bucket list tempat yang mau saya kunjungi sebelumnya. Selama ini saya masih aja masukin negara-negara di Asia Timur dan Eropa ke bucket lists saya, namun ajaibnya saya saat ini malah dapat kesempatan untuk tinggal selama satu tahun di Negeri Kangguru, Koala dan Wombat ini.

Melalui program WHV, saya berkesempatan untuk tinggal, guling-gulingan, ngesot-ngesotan sampai kerja secara legal di negara yang lokasinya berdekatan dengan Indonesia ini, lalu saat ditanya kenapa pilih career break ke Australia? hmmm mungkin beberapa alasan berikut yang menjadi awal pencetus terbangnya saya ke Sydney setelah hampir setahun Visanya disetujui oleh imigrasi Australia.

1. Career Break sambil jalan-jalan

 kalo lagi libur, saatnya jalan-jalan - Palm Beach

Mampir ke Melbourne juga

Kalo ada yang nanya, "lu ngapain Mei setahun di Sydney?" Saya bakalan bilang, "Gue lagi Career Break". Selain karena memang untuk orang Indonesia baru negara ini aja yang membuka kesempatan untuk Work and Holiday Visa di negaranya, saya memang saat itu sedang butuh istirahat sejenak dari rutinitas kerjaa kantoran sambil  mencari jati diri *selama ini ilang?* *ga ketuaan lo nyari jati diri?*. Ada yang memutuskan career break dengan unpaid leave dan jalan-jalan selama 6 bulan - setahun, nah saya memutuskan juga untuk career break dengan kerja ini itu sambil jalan-jalan dan guling-gulingan di Sydney selama 1 tahun. Jadi meskipun kerja serabutan tapi tetap bisa ngerasain "liburan" hampir setiap hari. 

2. Ga butuh ujian ini itu dulu

Sebenarnya bisa aja sih kalo untuk lanjut kuliah untuk merasakan tinggal di negara lain, tapi jujur saya ini tipikal anak yang ga suka sama segala bentuk ujian (ujian sekolah lah, ujian bahasa inggris lah). Nah kebetulan saat saya daftar visa ini, untuk kemampuan bahasa inggris saya juga ga perju ujian dulu tuh, karena saat itu bisa menggunakan sertifikat kelulusan dari universitas yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar (bye bye TOEFL dan IELTS). Kalo sekarang? hahahaha kandidat yang sekarang diharuskan pake IELTS atau lulusan dari Universitas di luarIndonesia.

3. Ingin belajar banyak hal-hal baru

Kalo selama ini cuma sibuk kerja di belakang meja, kerjaan "casual" di Australia atau khususnya di Sydney ternyata lebih challenging, banyak banget jenis kerjaan yang mungkin ga pernah kepikiran buat saya kerjakan kalo saya berada di Indonesia. Hebatnya penghasilan kerjaan kasar di sini ga kalah sama yang kerja kantoran.

Ternyata selama hampir 4 bulan tinggal di sini, saya baru sadar bahwa kerjaan sekecil apapun di sini banyak yang membutuhkan sertifikasi loh, ga asal sembarangan orang bisa kerja. Mulai dari RSA (Responsible Service of Alcohol) untuk para pramusaji di sebuah restoran atau cafe yang menyediakan minuman beralkohol, RSG (Responsible Service of Gambling) / RCG (Responsible Conduct of Gambling) untuk para pekerja di tempat yang menyediakan "gaming machines" dan masih banyak lagi. 

Beda negara, beda peraturan jadinya di sini banyak hal baru yang saya pelajari mulai dari ga boleh nyebrang sembarangan, ga takut diklaksonin pengemudi lain kalo lagi nyebrang di zebra cross, dan masih banyak lagi.

4. Ingin Mandiri dan Menabung


Percaya ga kalo saya bilang waktu di Jakarta saya ga punya tabungan khusus apalagi tabungan darurat buat diri saya sendiri. Jujur penghasilan di Jakarta dulu cuma cukup untuk biaya hidup 1 bulan titik. Malah sering defisit dan alhamdulillahnya selalu ada aja jalan untuk dapat uang tambahan.

Nah karena tinggal jauh dari keluarga dan sahabat, otomatis ga bisa sembarangan mengeluarkan uang juga. Di sini saya belajar mengatur keuangan dan pemasukan, well meskipun bukan anak akuntansi tapi saya ternyata bisa belajat otodidak untuk hal ini. Sekarang sih bisa dengan bangga bilang punya tabungan, meskipun tidak banyak tapi di sini saya selalu menyediakan uang untuk kelangsungan hidup selama 2 minggu ke depan *ahhahha baru 2 minggu yah siap-siapnya*

5. Tinggal di kota dengan transportasi yang reliable

 Kereta double decker

 Terminal ferry di Circular Quay


 Sydney Light Rail

Waktu masih SMP/SMA saya pernah kepengeen banget-banget tinggal di Singapura cuma gara-gara saya tahu transportasi di sana udah reliable (secara saya anak angkot banget, suka emosi kalo angkotnya ngetem). Sempat coba mau ikutan pertukaran pelajar bahkan sempat niat mau cari beasiswa S1 di luar negeri hahahahah. 

Ternyata saya malah disuruh nunggu sedikit lebih lama dan akhirnya bisa juga tinggal di Sydney. Transportasi di sini mudah dan jelas, setiap bus harus berhenti di halte dan jadwal keberangkatanpun jelas. Ditambah lagi dengan adanya mobile aplikasi untuk memantau kedatangan bus, kereta dan ferry, jadi sekalipun mereka telat saya tau infonya kapan mereka akan tiba. Mencari rute perjalanan juga mudah banget dan semua pembayaran transportasi dapat dilakukan dengan kartu tap Opal (serupa ez-link di Singapura).

Selain saya, ada beberapa teman juga yang share alasan mereka memilih ikutan WHV ke Australia, jangan lupa mampir juga yah:
Fahmi - Kenapa Saya Memilih Work And Holiday Ke Australia?
Irham - 5 Alasan Kenapa WHV (Work and Holiday Visa) di Australia!
Hilal - Kenapa Ke Australia Lal?
Efi - Merantau ke Australia
Hendra - Siapa Suruh Datang Australia? (Balada WHV part 1)

Share
Tweet
Pin
Share
46 comments
Hadiah tahun baru ini yang paling berkesan adalah selesainya beberapa channel baru sebagai salah satu media lain berinteraksi dengan blog ini, blog yang awalnya isinya travel diary karena sayanya emang suka lupaan dan sekaligus memberikan info buat teman-teman yang mungkin memiliki tujuan wisata yang sama.

1. LINE Account



Geret Koper udah ada di Line juga lohh :) lewat channel social media berbasis chatting ini, saya biasanya bagi info-info tips singkat atau link ke artikel terbaru. Nah serunya, di channel ini kamu bisa langsung chatting pribadi sama saya. Jadi bisa nanya banyak hal dari mulai itinerary sama hal-hal yang mau kamu tau tentang destinasi (eh tapi yang saya udah pernah aja yah) hahahaha. Buat yang punya LINE boleh di search by ID @geretkoperblog *see you on LINE* 


2. Mobile Apps 



Di awal tahun ini, saya juga dikejutkan dengan rampungnya mobile apps Geret Koper blog yang bisa di-download secara gratis. Untuk saat ini, mobile appsnya baru tersedia untuk pengguna di App Store jadi baru bisa digunakan untuk pengguna iPhone dan iPad. But I will let you know whenever the Android version is ready to be downloaded. (secara sayanya juga ga punya iPhone, jadi ngintip aplikasinya kayak apa juga pake hp teman, ahhahaha). Aplikasinya bisa didownload di sini atau search Geret Koper di apps store. 


*tungguin untuk LINE dan Mobile Apps GIVEAWAYnya yaaah*

Semoga dengan bertambahnya 2 channel di atas, saya semakin rajin ngeblog untuk memberikan informasi terbaru dan berguna buat teman-teman semua, serta semakin sering bikin giveaway, aminn :)
Share
Tweet
Pin
Share
21 comments

Pernah ga sih kalian ngerasa hidup kalian lebih teratur justru saat traveling dibandingkan kegiatan sehari-hari? Saya sih ngerasa banget, hidup saya malah lebih teratur saat lagi jalan-jalan ketimbang keseharian saya. Beberapa tahun lalu, saya pernah jatuh sakit ketika di perjalanan dan itu benar-benar menggangu trip saya secara keseluruhan. Nah belajar dari kesalahan tersebut, saya mulai deh tuh menerapkan gaya hidup sehat meskipun lagi traveling (ehh pas traveling aja nih? hahaha)  

1. Bangun Pagi

Kalo yang satu ini sih udah jadi kebiasaan banget, bahkan setiap traveling in a group saya selalu bertindak sebagai alarm bangun tidur. Yup, bangun pagi itu dan menghirup udara pagi akan membuat badan kita lebih segar dan memulai perjalanan sepagi mungkin juga bisa membantu meningkatkan mood saat traveling loh. Ditambah lagi, dengan memulai trip lebih pagi akan lebih banyak lagi tempat yang bisa kita eksplor.  

2. Olahraga

Kalo untuk olahraga secara khusus s seperti jogging, biasanya saya lakukan jika tripnya lebih santai dan cenderung saya lakukan saat solo trip. Sedangkan untuk trip yang bareng teman-teman rasanya ritual jalan kaki kami yang banyak banget itu udah bisa deh diitung olahraga hehehehe. Kalo business trip dan menginap di hotel yang agak besar, malah saya suka menyempatkan diri untuk mencoba beberapa alat-alat olahraga yang ada di fitness center atau minimal berendem di kolam renang (nasib anak ga bisa renang). 


lari pagi di stadium atau bikin jogging track sendiri sambil explore tempat (ini National Stadium Bangkok)

3. Makan Buah dan Minum Air Putih

Makan buah juga penting, karena buah banyak mengandung vitamin dan jangan lupa juga untuk banyak minum air putih. Lagi-lagi kebiasaan traveling saya yang lebih sering banyak jalan kaki memang harus diimbangi dengan banyak minum agar tidak dehidrasi. Untuk beberapa tempat seperti Bangkok atau Ho Chi Minh, mungkin kita bisa menemukan buah potong segar di banyak tempat. Tapi jika memang susah, bisa juga kok cari di jus segar di supermarket atau toko kecil di sekitar stasiun atau terminal. Untuk air putih, biasakan bawa tumbler atau botol minum kosong dari rumah. Di perjalanan bisa diisi dengan air mineral botolan atau water tap. Kemarin malah hemat air banget pas jalan ke Osaka, water tap di hostel bisa langsung minum. Duhh mayan banget, kantong ga bolong deh kalo kayak gitu.

gerai jus yang saya temukan di stasiun BTS Victoria Park - Bangkok

4. Tidak Melewatkan Jam Makan

Kalo sehari-hari saya lebih sering makan 2 kali sehari, sarapan dan makan siang atau makan siang dan makan malam, saat traveling saya justru membiasakan untuk makan 3 kali sehari. Saat tidak lapar sekalipun, saya tetap mengisi perut meskipun tidak banyak. Hal ini lebih untuk mencegah masuk angin dan agar maag tidak kambuh tiba-tiba.   

5. Minum Susu

Salah satu senjata lain untuk sehat saat traveling buat saya adalah minum susu. Ingetkan pelajaran sewaktu SD dulu, kita harus makan makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Nah susu merupakan poin ke 5 yang juga berfungsi sebagai pelengkap. Saya sendiri sih biasanya lebih sering minum susu sebelum melakukan perjalanan atau setelah pulang dari perjalanan, sesuai kebutuhan aja. Kadang susu juga saya gunakan sebagai alat memperlancar pencernaan (if you know what I mean). Jujur saya ga suka minum susu sapi putih, bahkan baru nyiumnya aja udah eneg sendiri tapi kalo minum susu dengan rasa lain biasanya kadar glukosa alias gulanya tinggi banget, saya ngga suka minuman yang terlalu manis. Eh tapi beberapa bulan lalu waktu saya demam dan ke supermarket, saya nemu BEAR BRAND Gold susu steril rendah lemak tinggi kalsium, mengandung kebaikan susu dengan dua varian, white tea dan white malt. Huweeehh saya ternyata suka sama BEAR BRAND gold yang white malt dan white tea ini. 


minuman susu mungil ini diproduksi di Thailand loh
Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Jujur ini mungkin pertama kalinya saya mendengar ada perusahaan yang bergerak di bidang jasa yang bisa mengatur kebutuhan pakaian, laundry dan penyimpanannya di tempat tujuan perjalanan. Packnada adalah perusahaan yang berbasis di Singapura yang bergerak di bidang jasa laundry, penyimpanan pakaian dan pengantaran pakaian langsung ke hotel di sekitar Singapura.

Misinya sih sebenarnya simple, supaya si frequent flyer tersebut bisa travel light atau bahkan free dari dipusingin perihal baggage atau barang bawaan seputar pakaian.
Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Ngomongin soal travel inspiration, Papa merupakan salah satu inspirasi saya. Dia yang membuat saya selalu iri akan cerita-cerita travelling seru bersama teman-temannya, menyebutkan satu-satu must visit places di kota-kota yang mau saya datangi, hingga berbagi informasi kuliner enak di kota tersebut.

Hobi jalan-jalan kami sepintas sama misalnya;

Travel light, bawa baju 3 dengan 1 celana untuk seminggu jalan-jalan.Kebutuhan primary tetap dibawa, kalo bisa beli ditempat tujuan pasti barang tersebut ga dibawa dari rumah. Perihal beli barang-barang keperluan di tempat tujuan tuh sama persis dengan kebiasaan saya, hahahahha.

Beli oleh-oleh tidak mikir panjang, beberapa orang mungkin suka menghitung oleh-oleh yang mau dibeli apa saja dan buat siapa saja, namun hal tersebut terkadang tidak berlaku untuk kami. Mungkin sekilas motto nya seperti "Beli dulu, buat siapanya belakangan" hahahahahah, well, kecuali yang emang titipan yah. Hebatnya Papa bisa tuh nenteng oleh-oleh seberat apapun masuk cabin pesawat. *jadi inget dia pernah bawa tas besar yang isinya peralatan tanah liat hasil belanja di Kasongan, Jogja. Karena takut pecah jika ditaruh di bagasi, tas yang beratnya kira-kira hampir 10 kiloan dengan santai di tenteng aja tuh. Kelebihan oleh-oleh menjadi hal yang lazim buat kami :P.

Juara jalan kaki, kalo ini sih di Jakarta juga emang doyan jalan kaki. Sekarang sih, saya yang sadar diri ga mau ajak Papa Mama jalan kaki jauh-jauh, kasian kan mereka udah ga muda lagi, tapi awal tahun ini udah berhasil ngajak Papa jalan kaki dari MRT Raffles Place - Fullerton Hotel - Merlion Park - Esplanade Mall - Helix Bridge - Marina Bay sands. Mungkin buat beberapa orang rute tersebut ga terasa jauh yah, tapi mengingat terik matahari pas Februari lalu, Papa dan Mama boleh diacungin 10 jempol. *minjem jempol tetangga* *dan harusnya rute jalan kaki pas mereka Umroh kemarin juga luar biasa panjang*

Dapat teman baru, ini emang kebiasaan Papa yang sangan menular ke saya (kami bawel dan supel), rasanya ga bisa ngeliat orang duduk sendirian langsung deh diajak ngobrol. Papa ga jago bahasa inggris, tapi pas kemarin ke Singapura tenang aja tuh dia ngilang jalan-jalan muter sekitar hotel pulang-pulang bawa makanan (ga tau deh komunikasinya gimana). Pas check out aja, dia pamit juga sama salah satu tamu hotel yang lain. 
"laaahh kok dia bisa kenaall?" saya heran sambil berpandang-pandangan ke Mama dan Adik.

Papa selalu membuat saya iri setiap kali beliau menanyakan kemana saya mau pergi (dalam negri), begitu ia melihat saya sibuk packing atau ijin tidak mampir kerumah di minggu depan, 
"Mau kemana kamu?"
"Aku mau ke Makassar, Pah"
"Oh, nanti bisa pergi bla bla bla.... Papah dulu pernah bla bla bla"
dan ceritapun pasti jadi panjang, dari roadtrip Makassar - Toraja, ngalor ngidul bisa sampe membahas Palu, Gorontalo dan Manado, padahal anaknya cuma mampir Makassar aja, hihihihihi. Ingin deh sodorin aplikasi Where've I been ke Papah dan mau lihat list kota-kota di Indonesia yang sudah pernah beliau kunjungi.

Rasanya hal apapun tentang banyak destinasi di Indonesia bisa saya tanyakan ke beliau. Saat ini beliau sudah pensiun dan berusia 57 tahun di hari ini, tak banyak yang saya bisa berikan kepada beliau selain menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mendengarkan cerita atau omelannya, atau sekedar mengajak makan bersama keluarga di luar rumah. Jika sedari kecil kami (saya, kakak dan adik) selalu mendengarkan cerita-cerita seru beliau naik pesawat kesini, naik bis kesana, numpang menginap disini, nebeng mobil orang kesana, Akhir-akhir ini malah saya yang lebih sering bercerita kepada beliau tentang destinasi LN yang belum beliau kunjungi dan semoga bisa ajak Papa Mama ke tempat tersebut. Amiiinnn. 


Selamat Ulang Tahun, Pah
Panjang umur, banyak rezeki dan sehat terus yah, supaya kita bisa terus jalan-jalan, masih panjang nih list jalan-jalan kita :D





Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
Selama ini saya berpikir 'mumpung muda, masih banyak enerji, masih punya waktu, kenapa ngga menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan seru dan explore tempat-tempat seru di luar sana?' ternyata hal tersebut berbanding terbalik dengan oma cantik asal Korea ini. Saya boleh saja lupa dengan nama oma ini namun tidak dengan cerita yang ia punya. Perjumpaan kami di sebuah acara city tour di Ho Chi Minh ini memang hanya sehari dan saya tidak seharian berada disamping si oma, namun banyak hal seru yang saya dapat darinya.

Pemikiran awal saya meluap begitu saja begitu mendengar cerita perjalanan yang dilakukan si oma ini.Umur beliau sudah 60an, tapi masih gesit, lincah dan ceria. Di usianya tersebut, dia tidak segan melakukan perjalanan seorang sendiri ke Indochina, entah berawal dari mana, beliau hanya bercerita tentang Myanmar, Laos, dan Vietnam. Di Vietnam sendiri ia melakukan perjalanan darat dari Hanoi sampai ke Ho Chi Minh city. Sekali lagi, perjalanan yang beliau lakukan ini menghabiskan waktu 3 bulan dan SEORANG DIRI. Dengan semangat ia menceritakan semua aktifitas yang dilakukannya selama di Vietnam, dimulai dari naik kereta lambat dari Hanoi, naik bis ke Nha Trang, makan daging buaya dan mandi lumpur di Dalat, masih banyak lagi. 
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
PUSING =.= iya pusiingg milih pemenangnya :((, overall suka sama semua ide-idenya sih, berhubung ini GIVEAWAY seru-seruan aja, jadi yang belum menang gapapa yaaah :* . Lain waktu bikin GIVEAWAY lagi deh (semoga ada yg mau sponsorin next time) #eh. 

THANK YOU BUAT SEMUA YANG UDAH MELUANGKAN WAKTU BUAT IKUTAN GIVEAWAY ABAL-ABAL INI YAH *peluk satu-satu*

Berdasarkan hasil keinginan + daya khayal + paling mungkin gue lakukan + tingkat KESOTOYAN, gue pilih idenya

1. Fanny Fristhika Nila @f4nf4n ==> tiket IMAX

Saya suka ide solo trip Hanoi ke Ho Chi Minh nya, kayaknya emang bisa dilakuin sendiri, pengalaman nyasar bego sebelumnya sih udah bikin trip Vietnam kemarin seru, plus perjalanan antar kotanya yang aman nyaman karena bis-bisnya jelas dan ga banyak calo kayak disni *tiba-tiba curhat*. Saya emang penasaran banget sama SAPA dan Dalat *someday semoga somedayyy terwujud amin*

2. Adie Riyanto @adieriyanto ==> Burj Al Arab

Ngasih idenya banyaaak benerrr deh yang ini, tapi saya suka sama saran ke UBUDnya. Kata orang-orang suasana disana tenang gitu *mau buktiin ahh*

3 - 4. Fahmi Anhar @fahmianhar dan Hira @hiyrasoygeboy ==> Burj Al Arab

Ide Flobamoranya kak Fahmi asik banget kayaknya yah *bikin penasaran*  Saya pribadi bukan tipikal penggila island hopping, tapi Flobamora ini patut dicoba sepertinya ;) .Eh iya, Hira juga nyaranin ke Flores, apa kita pergi berdua aja ra? *lah ga jadi solo trip dong inih* mwhahahahah 

5. Rinta @rintadita ==> Pouch Padang

Rinta kasih ide buat ke Lombok, katanya ke Lombok sendirian alias SOLO trip tetep bisa hemat dan gak bikin kantong bolong *abis ini private message ah minta itinerarynya* ahhahahaha

6. Olen @olenp ==> Pouch Padang

Kak Olen ngasih saran buat main-main ke Laos, ihhh mau kakk mauuuu. *nodong tiket PP LAOS* *kemudian ditendang Oliq*

7. Noerazhka @noerazhka ==> Pouch Padang

idenya ngajakin saya bus hopping dari Jawa Barat - Jawa Timur, sewaktu kecil emang sering banget PP Jakarta - Surabaya/Malang (belum pernah Bus hopping tapinya)

Share
Tweet
Pin
Share
20 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hotel Review ] Yats Colony - Yogyakarta
    Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia?
    Magical sunset dari Mrs. Macquaire Chair Percaya ga kalo saya bilang, Australia belum pernah masuk ke bucket list tempat yang mau sa...
  • Black Star Pastry - Rosebery, Sydney
    Finally I have a proper cake hunting after more than a month since my last cafe hopping in Maroubra and Chatswood. At the first time I...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    11 months ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    4 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    4 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    11 months ago
  • Mari Melantjong!
    Persepolis, Kali Ketiga
    1 week ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    5 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    10 months ago
  • The TraveLearn
    1 Hari di Jakarta: LRT Jabodebek, Trinity Tower, dan Stasiun Tanah Abang Baru
    6 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    9 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates