• Home
    • About Me
    • Indonesia
    • Asia
      • Dubai
      • HongKong
      • Japan
      • Macau
      • Malaysia
      • Singapore
      • Thailand
      • Vietnam
    • AUS NZ
      • Australia
      • New Zealand
    • Portfolio

Geret Koper

Ringan geret koper, Berat kasih porter


Arashiyama merupakan sebuah kota di sebelah barat di prefektur Kyoto. Untuk mengunjungi kota ini, kita dapat menggunakan kereta ataupun bus lokal dari Kyoto. Kota ini terkenal dengan Bamboo Groove-nya. Selain mengunjungi tempat tersebut, wisata lain yang masuk di list saya adalah naik Sagano Romantic Train. Sagano Scenic railway ini memiliki trek membentang sepanjang Arashiyama dan Kameoka, jalur ini juga melewati sungai Hozugawa. Sebagian besar dari kereta ini berbahan kayu dan memiliki lima gerbong penumpang. Jujur jika ingin mendapatkan pemandangan yang super seru, kalian sebaiknya naik kereta ini saat musim gugur. You gonna be wowed by the beautiful view along the trip (ini kalo google image sih, saya belum pernah pas gugur soalnya), mungkin karena pemandangan di saat itu kereta ini dinamakan Romantic Train. 

Jalur kereta ini memiliki 4 stasiun, Torokko Saga Arashiyama, Torokko Arashiyama, Torokko Hozukyo, dan Torokko Kameoka. Penumpang dapat memilih untuk naik dari stasiun manapun, namun rekomendasi saya sebaiknya naik dari Stasiun Torokko Saga Arashiyama menuju Torokko Kameoka atau sebaliknya agar mendapatkan one full trip. 

Trip yang saya lakukan sendiri tidak dimulai dari Torokko Saga Arashiyama tapi dari Torokko Arashiyama. Kenapa? karena saya kehabisan tiket kereta hingga 2 jam kedepan, jadi saya memutuskan untuk trekking ke Bamboo Groove terlebih dahulu sekalian jalan menuju stasiun yang kedua. Di tempat inipun saya harus menunggu jadwal kereta sejam kedepan, lagi-lagi karena kehabisan tiket.

Gerbong 5, tempat duduk 3A, Kereta 17:10, harga 620 yen

Jika jalan-jalan ke Jepang dan ingin punya souvenir yang unik tapi gratis, pastikan kamu bawa buku atau notes kecil dari rumah. Di beberapa tempat banyak disediakan stempel khusus yang bisa kamu gunakan sebagai kenang-kenangan. Kebetulan di setiap stasiun yang ada di jalur ini juga terdapat stempel khusus yang berbeda-beda tiap stasiunnya. 

Cap yang tersedia di stasiun Torokko Arashiyama

 Cap yang tersedia di stasiun Torokko Kameoka

Pemandangan di perjalanan, sungai Hozugawa dan rimbunan pohon yang (sayangnya) masih hijau

Beberapa review yang saya baca sebelumnya di web wisata Jepang, pemandangan dari kaca kereta saat musim gugur benar-benar cantik. Well, saya tidak bisa berharap banyak waktu itu karena memang kami datang terlalu awal dan daun-daun belum berubah menjadi warna merah. Ah iya, ada satu hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya, dari total 5 gerbong kereta di Sagano Romantic Train ini, saya dan teman-teman mendapatkan tempat duduk di gerbong ke 5 yang ternyata tidak memiliki kaca alias terbuka full. 

ini untuk perbandingan, gerbong sebelah kanan adalah rupa dari 4 gerbong lain dan yang sebelah kiri adalah gerbong kami

Terpaan angin di sepanjang perjalanan benar-benar membuat pipi saya membeku dan kedua telapak tangan mati rasa. Suhu saat itu sebenarnya masih belasan derajat celcius namun karena hari itu sempat hujan rintik dan waktu juga sudah terlalu sore, rasanya seperti lagi trip saat musim dingin.  Masih jelas diingatan saya beberapa teman yang duduk di sisi lain kereta berulang kali memanggil untuk meminta tolong difoto, tapi saya cuma duduk diam sambil menaikan leher jaket ke arah muka, dinginn cooyy. Saya ga bisa bayangin deh jika naik kereta ini saat musim dingin. Ajaibnya, dua teman saya dengan bahagianya naik ini dengan mengenakan celana pendek. Meski awalnya terlihat tenang dan sok santai, akhirnya kedingin juga saat harus berjalan menuju JR stasiun dari stasiun Torokko Kameoka.

Ini foto super palsu, mereka terlihat bahagia gini cuma saat di foto aja, aslinya sih kedinginan

INFO PENTING!
Meskipun perjalanan ini hanya sekitar 25 menit, tapi saya tidak menyarankan wisata ini untuk teman-teman yang mengidap Claustrophobia atau memiliki ketakutan terhadap ruangan gelap dan sempit. Kereta ini berjalan melalui beberapa terowongan gelap dan satu diantaranya cukup panjang. Saya sendiri hampir sesak karena panik dan udara yang agak lembab saat melewati terowongan tersebut. 

Share
Tweet
Pin
Share
15 comments

Matahari sudah mulai terik saat saya dan teman-teman sampai di gerbang depan Fushimi Inari. Menyenangkan sekali yah mendapati sebuah objek wisata yang terkenal berjarak tidak sampai 50 meter dari pintu luar stasiun kereta. Di saat beberapa tempat lain mengharuskan kami menghidupkan google maps atau melihat petunjuk arah yang ada di stasiun, di tempat ini kami tidak perlu repot-repot mencari apapun.

Fushimi Inari terletak di daerah selatan kota Kyoto. Di sekitaran kuil-kuil di areal ini banyak dijumpai patung-patung rubah yang merupakan simbol penyampai pesan kepada Inari, yang dipercaya sebagai Dewa Pertanian. Kuil utama yang ada saat ini merupakan kuil yang dibangun ulang setelah bangunan sebelumnya habis terbakar saat perang Onin. 

Hari itu Fushimi Inari Taisha tampak cukup ramai, yah mau bagaimana lagi? kami datang di hari minggu, yang tentu saja akan lebih ramai dari hari biasa. Saya tetap memasukan Fushimi Inari ke dalam list tempat tujuan karena pas banget JR West Pass kami akan berakhir di hari tersebut. Sebagai informasi, JR West Pass ataupun JR pass yang keseluruhan tidak terlalu berguna di seputaran Kyoto. Untuk menjelajah Kyoto saya sarankan kalian membeli Bus Pass atau Subway Pass, karena dua moda transportasi tersebut yang menjangkau banyak tempat di Kyoto.

Ini adalah kuil paling depan dan biasa dijadikan meeting point

beberapa pengujung terlihat mencuci muka dan berkumur di mata air ini sebelum berkunjung ke kuil

Kembali ke Inari, tempat ini terkenal dengan 10.000 gerbang Torii yang terbentang dari tengah hingga ke atas gunung Inari. Tidak hanya torii tersebut, di Fushimi Inari juga banyak terdapat kuil dan tempat untuk "menggantungkan harapan". Mulai dari 1000 cranes (Bangau) origami yang berwarna-warni bergantungan di kuil terdepan, papan kayu persegi lima yang dapat ditulis dengan spidol, gantungan harapan berbentuk torii berwarna merah, kertas permohonan yang diikat sedemikian rupa di tali yang disediakan, papan kayu berbentuk rubah yang banyak dimodifkasi orang-orang, bendera merah putih yang berisi doa dan harapan, hingga papan kayu berbentuk torii merah lebih besar bertuliskan harapan-harapan yang banyak ditaruh di kuil paling atas.

 bisa pilih salah satu dari media ini untuk menulis doa-doa dan harapan

 awalnya berbentuk rubah, lalu banyak yang improvisasi jadi kayak gini

mejeng dulu di lorong Torii gates

semakin ke atas, Torii gatesnya semakin besar-besar

Kuil ini tidak hanya ramai di hari libur atau akhir pekan, namun juga di hari biasa. Banyak orang terutama orang-orang tua yang mendaki ke kuil atas untuk berdoa. Tidak sedikit pula orang-orang yang datang ke tempat ini dengan menggunakan baju yukata lengkap dengan riasan rambut, make up dan sendal khususnya. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kuil teratas kurang lebih 1,5 jam ditempuh dengan kecepatan berjalan kaki santai. Saya sendiri sih, menghabiskan waktu 1,5 jam tersebut di bawah kuil, di dekat tempat jajanan dan oleh-oleh setelah berhasil menolak ikut hiking ke atas dengan alasan kaki cenut-cenut. Iyaa ini hari ke empat kami di daerah Kansai dan sudah tidak terhitung lagi berapa km total kami berjalan kaki dari hari pertama.

ini dia kuil yang ada di paling atas

Selesai (teman-teman saya) hiking, kami bergegas mencari makanan di kios-kios yang ada di sebelah kiri sebelum menaiki tangga ke arah 1000 Tori. Di sini banyak sekali penjual makanan ringan khas Jepang, sesuai dengan yang kami cari. Mulai dari Mochi bakar (eh ini sok tau banget ngasih nama makanannya), takoyaki ganteng (maksudnya yang jual yang ganteng), okonomiyaki, jus jeruk segar yang langsung di minum dari buahnya, okonomiyaki, mie goreng, ubi goreng dan maaaassih banyak lagi. Rata-rata harga makanan yang dijual di tempat tersebut dijual dengan harga 500 yen per porsi. Buat yang cari kit-kat varian Strawberry cheesecake dengan box berbentuk gunung fuji, bisa kamu temukan di salah satu souvenir shop di dekat tukang ubi goreng. Selesai menyantap semua jajanan yang juga sebagai menu makan siang, kamipun bergegas kembali ke stasiun JR untuk melanjutkan perjalanan.

sebelum pulang, jangan lupa jajan dulu

Sekedar info, jika akan membeli air mineral di vending machine usahakan untuk membeli di areal kios-kios makanan di bawah karena harganya lebih murah ketimbang air mineral di vending machine di kuil teratas. Alih-alih digantung di tempat yang disediakan, banyak juga loh pendatang yang membeli wishing board di Fushimi Inari untuk dijadikan Souvenir.   
Share
Tweet
Pin
Share
21 comments

Mendengar kata Jepang, selain mengingatkan saya akan bunga sakuranya juga mengingatkan saya akan es krim. Es krim? ya, mungkin sudah beberapa dari kalian yang tau jika negeri matahari terbit ini terkenal dengan es krim dengan rasa-rasa yang unik. Sebenarnya tidak hanya sebagian rasanya saja yang unik, beberapa tempat juga menjual es krim dengan bentuk cone atau cup yang unik.

Oktober awal lalu saya menapakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang, kala itu saya hanya berkesempatan mejelajah region Kansai yang berada di sisi barat Jepang. Selama 8 hari saya berkeliling kota-kota di beberapa prefektur tersebut, tidak pernah seharipun terlewatkan untuk menyicip es krim bahkan di hari dingin yang berangin sekalipun, EPIC.

Seventeen Ice - Soda flavor


Cuaca Himeji saat itu sebenarnya tidak terlalu terik tapi begitu saya dan teman-teman melihat ada vending machine yang menjual es krim, keinginan membeli es krim dan ini adalah es krim pertama yang kami icip. Vending Machine seventeen ice ini termasuk yang paling sering kami temukan, selain Haagen Dasz vending machine. 




Sesaat sebelum menyebrang ke pintu masuk Himeji Castle, fokus saya dan teman-teman kembali diganggu dengan es krim yang kali ini dijual di toko pinggir jalan dan memiliki bermacam rasa. Ah, Himeji castle can wait. Kali ini kami membeli 5 es krim dengan 4 rasa berbeda, Matcha, Chocolate, Strawberry dan Black Sesame. Enjoy ice cream in front of Himeji Castle, checked.




Menikmati senja di Kobe Harborland sambil menunggu lampu-lampu di kobe port tower menyala menjadi aktifitas saya selama di Kobe. Sebelum beranjak pulang, saya mengajak teman-teman untuk mampir ke Umie shopping mall untuk membeli makan malam dan *eheem* another Ice Cream. Ice cream tiga rasa dalam satu cup yang dijual Dragon Sweets-pun jadi pilihan.


Harus menunggu 1 jam hingga kereta Sagano Scenic datang, kami memutuskan untuk bersantai sejenak di areal luar stasiun Arashiyama. Beristirahat setelah berjalan menyusuri Arashiyama Bamboo forest ditemani Matcha Ice cream puff dan Matcha Ice cream cup dengan mochi dan kacang bubuk, what a good life :P.


Setelah berkunjung ke Fushimi Inari dan beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan ke Nara, teman saya memutuskan membeli Popsicle alias es krim batang di minimarket yang terletak persis di depan pintu masuk areal Fushimi Inari. It was grape flavor.

Pesta Es Krim di Kansainya, lanjut ke part 2 yah :) 
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments

They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan Hotel, I booked a new hostel in Sanjo area called Piece Hostel. Actually I had never intended to stay in this hostel, but since there was no room available at my friend's hostel so I had to look somewhere else to stay. I think I should thanked booking.com for putting this hostel on the first list when I was searching for hostel in Kyoto.

This hostel is the second project from Piece hostel. Their first hostel is Piece Hostel in Minami area, really near to Kyoto station. While Piece hostel Minami has so much white color in thei property, in Piece hostel sanjo they put grey as the dominant color. Both of the design were modern, stylish and futuristic *me playing as smart ass interior designer LOL*. Actually they renovated a traditional ryokan into this stylish hostel.

The curtain covering the hostel's entrance giving a traditional touch to Piece hostel. But when you come and open the curtain, you will see the modern look of the hostel.

Traditional look of the hostel

wait for it..wait for it

"Lobby" which also luggage store space 

Common Room (Kitchen Area & Terrace)

Before I taking you to see the room, let me take you to Piece Hostel common room. Next to the lobby you will see free computers area. There were three iMac for you to use at anytime, but beware of their keyboard it had a different keyboard arrangement from what I usually used, REALLY.

3 iMac ready to serve you

If you go straight from computers area, you will find the common room. So far, this is my favorite common room in Japan's Hostel. Actually, the common room, kitchen area and terrace are become one. Free breakfast were served starting 7 am at the common area, well although it turned out they ready to serve breakfast from 6.30 am. 

You will find pastries, potato salad, DIY miso soup and rice selections every day. My favorite were potato salad and their Wakana rice (I think It was white rice combined with wakame (seaweed), it salty but I like it). You can also fill up your tumbler with water in this area, free flow tea and coffee also available 24 hours. 

hello FREE breakfast

 anyone want some pastries?

don't forget to wash your dishes after use

Shower & Laundry Room


While you might find toilets in each floor of this building, laundry room and shower room is only available in basement floor. There are many shower rooms to be used and they also provide a dressing room. The shower has a unique knob which will automatically shut down depends on how long you press the knob down. It start from 5 seconds to one minute maximum water flow before it shuts down by itself, so you may need to press the knob again and again, nice technology to save the water.

I stayed for three nights in this hostel and it was my 3rd to 6th day in Japan, so I decided to put some of my clothes to the laundry machine. It will cost you 200 yen for washing machine and 100 yen for drying machine, well it cost me another 100 yen for another drying machine spin. It still a little bit wet on its first spin.


Shower room and dressing room

 it easy to use and you will get free detergent for washing machine

The Room

They are not only provide dormitory type room, from 4beds up to 10beds rooms, but also has single, double private room and also a family room (applicable for 6 people). in 10beds room they provide you a locker but it was not big enough to store your luggage nor your backpack, but it was bigger than the one I found in Drop inn Osaka hostel. You can store your luggage on the corner of the room. 

If in another hostel you may only get 1 pillow with no selection of pillow type, in this hostel I found something new. If you were not comfort with your pillow in your room, you can just go outside looking for pillow rack and start hunting for pillow that might suitable for you. From too soft pillow until a bit hard pillow (psst I took 2 pillows hahaha) and under the pillow rack you might found sandals rack which you can use. 

Image Source : http://www.piecehostel.com/sanjo/en 


Image Source : http://www.piecehostel.com/sanjo/en

Pillow rack - find it next to the elevator 

Apart from the interior and exterior of the hostel, I also fell in love with its neighborhood. It well located in the middle of city center, it is near to Teramachi shopping street and Nishiki Food market. Along the Sanjo Dori you will also find some local brand good stores.
  
If next time you come to visit Kyoto, I recommended you to stay at this hostel. I had a good time in this hostel and I am sure you will too.


Piece Hostel Sanjo
604-8074 531, Asakuro-cho, Nakagyo-ku, Kyoto City
Ph (+81)75 - 746-3688
sanjo@piecehostel.com
Share
Tweet
Pin
Share
29 comments
Older Posts

Pages

  • Home
  • About Me
  • Portfolio

HELLO

HELLO

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...
  • Mengajukan Visa Turis Dubai (UAE) Via VFS
    Karena ada beberapa teman sempat menanyakan perihal pengajuan visa ke Uni Emirat Arab, terutama Dubai, akhirnya saya coba buat artikel ...
  • [ Hotel Review ] Black Bird Hotel Bandung
    Being born and raised in Bandung (even if only for 7 years of my life), I’ve grown to call this city my home. But like many other people wh...
  • [ Hotel Review ] Oliver's Hostelry - Ciumbuleuit, Bandung
    Pernah ga mampir ke sebuah kota hanya gara-gara penasaran sama penginapan yang baru soft opening? I just did. Beberapa teman malah ...
  • [ Hostel Review ] A Piece of Modern in Kyoto, at Piece Hostel Sanjo
    They say if you want to feel the traditional way of Japan, you should visit Kyoto. Yes I did, but instead staying in traditional Ryokan...
  • Sepedaan Keliling Sydney Pake Bike Sharing Apps
      Obike - Bike sharing apps Pertengahan tahun 2017, Sydney kedatangan beberapa Bike Sharing Apps yang sebelumnya sudah lebih dulu ter...
  • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
    Bukan Meidi namanya kalo jalan-jalannya minggu lalu kemudian artikel review hotelnya terbit di minggu setelahnya, hihihih begitu juga untuk ...
  • [ Hostel Review ] 5 Footway.inn Bugis Project - Singapore
    5footway.inn Project Bugis Beberapa kali berkunjung ke negara tetangga, Singapura, saya selalu menginap di hostel, bukannya anti Hotel...
  • Cantiknya Musim Semi di Sydney
    Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai m...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  May (1)
      • [ Hotel Review ] Hotel Mustard Asakusa 2, Tokyo
  • ►  2020 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (45)
    • ►  December (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (7)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (7)
    • ►  August (9)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2014 (36)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (59)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (7)
    • ►  August (6)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  December (7)
    • ►  November (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

Popular Posts

  • The Choc Pot, Sydney CBD
    Here we go again for another restaurant and cafe adventure in heart of Sydney. I can do cafe hopping most of the time back then in Jakarta ...
  • Kura-Kura Bus: A New Way to Travel in Bali
    My Turtle Bus - Kura-Kura Bus Two weeks ago, Sharon and I were travelling to Bali for around a week. Since we can't drive motorc...

footer social

Followers

Blog Hits

Indonesian Travel Blog

  • .: adie DOES :.
    Sendirian di Uchisar Castle
    6 years ago
  • awanderlustdiary.com
    Penitipan Koper di Amsterdam Centraal Station
    6 years ago
  • Backpackology
    Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia
    7 years ago
  • Because Normal People Will Like Traveling
    Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
    9 months ago
  • Blog Terkini @ wisatakeren.com
    Blog: Road Trip Surabaya Bali Episode 2
    3 years ago
  • Catatan Perjalananku
    Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
    2 years ago
  • Chocky Sihombing
    Kalender dan Libur Nasional 2020
    6 years ago
  • D'Cat Queen
  • dananwahyu.com
    Podcast – Alhamdulilah Umroh Mandiri Cuma 13 Juta Rupiah Saja!
    3 months ago
  • Eat│Play│Repeat
    Bunc@Radius, Little India [CLOSED]
    12 years ago
  • helterskelter
    Home Credit: Solusi Kebutuhan Gadget bagi Content Creator (Plus Tips Editing Video)
    4 years ago
  • Jalan2Liburan
    Spring Trip to Tunisia, North Africa. Akhirnya Traveling ke Negara Baru Lagi!
    4 years ago
  • Jejak BOcahiLANG
    Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
    10 years ago
  • Jejak Kaki
    Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)
    7 years ago
  • Littlenomadid -Indonesian Travel Blogger
    Getting to Togean Islands and Travel Information
    9 years ago
  • Males Mandi
    Review Dewpre Deep Sea Probiotics Serum: Serum dengan Kandungan dari Dasar Air Laut untuk Melembabkan dan Memperbaiki Skin Barrier
    9 months ago
  • Mari Melantjong!
    Takeru Satoh Dari Baris Ketiga
    5 months ago
  • Mollyta Mochtar
    Keseruan di Genting SkyWorlds, Wahana Permainan Terpadu bagi Keluarga
    3 years ago
  • My Salad Days
    Reaching the Peak of Bali - Pura Ulun Danu Bratan
    11 years ago
  • My Time Capsule
    Myanmar: Chasing Sunrise In Bagan
    7 years ago
  • Noerazhka
    Jepara Marina Beach, Oase di Tepian Teluk Awur ..
    10 years ago
  • PAPER LINE
    Kilas Balik 2025, Tahun Penuh Pelajaran
    3 months ago
  • Perjalanan Tak Berujung
    Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
    9 years ago
  • PLAY WITH ME
    Bunga Penutup Abad
    9 years ago
  • Sharon Travelogue
    Glamping di Richland Bali + Jalan-Jalan di Bedugul
    4 years ago
  • tesyasblog
    Liburan ke Busan: Mengunjungi Gamcheon Village
    8 months ago
  • The TraveLearn
    Itinerary 2 Minggu di Amerika Serikat & Inggris
    1 day ago
  • The Traveling Cows
    Itinerari 10 Hari Perjalanan ke Oman
    6 years ago
  • the-rubyslippers
    Kats in Korea
    12 years ago
  • Traveling Precils
    7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik
    9 years ago
  • TRIP TO TRIP
    Nyebur ke Sungai Nagatoro
    9 years ago
  • Usemayjourney
    Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah
    8 years ago
  • Wonder Tripper
    Power Women in Travel: Interview with Deanna Ting
    8 years ago

Instagram Feed

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates