• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Entah kenapa setiap saya berkunjung ke negara lain, biasanya saya memulai perjalanan dari Ibukotanya terlebih dahulu. Namun hal itu tidak terjadi ketika saya berkunjung ke Vietnam untuk pertama kali. Pesawat yang membawa saya, mendarat di bandara internasional Tan So Nhat di Ho Chi Minh, sebuah kota terbesar yang berada di Vietnam bagian selatan. Awalnya kota ini bernama Saigon, namun demi mengenang jasa Ho Chi Minh atau yang biasa disebut Uncle Ho, kota ini diganti dengan Ho Chi Minh City, beberapa orang lebih memilih menyebut tempat ini Saigon, well sah-sah aja kok.

Nah, sebelum berkunjung ke Ho Chi Minh ada beberapa hal yang mungkin perlu kamu ketahui sebagai informasi awal tentang kota yang diberikan julukan kota sejuta motor ini.
Share
Tweet
Pin
Share
16 comments
"Ini tournya ga mesti harus ngolong di terowongannya kan yah?"
"Yah gue ga tau, tapi kan namanya juga ke Cu Chi Tunnel, ini kita mau ke tunnelnya"
"Kalo gue ga muat terus gimana dong?" *kemudian hening*

Masih jauh dari Cu Chi Tunnel aja (dibaca: Ku Ci) saya udah bulak balik sibuk kepikiran akan tempat yang akan saya kunjungi ini. Jadi kalo dibaca-baca di beberapa blog travel atau hasi googling, katanya tunnel alias terowongan ini adalah tempat persembunyian vietkong jaman dulu waktu masih perang melawan tentara Amerika. Yang langsung terbayang dibenak saya adalah besarnya terowongan tersebut, sambil melirik ke pemandu lokal saya yang sejatinya memang orang vietnam asli. Postur tubuhnya sudah kecil menurut saya, tapi di tengah perjalanan beliau sempat bercerita bahwa jika dia tinggal di masa peperangan kemarin kemungkinan dia tidak akan selamat karena tidak akan muat masuk ke terowongannya, kemudian saya dan Wenny mulai lirik-lirikan.

Sebenarnya perjalanan saya ke Saigon atau Ho Chi Minh City kala itu kami atur sendiri tanpa agen perjalanan, namun begitu sampai hotel dan membaca selebaran tur lokal yang hanya $10 tapi sudah Full day trip Cao Dai Temple + Cu Chi Tunnel prinsip ekonomi di otak saya langsung mengkalkulasikan bahwa it was a good deal dan saya pasti ga mungkin bisa hanya mengluarkan $10 jika memaksakan untuk berkendara atau mengangkot menuju Cu Chi Tunnel, belum lagi waktu perjalanan yang bertambah panjang gara-gara nyasar dulu nantinya. Sehari sebelumnya saya dan teman-teman juga ikutan tur lokal $10 trip Mekong Delta hopping island ke provinsi Ben Tre dan My Tho.

Kembali ke Cu Chi Tunnel, begitu bis selesai parkir di parkiran tempat wisata tersebut saya memberanikan diri bertanya ke guide persis setelah turun dari bis.
"Ini semuanya harus masuk ke terowongan?"
"Ga harus semua kok, boleh juga kalo mau ga masuk terowongan"
*seperti kemarau panjang yang dijawab oleh hujan seharian, hati dan pikiran saya langsung plong seketika mendengar jawaban si mas-mas guide yang saya lupa namanya ini (dia jawabnya pake bahasa inggris, saya juga nanyanya pake bahasa inggris agak dialek Sunda lah* 

Awalnya kita diajak menuju semacam barak yang agak menjorok ke bawah tanah, semacam basement dengan atap yang dibuat dari rumbai-rumbai daun kering (daun kelapa rasanya). Diajak menonton film tentang sejarah Ho Chi Minh dan masa kelamnya saat perang Vietnam kala itu, untungnya film dibuat lumayan menarik dengan durasi yang tidak terlalu lama (karena kalo lebih lama lagi, saya yakin pengunjungnya sudah tertidur pulas). Tur guide saya yang di bis tadi ternyata juga menjadi guide di dalam areal Cu Chi Tunnel loh, beliau bisa menjelaskan dengan detail tentang Cu Chi tunnel ini, mulai dari proses pembuatannya, mengapa terowongan ini dibuat berliku, ada ruang-ruang apa saja di dalamnya, menjelaskan jebakan-jebakan tradisional yang dibuat oleh masyarakat sekitar untuk melawan tentara Amerika hingga beberapa cerita sedih dibalik peperangan ini.

Ini tempat menonton filmnya

Maket Cu Chi Tunnel, kira-kira seperti itulah


Daerah objek wisata ini terbilang cukup luas, dan hingga saat ini juga masih berbentuk lingkungan hutan besar namun dibeberapa tempat sudah dibuatkan path untuk para pengunjung dan fasilitas pendukung lainnya. Mas Guide ini dengan berapi-api menjelaskan satu persatu macam-macam jebakan yang pernah dibuat oleh vietkong pada masa perang dulu. Mulai dari jebakan di atas tanah, di bawah tanah, sampai yang dibuat di belakang pintu. 

Salah satu jebakan yang ada di sana

Ada juga replika terowongan Cu Chi Tunnel sepanjang 100 meter dan disetiap 20 meternya disediakan exit door apabila ada pengunjung yang tidak kuat dengan engapnya udara di dalam atau tidak kuat jalan jongkok di dalam tunnel. Saya? saya jelas ga ikutan masuk ke terowongan dan memilih untuk menyemangati kedua teman saya dan menanti mereka di exit door ke 5. Nah iya, kenapa saya bilang ini replika, karena menurut si guide besarnya terowongan sudah dimodifikasi agar para pengunjung dapat masuk kedalamnya, menurut beliau aslinya setengah dari replika tersebut *eemm ada yang muat emangnya?*

Sambil berjalan pelan menyusuri exit door tiap 20 meter, saya dan beberapa pengunjung lain yang tidak ikut masuk ke terowongan mulai ikutan ngetawain peserta tur yang nggak berhasil finish sampe di pintu keluar yang kelima *ga tau malu yah malah ngetawain orang lain, hehehe*. Alhamdulillah kedua teman saya keluar dengan selamat di pintu exit terakhir tanpa kekurangan satu apapun, kecuali kekurangan napas aja. Hasil interview dengan mereka, ternyata kondisi di dalam benar-benar gelap, lembab dan jalanan berliku, bukan hanya ke kanan dan ke kiri tapi juga ada kondisi di mana mereka harus setengah memanjat atau pelan-pelan menuruni terowongan *dua jempol buat kedua bocah ini*

Pintu masuk "replika" Cu Chi Tunnel yang 100 meter itu

Dua bocah yang berhasil keluar hidup-hidup abis ngolong di Cu Chi Tunnel

Dari semua cerita yang disampaikan guide yang paling menyentuh adalah ketika ia mengatakan bahwa apabila ditempat persembunyian ada ibu hamil dan melahirkan, bayinya akan dibunuh :((, kenapa? karena ditakutkan si bayi ini nantinya menghambat pengungsi yang lain, alih-alih selamat tentara malah bisa saja mengetahui tempat persembunyian mereka apabila terdengar tangisan bayi. *hati saya seketika ikut menangis, Ibu mana sih yang mau bayinya dibunuh :((*

Satu lagi hal menarik dari cerita mas Guide, saat itu ada 2 tipe orang yang ada di dalam tunnel, yang satu adalah tentara vietkong yang satu lagi adalah penduduk sekitar, yang membedakan mereka adalah dari seragam atau baju yang mereka kenakan. Penduduk lokal bertugas untuk membuat tunnel dan sebagai penunjuk jalan kepada tentara vietkong di dalam tunnel agar tidak tersasar ataupun terkena jebakan. Menurut mas Guide, setiap lubang tunnel ada guidenya sendiri semacam RT kali yah, yang paling mengenal daerah yang ada di bawah tanah dibagian tersebut. Kehidupan mereka benar-benar sebagian besar dilakukan di bawah tanah loh, bahkan di dalam terowongan tersebut juga terdapat ruangan dapur dan ruang rapat.

Jadi siapanya yang mau ikutan ngolong di Cu Chi Tunnel ini?
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments




You don't have to worry, you will never alone in Saigon :)
Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
I love 2013, where there were many "first time" things happened.

February

Family holiday in Singapore for the first time :)

March
I revisited Jogja with college friends, and became a candi hunter


April

I visited Malacca and Kuala lumpur for the first time, previously I visited Malaysia via Johor Bahru.


and I also enjoyed my vacation in Vietnam (it's also my first time there)


June

Another "First time" moment : Holiday in Bangkok


July

In this months, I have opportunity to explore my country, 
Hello Sumatera for the second time and Padang - Bukit tinggi for the first time


September

I experienced National Park for the first time in Baluran National Park


Company outing in Bali (well it was an outing activity out of Java Island for the first time)


November

Solotrip for the first time in Makassar


December

Revisited Singapore and enjoyed Christmas ambiance as Christmas tree hunter


although I have to close this year with packs of medicine around, but I thanked God for everything happened with me within this year.
Never know what 2014 may offer to us, but I believe that everything is going to be good when we have good heart to let go of 2013 and start new year with great faith.

HELLO 2014 NICE TO MEET YOU
Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
Last April, I went to Ho Chi Minh City. While researching for tourism objects in Ho chi min area, I found out that Starbucks finally opened its first store in this city and I'm so excited.

I searched for the store address using strabucks store locator and quickly searched for the address using google map.


Near to Pham Ngu Lao area 


Taadaaaa, it was my first to do list thing after reached the hotel. The store located on Nguyen Thi Nghia junction, which is a busy area. Yeaahh some people might know that Vietnam famous for its high amount of motorbikes. Somehow, It was quite hard to across the street.


Vietnam's first Starbucks store

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Dikarenakan ada beberapa teman yang rikues tentang itinerary selama kami (saya dan 2 teman) trip ke Ho Chi Minh City, Vietnam di awal April lalu.
Kami menghabiskan waktu selama 6 hari 5 malam. lalu apa saja yang kami lakukan? berikut ini itinerary lengkap yang kami lakukan selama di HCMC.

Day 1 Jakarta - Ho Chi Minh City


Karena flight kami sore dan baru tiba di HCMC pada malam hari, di malam ini kami hanya berkeliling district 1 untuk mencari makan malam dan tentunya saya mengajak kedua teman untuk berjalan *agak jauh* mengunjungi gerai starbucks. Fyi, gerai ini baru masuk ke Vietnam pada bulan Februari 2013 ini loh. Apa yg saya cari? tentu sajaah si tumbler dan mug :)

Day 2 Mekong Delta Tour


Hasil dari semalam muter-muter district 1 dan sibuk konsultasi dengan staff hotel. Kami memutuskan untuk ikutan tour local saja ketimbang trip sendirian naik turun angkot disini. Jujur yang kami takutkan lebih ke fakto bahasa, agak sulit berbincang-bincang dengan orang lokal yang masih banyak tidak begitu mengerti bahasa inggris. (dan benar saja, beberapa kali kami salah tanggap).

Akhirnya kami memutuskan mengikuti one day full trip ke Mekong Delta, option yang kami pilih adalah My tho - Ben tre. Untuk cerita lebih lengkapnya tentang tour ini bisa dibaca di potingan Mekong Delta Trip. Saya merekomendasikan tour ini buat teman-teman yang akan wisata di Ho Chi Minh, kenapa? karena dengan $10 kita benar-benar disuguhkan full tour seru dan asik, kaya akan ilmu pengetahuan dan pengalaman seru.


Day 3 Cao Dai Temple - Cu Chi Tunnel


Sebenarnya kami agak ngeyel sih untuk tour yang ini, padahal sebelumnya sudah sempat baca di beberapa blogpost yang memberitahu untuk ikut tour ke Cu Chi saja tidak usah dengan ke Cao Dai Templenya. Dan benar saja, ternyata perjalanan ke temple amat sangat melelahkan dan menghabiskan waktu, sedangkan waktu kami disana hanya sebentar :( untuk ikutan tour full day trip Cao Dai Temple - Cu Chi Tunnel kami harus membayar $8 diluar tiket masuk ke Cu Chi Tunnel. Tour ini belum sempat saya tulis di blog ini, mungkin baru bulan depan.



Day 4 Crazy Trip to Mui Ne


Kenapa crazy? karena kami menghabiskan waktu 12 jam di jalan PP, sedangkan di tempat tujuan hanya kami habiskan sekitar 6 jam untuk tour sedangkan 6 jam berikutnya untuk cafe hopping dan menunggu bis hingga jam 1 malam. cerita lebih lengkapnya bisa di baca di postingan Playing on sand dunes.





Day 5 Lost in District 1


Paginya saya kurang sehat sehabis 6 jam menunggu bis di pinggir jalan dan menghabiskan waktu 6 jam juga untuk menempuh perjalanan Mui Ne - Ho Chi Minh City. Begitu selesai istirahat dan sudah sedikit baikan, saya memutuskan untuk keliling ke daerah wisata di district 1 seorang diri dengan bantuan peta yang diberikan hotel. Apa yang terjadi? baca selengkapnya disini




Day 6 Museum and Shopping in local Supermarket


Berbekal nyasar di hari sebelumnya, saya malah menemukan supermarket lokal bernama Co.Op mart dan dihari terkahir ini kami memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut, mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Hasilnya pho instan dan cemilan-cemilan sudah siap untuk ikut di packing ke koper. Untuk cerita tentang Fine Arts Museum sudah pernah saya post sebelumnya. Sedangkan untuk museum Ho Chi Minch City belum sempat saya tulis postingannya.



Share
Tweet
Pin
Share
7 comments
 Look at the architecture

Need another place to visit in Ho Chi Minh City? Why don't you try to visit Fine Arts Museum? Actually I didn't put this place on my itinerary list. How funny when I found out that the gate that I used to go inside the Museum was actually the backside of the building, there was a staff assisted me to go to the ticket counter on the front gate. The ticket price for foreigner visitor is 20.000 VND or equal to 11.400IDR (rate 1 VND = 0,57 IDR).

In Vietnamese this Museum called Bao Tang My Thuat Vietnam (Fine Arts Museum Vietnam). This museum located in 97A Pho Duc Chinh, District 1, Ho Chi Minh City. There are two Fine Arts Museum in Vietnam, the other is in Hanoi. Fine arts Museum in Ho Chi Minh City has two main buildings, the building on the left side is mostly used for temporary exhibitions, such as; photographs, or paintings exhibitions. Meanwhile in the building on the right side it shows us some permanent exhibitions like, Fine arts in prehistoric and ancient times, Fine Arts from 11th - 19th century, Fine Arts from 20th century up to now, ceramic collections and many more.


Most of the paintings theme in this museum affected by civil war time and post-war. How was civilians survive from the war, how was the army protect their country from colonialist.

There are also many paintings show how painful was in Agent orange time where many children was born with defect. Some children was born with no eyes, no arms or no feet. It's heartbreaking right? I even cant stare at those paintings, I moved fast to another section.

Outside the building, we also would find many sculptures made by local artist.   


Building on the left


Building on the right 

Some of the collections


 My favorite

I wonder how old is this elevator


I came from that gate that actually the back side of the museum

Some of the sculptures
   
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


"Eh tadi taruh petanya dimana yah?" Ini udah ketiga kalinya saya bongkar lagi backpack untuk memastikan peta yang dari tadi saya bawa tidak hilang. Dan setalah itu, saya baru sadar kalau saya benar-benar kehilangan si peta :(. "Distrik 1 ngga besar kan yah? santai lah" saya coba menenangkan diri sambil berharap, yaa berharap tidak hilang di Ho Chi Minh City.


Pagi itu saya merasa kurang sehat, jadinya saya putuskan untuk membatalkan ikut city tour barengan teman-teman. Akhirnya demam yang dari subuh saya alami sembuh setelah tidur selama 2 jam :). Ahhhh menyenangkan tetap bisa jalan-jalan, eh tapi kan yang lain udah pergi duluan. Saya coba bongkar-bongkar laci dan menemukan fotokopian peta Ho Chi Minh yang diberikan staff hotel ke kami setibanya kami disini. What I'm gonna do now? yapp, TRAVEL ALONE in Ho Chi Minh City.

Begitu berangkat, saya mencoba mengingat peta yang saya bawa tadi. Prinsipnya gini, saya tidak tahu jalan, saya sendirian, tapi karena disini katanya rawan berarti saya harus bertingkah sewajar mungkin seperti mengenali dengan baik daerah di sekitar sini sehingga tidak membuat orang 'ngeh' kalo saya sebenarnya muter-muter kota sendirian, eh iya satu hal lagi, saya perempuan (lah emang iya kan). 


Handphone selalu saya taruh disaku celana, padahal kalo ngga ada wifi tidak bisa dipakai, tapi untuk berjaga-jaga aja. Demi tidak bulak-balik buka peta saya menulis list nama jalan yang harus saya lewati dari daerah hotel ke tujuan pertama saya, yaitu Reunification Palace/ Independence Palace.


Sebenarnya fotokopian yang saya bawa tidak begitu mirip dengan screenshot ini tapi lumayan untuk menggambarkan perjalanan saya siang itu.

courtesy http://www.dreamvietnamtravel.com


Jadi rute saya siang itu ==> Bui Vien Street street - Nguyen Thai Hoc Street - Le Thi Hong Gam - Turn right after Art Museum - Nguyen Thai Binh Street - Nam Ky Khoi Nghia Street

Eh iya, pasti bingung juga yah kenapa saya tidak belok saja ke arah Benh Tanh Market? ini saya lalukan untuk melihat daerah baru yang belum pernah saya lewati.


Wihiii, tujuan pertama saya dapat ditemukan dengan mudah, dan benar saja disepanjang jalan menuju Reunification Palace banyak yang menyapa menanyakan apakah saya tersesat, atau saya pergi sendirian. Kira-kira kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia mungkin seperti ini "Neng, Sendirian?" atau "Mau kemana neng? mau diantar?" ya gitu lah kira-kira, hehheheheheh. Tapi dengan santai selalu saya jawab,"mau pergi ke deket sini kok" atau "Tidak terima kasih, sudah biasa jalan disekitar sini" nah udah terlihat sotoy kan ? hahahah

Seampainya di Reunification Palace, saya membeli tiket dan iseng-iseng gabung tur turis asing sana sini, tidak mendaftar menggunakan guide dari museum hanya iseng berdiri disekitar germbolan turis, dari yang pake bahasa Jepang, menclok ke bahasa Inggris, sampe ke kelompok tur dengan bahasa Korea. 


Semua terlihat baik-baik saja sampai akhirnya saya memutuskan untuk istirahat sejenak di lantai paling atas museum, sambil ditemani alunan piano dan air mineral yang saya bawa dari hotel, saya mulai kelimpungan mencari peta untuk mencatat kembali jalanan yang harus saya lewati untuk menuju Saigon Post Office dan Notre Dame Cathedral.


"Lah gimana ini?" gumam saya dalam hati. Kemudian saya berpikir, jangankan di Vietnam, di Bekasi - Jakarta aja saya sering nyasar kok, jadi seharusnya ga usah takut lah yah. Yang saya lakukan hanya tinggal improvisasi aja disepanjang jalan sambil celingak-celinguk mencari tanda jalan yang mengarah ke tempat tersebut.

Seharusnya sedari awal saya memperhatikan obejk-objek wisata pada peta, sehingga apabila hal seperti ini terjadi, setidaknya saya ngeh seberapa jauh jarak dari satu objek ke objek yang lain.


Kalau saja saat itu saya masih memegang peta, saya hanya tinggal melewati taman kota dan langsung bertemu 2 bangunan yang menjadi tujuan saya selanjutnya, tapi berhubung saya benar-benar tidak ingat lokasi, jadi inilah yang terjadi


Map expectation


 what really happened
courtesy vietnamtravels.vn

Saya berjalan lebih jauh dari yang seharusnya dan menuju arah yang berlawanan pula dengan Post Office dan Notre Dame. Mungkin ada yang bingung, "Kenapa ga nanya jalan sih?" nah ini dia kebiasaan saya, saya ngga suka kalau terlihat saya ini tersasar, seperti yang saya jelaskan sebelumnya saya bertingkah seolah-olah saya mengerti daerah tersebut. Jadi memang resiko ini yang pasti saya temui. 

Lalu bagaimana saya kembali ke rute yang benar? Sebenarnya jarak Reunification Palace - Saigon Post Office dan Notre Dame hanya sekitar 400 meter saja. Tapi saya berjalan ke arah lain hingga 1,1 km sampai bertemu supermarket lokal Co.Op Mart, mungkin di Indonesia setara dengan Hari-Hari, Tip Top atau Super Indo. Sebenarnya dari 400 meter pertama saya sadar sudah berjalan terlalu jauh, lalu kenapa diterusin jalan sampe 1,1 km sih? Keseringan nonton Dora the Explorer sih kayaknya yah, begitu ketemu tempat baru yang ada dipikiran saya hanya "Di depan sini ada apa lagi yah?" begitu terus, jadi deh 1,1 km jalan kakinya, heheheheh.

Di 450 M pertama saya bertemu gerai Gloria Jean's Coffee dan Bread Talk, bisa saja saya mampir basa-basi beli kopi dan minta password wifi untuk cek map kemudian kembali ke jalan yang benar. Tapi pernah pernik nama tempat disepanjang jalan membuat saya semakin penasaran untuk terus menyusurinya.

Saya baru membuka peta dari google map di Lotteria yang terletak di perempatan Jalan Vo Thi Sau yang ternyata sudah masuk Distrik 3 Ho Chi Minh City atau berjarak sekitar 1,3 km dari Reunification Palace. Mampir Lotteria untuk makan siang plus memanfaatkan wifi gratisnya. Otomatis saya cekikian sendiri begitu sadar segitu dekatnya jarak Reunification Palace - Notre Dame. 

Yang menyenangkan dari nyasarnya saya kali ini adalah menemukan beberapa tempat yang memang sedari awal memang tidak pernah masuk ke itinerary saya, seperti mampir ke Co.Op Mart untuk beli oleh-oleh Pho Instan dan keripik buah, Marie Curie School, Bread talk dan Gloria Jean's, dan Makan siang di Lotteria. Oh iya, karena saya juga tidak mau tampil mencolok, saya tidak mengeluarkan kamera disepanjang jalan tadi. Bahkan dengan tampil secuek mungkin aja, masih banyak yang nanya-nanya saya mau kemana, nawarin rickshaw tanpa lelah sampe ada orang juga yang ngikutin dari belakang. Saya sendiri memutuskan mampir ke Co.Op Mart awalnya karena sadar ada orang yang tiba-tiba ngikutin saya. Padahal saya ga keliatan nyasar kok (nih muka kan udah membaur sama penduduk lokal, eh mukanya lebih mirip org Thailand-Malaysia deng, dari pada orang Vietnam =,=), celingukan aja engga. Untunglah begitu masuk ke Co.Op Mart sih cowo ini sudah tidak tampak lagi *amaaaannnnnnn*. 
  
Akhirnya selesai makan siang, saya kembali jalan melewati rute yang sama namun melewati pedestrian yang di sebrang jalan karena takut si orang yang tadi ngikutin saya balik lagi. Akhirnya saya kembali ke jalan yang benar dan berhasil menemukan kedua tempat tersebut.

I had to walk around 2,6 km to reach it

Big Clock in front of the post office
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
On my trip to Vietnam, I obsessed with this place. The place where you can play sand without getting worry of being wet. In Mui Ne, Binh Thuan province there are two sand dunes, red and white. Actually this place is near to the beach but those sand dunes are not connecting to the beach. The distance between Ho Chi Minh City and Mui ne is about 219 km. It takes 6 hours ride by bus, and you can easily find a bus office around Pham Ngu Lao street.


Saat trip ke Vietnam, bisa dibilang saya tergila-gila dengan tempat ini. Seru kan bisa main pasir seru-seruan kayak di gurun dan ga usah takut basah kena air. Ada dua padang pasir yang bisa kita kunjungi di Mui Ne, Provinsi Binh Thuan, Vietnam. Sebenarnya tempat ini daerah pesisir pantai, tapi justru lokasi kedua padang pasir ini tidak bersinggungan langsung dengan pantai dan lautnya. Jarak dari Ho Chi Minh City ke kota ini sekitar 219 km. Memakan waktu sekitar 6 jam dengan menggunakan bis. Bis antar kota tersebut dengan mudah dapat kita temukan di area Pham Ngu Lao street, HCMC.



Actually I booked seating bus to go to Mui Ne and chose sleeper bus to go back to Ho Chi Minh, but due to some reason I can't use sleeping bus.



Sebenarnya saya sudah membeli tiket bis biada untuk ke Mui Ne dan sleeping bus untuk tujuan kembalinya. Namun karena suatu hal, saya harus tetap kembali duduk manis dengan bis biasa (selama kurang lebih 6 jam) untuk perjalanan kembali dari Mui Ne.



I think It was a crazy trip. The bus departed on 8 am and arrived in Mui Ne around 1 pm. I took half day "sunset tour" used a jeep cost $30 for 3 persons. The tour ended on 6 pm and we walked around Mui Ne while waiting for 1 am to go back to Ho Chi Minh. And finally I arrived in Ho Chi Minh City on 6 am in the morning, it was like an "amazing race" trip.



Perjalanan ini sedikit sinting. Bagaimana tidak, bis dari HCMC berangkat jam 8 pagi dan tiba di Mui Ne sekitar jam 1 siang. Saya sempat memesan tur lokal setengah hari untuk mengunjungi padang pasir menggunakan jeep dengan tarif $30 untuk 3 orang. Tur tersebut selesai sekitar pukul 6 sore. Kemudian saya berkeliling Mui Ne dengan berjalan kaki demi menunggu jam 1 pagi untuk naik bus kembali ke HCMC dan sampai di hotel sekitar pukul 6 pagi. Udah kayak ikutan "amazing race" yah? 



This province is well known for its Dragon Fruit farm. We can find dragon fruit farms along the street from Binh Thuan border to Phan Thiet City.



Yang paling terkenal dari tempat ini adalah perkebunan buah naganya. Bisa kita lihat dari sepenanjang jalan masuk ke provinsi ini sampe ke kota Phan Thiet. 



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Sungai Mekong ? Yes, nama sungai tersebut sudah pernah saya dengar sebelumnya di pelajaran Geografi SMP - SMU dan akhirnya di tahun ini saya berhasil mengunjungi sungai tersebut. Berawal dari kenekatan untuk ikutan lokal tur yang ditawarkan hotel, padahal saya baru sampai di hotel malam harinya dan nekat meminta untuk didaftarkan tur pagi harinya sekitar jam 6 dan tur tersebut sudah akan mulai sekita pukul 8 pagi. Lucky me, masih ada tempat untuk kami (saya dan dua orang teman). Tur yang kami pilih adalah Mekong Dellta (My Tho - Ben Tre) dengan merogoh kocek US$10. Perjalanan dimulai sekitar pukul delapan dan bis yang membawa kami menuju sungai Mekong penuh dengan turis mancanegara. Saya bertemu turis dari Malaysia, Korea, Inggris, Jerman dan masih banyak lagi. Tidak sedikit dari merekan yang berpergian seorang diri.

Dalam waktu kurang lebih 1 jam 45 menit, kami tiba di dermaga untuk melanjutkan perjalanan menggunakan perahu motor menuju Pulau Unicorn. Begitu perahu bergerak meninggalkan dermaga, saya yang memilih duduk di sisi pinggir sebelah kiri langsung mencari pemandangan bagus dan suasana sekitar yang menarik untuk diabadikan.

I found this boat during the trip to Unicorn Island

Boats near the pier

Begitu sampai di Pulau Unicorn, kami diajak ke sebuah tempat untuk mencicipi teh dan beberapa cemilan kecil. Teh tersebut tidak menggunakan gula, melainkan madu. Yang spesial dari madu ini adalah lebahnya. Ternyata si lebah yang menghasilkan madu tersebut sehari-harinya menghisap sari bunga dari pohon kelengkeng (yup disekitaran tempat tersebut memang banyak pohon lengkeng). Selain teh kami juga di siapkan buah kumquat, sejenis jeruk namun lebih kecil dan rasanya asam manis dan untuk cemilannya, kami disediakan keripik pisang, manisan jahe, dan kue kacang mirip tingting.

Nice snacks with Nice Tea

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai sempit dengan menggunakan perahu sampan kecil dengan 2 orang pendayung di depan dan di belakang serta 4 orang penumpang di tengah berjajar kebelakang. Kami pun harus duduk benar-benar di tengah dan ikut membantu menyeimbangkan kapal agar tidak miring. Sejujurnya ini adalah aktifitas yang lebih menakutkan daripada naik roller coaster buat saya *saya kan ga bisa berenang*, takut perahunya kebalik, tapi ternyata seru loh. 

in the middle of 'river cruise'

Di ujung perjalanan menyusuri sungai ini, perahu yang sebelumnya membawa kami ke Pulau Unicorn sudah menunggu. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan permen kelapa. Semua langkah-langkah pembuatan permen tersebut dijelaskan dengan baik dan herannya bukan dari pegawai setempat tapi dari Pemandu Tur kami sendiri loh. Saya membeli beberapa permen kepala untuk dijadikan oleh-oleh orang rumah dan teman-teman di kantor, yang ternyata meskipun cuma 6 bungkus tapi beraaaattt.

Dan aktifitas selanjutnya yang paling menyenangkan, kami dibawa menuju tempat makan siang. Jadi kalo dihitung-hitung biaya US$10 itu sebenernya sebanding, karena makan siang ini sudah termasuk *senyum lebar*, yihaaaa akhirnya saya menyicipi makanan Vietnam pertama saya. Vietnam Spring roll ini sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya.

 Spring Roll

Perjalanan saya belum selesai, selepas perut kenyang, istirahat cukup, jalan-jalan disekitar restoran dan foto-foto, Kami kembali lagi ke perahu dan melanjutkan tur ke kebun buah. Begitu sampai, kami disambut penduduk lokal dengan ramah dan buaaahhh warna warni yang sudah tersusun rapi di meja ditemani teh. 

Potongan buah naga, mangga, nanas, nangka dan pisang mungkin bukan hal yang aneh yah buat saya yang tinggal di Indonesia dengan iklim tropis sama seperti yang di miliki Vietnam. Lucunya orang lokal disana begitu antusias memberitahu kami buah-buah tersebut padahal di dalam hati 'yaah di rumah juga sering makan yang kayak gini', namun sepertinya untuk beberapa turis yang berasal dari eropa atau amerika, buah-buah tropis seperti nangka, nanas dan buah naga masih jarang mereka jumpai. *yes I can see it on their faces*

Fruits time
   
5 piring buah-buahan seperti yang tampak pada gambar di atas disediakan untuk 4 orang. And guess what? hanya di meja kami saja yang seluruh buah nya ludes di makan, bahkan kami masih melirik kanan kiri untuk nambah buah dan minuman hahahahahahah. 

Akhirnya one day full trip to Mekong Delta harus berakhir, puas jalan-jalan seharian, puas foto-foto, perut kenyang, tambah banyak teman :). Saya senang sekali bisa bertemu Oma Korea cantik yang usianya sudah 50-an tapi jalan-jalan ke Vietnam sebagai Solo-traveler dan tahu kah kalian, hari itu adalah hari terakhir perjalanannya setelah menghabiskan 3 bulan penuh mengitari Asia tenggara. Katanya jika suatu hari kami berkunjung ke Korea, beliau menawarkan diri untuk menjadi host dan guide. Yess maamii wait for us *aminnn*


Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Sewaktu ikut Local tur menyusuri sungai mekong, saya berkesempatan mencicipi makanan lokal khas Vietnam, Spring Roll. Awalnya saya hanya ditawari ikan goreng atau ikan kukus untuk makan siang, tur guide membisikan ke kami kalau makan siang yang disediakan travel biasanya dikit. Ehmm bukannya takut tidak kenyang sih, tapi saya dan teman-teman memang ingin makan ikan, karena sepertinya agak susah mencarinya di district 1, Ho Chi Minh City.

Nama ikan yang kami pesan adalah "Elephant Ear Fish" (Ikan Kuping Gajah) wooww namanya aja sudah unik banget pikir kami. Bahkan kami saja masih tidak tau ukuran ikannya yang sebesar kuping gajah, atau emang kupingnya si ikan yang sebesar kuping gajah *kuping ikan yang mana sih?*



Elephant Ear Fish


Ternyata si pelayan resto tidak hanya menyajikan ikan dengan tempat khusus saja, tapi juga menyediakan sayur-sayuran, mie putih, dan Rice paper yang awalnya sempat saya pikir tatakan piring, hehehehehe. Masih dalam keadaan bingung mau mulai makan dari mana, tiba-tiba pelayan resto dengan sigap mengambil rice paper bundar itu dan dicelup ke air yang sudah dia sediakan diwadah dan diputar sehingan seluruh bagian terkena air. Rice paper yang basah kemudian ditiriskan ke piring kecil, dan dengan sigap dia mengatur mie putih, sayuran dan menyuwir ikan. Dengan lipatan yang mirip risol , voilaaa jadilah Spring Roll yummy.


White Noodle and Vegetables *Image belong to Wenny

Roll the Spring Roll


Spring Roll with sauce

Sebagai pendamping Spring Roll biasanya disediakan kuah cocol yang berasa asam manis dan sedikit pedas. Mirip rasa saus yang biasa disediakan dirumah makan Thai Express. Rasa makanan ini enaaaaakkk, meskipun saya harus sedikit bersikeras mengeluarkan beberapa jenis sayuran yang dilidah saya terasa pahit. Itu juga karena saya memang kurang suka sayuran atau lalapan. Harga paket Spring roll ini 180.000 VND atau sekitar IDR 90.000 dan cukup untuk 6 - 8 spring roll




What's inside the spring roll *Image belong to Wenny

Saking penasarannya sama makanan ini, dihari berikutnya kami sempat mencoba memuat spring roll sendiri disalah satu resto ditengah perjalanan kami ke Cu Chi Tunnel. Dihari terakhirpun kami sempatkan mampir supermarket lokal dan membeli rice paper untuk dibawa pulang. Sudah bisa jadi koki rumah makan Vietnam di rumah deh :) 

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
    Bukan Meidi namanya kalo jalan-jalannya minggu lalu kemudian artikel review hotelnya terbit di minggu setelahnya, hihihih begitu juga untuk ...
  • [ Hostel Review ] 5 Footway.inn Bugis Project - Singapore
    5footway.inn Project Bugis Beberapa kali berkunjung ke negara tetangga, Singapura, saya selalu menginap di hostel, bukannya anti Hotel...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • [STAY AT HOME] - Beberapa Cara Agar Website Kamu Diterima Adsense
    Dimulai dari hari ini, saya berencana untuk aktif lagi menulis di blog dan salah satunya akan banyak berbagi info tentang banyak hal di #st...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    6 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    3 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    1 month ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    3 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    3 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    6 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    8 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    8 months ago
  • Mari Melantjong!
    Takeru Satoh Dari Baris Ketiga
    4 months ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    10 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    2 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    6 months ago
  • The TraveLearn
    Stop Asal Beli! Ikuti 7 Tips Memilih Sepatu Basket Anak yang Anti Cedera
    2 days ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    8 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    8 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates